Blog Pengamatan Lapangan dari Perspektif Fisika Bangunan
Iklim → Alam → Manusia → Budaya → Arsitektur → Pemandangan Kota
Jelajahi pengamatan dunia nyata melalui sudut pandang fisika bangunan.
Dari iklim dan alam hingga perilaku manusia, budaya, arsitektur, dan lanskap perkotaan, temukan bagaimana kondisi lingkungan membentuk kinerja, kenyamanan, keberlanjutan, serta pengalaman dari lingkungan terbangun.
Menikmati Penampilan Jose Carreras dan Maria Luigia Borsi di Gedung Opera Guangzhou
Jose Carreras di Gedung Opera Guangzhou bersama soprano Maria Luigia Borsi dan Orkestra Simfoni Guangzhou
Menyaksikan Konser Akhir Tahun bersama Tenor Jose Carreras, Soprano Maria Luigia Borsi, dan Orkestra Simfoni Guangzhou di Gedung Opera Guangzhou
Desain ini berkembang dari konsep lanskap alam dan interaksi yang memukau antara arsitektur dan alam; dengan mengacu pada prinsip-prinsip erosi, geologi, dan topografi. Desain Gedung Opera Guangzhou karya Zaha Hadid Architects sangat dipengaruhi oleh lembah-lembah sungai—serta cara lembah-lembah tersebut berubah akibat erosi.
Auditorium Gedung Opera yang berkapasitas 1.800 kursi dilengkapi dengan teknologi akustik terkini yang dirancang oleh Marshall Day Acoustic. Aula multifungsi yang lebih kecil dengan kapasitas 400 kursi dirancang untuk pertunjukan seni, opera, dan konser dengan tata letak panggung melingkar.
Menikmati Keindahan yang Beragam di Aula Simfonia Jakarta - SMAN 3 Bandung: Konser Orkestra Angklung ke-8
Akustik Ruang Konser untuk Pertunjukan Orkestra
Pada tanggal 20 Maret 2010, Kelompok Angklung dari SMAN 3 Bandung atau yang sering disebut KPA3 menyelenggarakan Konser Orkestra Angklung yang kedelapan. Konser ini bertajuk “Tapestry of Beauty – Memperkenalkan Para Maestro dari Seluruh Dunia”. Sesuai dengan temanya, konser ini menampilkan lagu-lagu indah yang diciptakan oleh para komposer terkemuka dunia serta komposer asal Indonesia. KPA3 berharap konser ini dapat menjadi salah satu penampilan utama untuk menunjukkan hasil inovasi mereka selama lebih dari 30 tahun.
Tujuan mereka adalah menggelar konser di Aula Simfonia Jakarta agar penonton dapat menikmati suara asli angklung tanpa bantuan alat penguat suara elektronik seperti mikrofon, amplifier, dan pengeras suara. Pasalnya, sejauh ini mereka belum terlalu puas dengan kualitas akustik di teater tempat mereka tampil sebelumnya. Kualitas akustik gedung yang di bawah rata-rata dapat membuat pertunjukan angklung menjadi pertunjukan yang sangat sulit dinikmati oleh penonton.
Analisis dan Penilaian Sumber Suara
Dalam membahas latar belakang teknis sumber suara atau desain orkestrasi angklung, saya menggunakan contoh musik dari buku referensi teknis berjudul *Introduction to Materials and Structure of Music* karya William dan Richard DeLone.
Kategori Alat Musik
Berdasarkan empat kategori alat musik yang disebutkan di atas, yaitu: alat musik gesek, alat musik tiup kayu, alat musik perkusi, dan alat musik elektronik. Sedangkan alat musik yang terdapat dalam orkestra ini adalah: angklung, kontrabas, bass drum, snare drum, timpani, xilofon, bell lyra, kastanet, dan segitiga.
Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional Jawa Barat yang terbuat dari bambu. Suara angklung timbul akibat getaran udara di dalam rongga resonansi bambu yang disebabkan oleh benturan. Nada (tinggi suara) yang dihasilkan oleh angklung ditentukan oleh panjang bambu yang pendek dan diameter bambu yang besar.
Durasi bunyi angklung ditentukan oleh panjang atau pendeknya ayunan angklung. Sedangkan kekuatan atau kelemahan (kekerasan) bunyi angklung ditentukan oleh seberapa kuat atau lemahnya angklung digoyangkan. Dari segi teknik pembunyiannya, alat musik angklung dapat dikategorikan ke dalam kelompok alat musik perkusi.
Biola Bas
Biola bass atau yang sering kita sebut sebagai kontrabas. Menurut kamus *The Concise Oxford Dictionary of Music*, penyebutan “kontrabas” tidak tepat karena, menurut definisi yang benar, alat musik kontrabas dimainkan satu oktaf lebih rendah.
Biola bass sering disebut sebagai “viola da gamba” atau “fiddle-footed” karena memiliki kaki dan dimainkan dengan kaki. Biola bass termasuk dalam kategori alat musik gesek.
Drum
Untuk melengkapi lapisan perkusi atau ritme dalam orkestra angklung, digunakan alat musik seperti bass drum, snare drum, hi-hat, simbal, dan timpani. Alat-alat musik tersebut termasuk dalam keluarga alat musik perkusi. Bass drum, snare drum, dan timpani terbuat dari kulit yang diregangkan di atas badan berongga yang terbuat dari kayu atau logam. Sedangkan hi-hat dan simbal terbuat dari logam berbentuk lingkaran.
Xilofon
Xilofon adalah alat musik yang terbuat dari batang kayu atau logam dengan nada yang telah disetel sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Cara memainkan alat musik ini adalah dengan memukulnya menggunakan pemukul.
Lyra Bell
Lyra Bell adalah versi portabel dari alat musik Glockenspiel. Cara memainkannya adalah dengan memegang alat musik tersebut dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain memegang pemukul. Sama halnya dengan xilofon, alat musik ini termasuk dalam kategori alat musik perkusi.
Castanet
Castanet termasuk dalam kategori alat musik perkusi yang terbuat dari dua potong kayu yang diletakkan di telapak tangan.
Segitiga
Segitiga adalah alat musik perkusi yang terbuat dari logam. Sesuai dengan namanya, alat musik ini dimainkan dengan memukulnya menggunakan tongkat. Segitiga digunakan oleh para komposer untuk menandai akhir dari sebuah frasa musik.
Tekstur Musik
Menurut buku *Pengantar Bahan dan Struktur Musik*, definisi tekstur musik adalah interaksi di antara beberapa instrumen yang disusun dalam lapisan-lapisan, seperti lapisan melodi, lapisan akord, lapisan bass, dan perkusi. Selain itu, tekstur juga ditentukan oleh aspek kuantitas dan kualitas. Aspek kuantitas berkaitan dengan jumlah alat musik dalam suatu kelompok, sedangkan aspek kualitas berkaitan dengan timbre alat musik. Kombinasi kedua aspek ini menghasilkan bunyi yang bersifat monofonik, homofonik, atau polifonik.
Dalam permainan monofonik, satu melodi dihasilkan oleh satu alat musik. Dalam permainan homofonik, satu melodi dihasilkan oleh sekelompok alat musik. Polifonik adalah permainan melodi, harmoni, dan ritme yang dihasilkan oleh lebih dari satu alat musik.
Kesimpulan Analisis Sumber Suara
Jika kita menganalisis aspek kualitas dari aransemen angklung ini, maka kita dapat melihat bahwa hampir semua instrumen yang ada, termasuk keluarga instrumen perkusi, tergolong dalam keluarga instrumen gesek bass.
Gambar berikut ini merupakan komposisi tekstur gambar orkestrasi angklung KPA3 di gedung Aula Simfonia Jakarta.
Evaluasi Penampilan Musik
Konser ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama menampilkan karya-karya komposer dunia musik klasik seperti Beethoven, Dvořák, Strauss, dan lainnya. Kemudian, bagian kedua menampilkan karya-karya klasik modern dari John Williams, Andrew Lloyd Webber, dan Verdi. Dan bagian terakhir adalah bagian ketiga yang menampilkan musik dari komposer seperti Eros Jarot dari Indonesia dan Thunder Sukarno Son. Bagian pertama konser ini dipimpin oleh Djiwa Tanuwijaya, MD, sedangkan bagian kedua dan ketiga dipimpin oleh Miriam Wedyawari.
Konser dibuka dengan lagu karya Karl Jenkins berjudul “Palladio” dengan tempo Allegretto, atau dalam bahasa Indonesia berarti “cukup cepat”. Lagu ini terdiri dari beberapa lapisan aransemen. Lapisan pertama adalah melodi utama yang diiringi oleh melodi-melodi harmonis yang dimainkan oleh alat musik angklung. Lapisan kedua adalah lapisan akord yang dimainkan oleh alat musik angklung. Lapisan ketiga adalah lapisan yang diisi oleh bass biola. Lapisan keempat adalah lapisan yang diisi oleh instrumen perkusi seperti bass drum, snare drum, dan triangle.
Lapisan melodi dalam lagu ini dimainkan oleh angklung satu oktaf lebih rendah daripada komposisi asli lagu ini. Hal ini menyebabkan nada-nada lapisan melodi sering kali menyatu dengan nada-nada akord. Akibatnya, saya agak kesulitan membedakan antara lapisan melodi dan lapisan akord.
Hal kedua adalah tempo dan ritme permainan yang terkadang terdengar kurang padat dan kurang bertenaga sesuai arahan konduktor.
Tekstur musik atau perpaduan timbre instrumen dalam konser ini masih kurang serasi. Contohnya, suara bass drum yang tidak selaras dengan angklung. Kemudian, saat konser angklung berkolaborasi dengan suara musik tenor dan soprano, integrasi antara suara musik dan vokal tersebut kurang harmonis.
Analisis dan Evaluasi Ruangan
Proyek Aula Simfonia Jakarta dimulai pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2009. Bangunan ini dirancang oleh Pastor Stephen Tong agar Indonesia dapat menyelenggarakan konser dan kelas musik klasik berskala internasional. Aula Simfonia memiliki kapasitas sebanyak 1.227 kursi atau 1.400 orang yang dapat menyaksikan para musisi di atas panggung. Desain arsitektur Aula Simfonia Jakarta mengadopsi gaya Renaisans dengan warna kayu, putih, dan emas.
Area Duduk
Berikut ini adalah denah area tempat duduk yang terdiri dari dua tingkat, yaitu lantai dasar dan balkon. Gambar di bawah ini menunjukkan tata letak tempat duduk di lantai dasar.
Selain itu, gambar berikut ini menunjukkan tata letak tempat duduk di balkon, yang terdiri dari balkon depan, balkon belakang, balkon sayap kiri, balkon sayap kanan, serta tempat duduk di depan panggung.
Secara keseluruhan, kursi penonton terbuat dari kayu sintetis berwarna cokelat. Dilengkapi dengan kaki kursi yang dapat disesuaikan ketinggiannya.
Tiket dijual dengan empat kategori harga yang disesuaikan dengan lokasi tempat duduk. Harga tiket termahal adalah tiket balkon di depan panggung. Disusul oleh balkon sayap kiri dan kanan. Selanjutnya adalah tempat duduk di lantai dasar yang menghadap panggung. Harga termurah adalah untuk tempat duduk di balkon yang terletak di bagian belakang panggung.
Panggung
Pada gambar di bawah ini, kita dapat melihat panggung yang didirikan di tengah ruangan-ruangan berwarna putih dengan material kayu.
Dinding
Selain itu, jika kita melihat ke atas, kita dapat melihat bahwa dinding tersebut terbagi menjadi dua bagian. Bagian bawah dinding berwarna cokelat dan terbuat dari bahan kayu sintetis. Sedangkan bagian atas dinding berwarna putih, dengan sebuah ceruk yang di dalamnya terdapat panel penyerap suara berwarna merah. Di depan setiap ceruk, terdapat patung dan lukisan para komposer terkenal dunia yang terbuat dari batu.
Langit-langit
Terakhir, kita sampai pada bagian langit-langit—langit-langit ini dirancang berbentuk persegi panjang yang tersusun berundak dengan tiga tingkat. Bagian atas langit-langit berwarna putih terbuat dari gipsum, sedangkan bagian bawahnya terbuat dari kayu berwarna cokelat. Celah antara kayu dan gipsum berupa lubang-lubang—lubang-lubang tersebut berfungsi untuk menyalurkan aliran udara yang digunakan oleh sistem pendingin ruangan.
Evaluasi Parameter Akustik Subjektif Saya
Penilaian kualitas akustik untuk konser angklung ini didasarkan pada posisi tempat duduk saya yang berada di belakang panggung. Penilaian saya dapat berubah jika saya duduk di tempat yang berbeda dan menyaksikan pertunjukan musik yang berbeda.
Suara di Ruangan
Saya menilai tingkat kebisingan di ruang konser tersebut cukup memadai. Penilaian ini didasarkan pada pengamatan saya terhadap kebisingan yang ditimbulkan oleh saluran AC yang nyaris tak terdengar, serta kebisingan gangguan dari luar ruangan yang juga tidak terdengar saat konser berlangsung.
Kekerasan Suara
Kualitas suara saat saya mendengarkan dalam posisi duduk terdengar sangat bagus. Saya dapat mendengarkan setiap—setiap instrumen dengan volume yang cukup tinggi. Sayangnya, pertunjukan musik angklung dalam konser bukanlah jenis pertunjukan yang menonjolkan perbedaan dinamika yang ekstrem. Jadi, saya tidak bisa memberikan penilaian mengenai tingkat volume rendah dan tinggi.
Kejelasan
Kejernihan adalah istilah akustik yang digunakan untuk membandingkan antara suara langsung dengan suara pantulan yang didengar. Saya duduk di posisi di mana saya merasakan suara langsung jauh lebih dominan daripada suara pantulan dan gema ruangan.
Gema
Waktu gema di Aula Simfonia Jakarta—atau yang sering disebut sebagai waktu gema—terasa agak singkat, meski tidak sepenuhnya bisa dikatakan singkat. Tampaknya waktu gema di ruangan tersebut tidak sama panjangnya pada semua frekuensi. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara karakter waktu gema pada frekuensi rendah, menengah, dan tinggi. Dengan waktu gema yang relatif singkat, konser angklung ini terasa kurang megah. Perpaduan suara ansambel angklung dengan instrumen lain seperti bass drum dan snare drum terdengar kurang harmonis.
Kehangatan & Kecerahan
Nada musik yang saya dengar cenderung “cerah”, sedangkan alat musik seperti xilofon dengan frekuensi tinggi terdengar jernih dan transparan. Suara musik dengan frekuensi menengah yang didominasi oleh alat musik angklung terdengar kurang kaya harmoni, suara badan angklung terdengar teredam, dan bunyi ketukan angklung terasa agak kering dan hambar. Suara alat musik dengan frekuensi rendah seperti biola bass terdengar jelas dan terdefinisi dengan baik. Namun, suara bass drum dan timpani yang rendah terdengar kurang bertenaga dan kurang menarik.
Keintiman
Intimasi atau selisih waktu antara suara langsung dengan suara pantulan awal. Ansambel angklung yang dimainkan dengan durasi yang agak panjang terdengar seperti gumaman. Hal ini mungkin terjadi karena suara angklung dan suara pantulan awalnya menumpuk di sekitar panggung.
Kesan lapang
Kesan ruang adalah sensasi yang timbul akibat perbedaan suara pantulan awal yang didengar oleh telinga kiri dan telinga kanan. Kesan ruang di posisi duduk saya tidak terlalu terasa.
Pengepungan
Efek pembungkus adalah perbedaan gema yang diterima oleh telinga kiri dan kanan. Efek pembungkus di ruangan ini juga kurang terasa.
Pencampuran
Perpaduan antara suara-suara musik di ruangan ini kurang menarik karena parameter gema sangat minim, sedangkan suara langsung dan pantulan awal justru mendominasi.
Kesimpulan
Berkat kemampuan orkestrasinya, Angklung KPA3 mampu memainkan komposisi musik yang cukup rumit; dapat dikatakan bahwa orkestrasi angklung Angklung KPA3 adalah yang terbaik di Indonesia. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, seperti tekstur musik yang lebih harmonis serta latihan untuk mencapai ritme musik yang lebih kompak dan mengalir. Menurut saya, karakter akustik Aula Simfonia Jakarta kurang cocok dengan konser angklung ini.
Aula Simfonia Jakarta memiliki karakter akustik yang didominasi oleh suara langsung dan pantulan awal. Adapun mengenai gema suara, parameternya minimal dan agak pendek, dengan karakter suara ruangan yang cenderung cerah. Aula Simfonia Jakarta mungkin merupakan salah satu gedung konser terbaik di Indonesia karena di Indonesia tidak banyak teater yang mengadopsi konsep suara langsung. Hanya saja, terdapat beberapa parameter akustik yang masih belum terlalu optimal. Menurut saya, Aula Simfonia perlu melakukan penilaian ulang terhadap parameter-parameter akustik yang disebutkan di atas untuk mencapai kualitas akustik yang lebih baik lagi.
Saya menulis artikel ini dari sudut pandang seorang konsultan akustik sekaligus sebagai pencinta musik. Saya harap artikel ini bermanfaat bagi para pencinta musik klasik dan pencinta musik angklung.