Portofolio Karya
Desain Pencahayaan Fasad Arsitektural untuk Plaza Mandiri Jakarta
Desain pencahayaan fasad untuk Plaza Mandiri — kini Wisma Danantara — yang memadukan identitas korporat, peran sebagai landmark perkotaan, tanggung jawab lingkungan, serta kinerja pencahayaan arsitektural yang dapat diukur di kawasan SCBD, Jakarta.
Bagaimana Kami Menerjemahkan Visi Desain Menjadi Pencahayaan Fasad yang Dapat Diukur dan Berbasis Kinerja untuk Plaza Mandiri (Kini Wisma Danantara Jakarta)
Bagi kami, desain pencahayaan fasad bukan sekadar membuat sebuah bangunan tampak indah di malam hari. Desain ini merupakan sarana untuk membentuk identitas perusahaan, menegaskan kehadiran di ruang kota, dan menyampaikan peran bangunan tersebut di dalam kota setelah matahari terbenam.
Dalam proyek Plaza Mandiri — yang kini dikenal sebagai Wisma Danantara — pendekatan desain pencahayaan dikembangkan berdasarkan identitas korporat itu sendiri dan diwujudkan menjadi kinerja arsitektural yang dapat diukur melalui empat prinsip utama.
Memperkuat Identitas Perusahaan Bank Mandiri
Sebagai kantor pusat bank milik negara terbesar di Indonesia, tata pencahayaan dirancang untuk menonjolkan kewibawaan, stabilitas, dan citra kelembagaan.
Alih-alih mengandalkan kecerahan yang berlebihan, pencahayaan fasad dirancang dengan cermat untuk menciptakan kesan malam hari yang elegan dan berwibawa, yang mencerminkan nilai-nilai perusahaan tersebut.
Desain ini menekankan hierarki visual, proporsi, dan tingkat kecerahan yang terkendali untuk memperkuat identitas bangunan tersebut dalam cakrawala kota Jakarta.
Fasad sebagai Sarana Komunikasi Arsitektural
Fasad tersebut tidak hanya dipandang sebagai permukaan arsitektural, tetapi juga sebagai sarana komunikasi.
Sistem pencahayaan ini dirancang untuk mendukung skenario pencahayaan baik yang statis maupun dinamis, sehingga memungkinkan integrasi branding, pesan perusahaan, dan pencahayaan acara khusus tanpa mengorbankan keutuhan arsitektur bangunan.
Pendekatan ini memungkinkan menara tersebut tetap fleksibel untuk strategi pemasaran dan revitalisasi perkotaan di masa depan, sekaligus menjaga keselarasan visual.
Membangun Landmark di Kawasan SCBD
Terletak di kawasan bisnis SCBD yang terkenal di Jakarta, proyek ini bertujuan untuk membangun identitas malam hari yang kuat sekaligus menghindari dominasi visual yang tidak perlu terhadap lingkungan sekitarnya.
Desain pencahayaan ini secara cermat menyeimbangkan visibilitas dan kepekaan terhadap konteks, sehingga memungkinkan bangunan tersebut menjadi landmark perkotaan yang mudah dikenali tanpa menimbulkan kekacauan visual yang berlebihan atau persaingan yang agresif dalam siluet kota.
Hasilnya adalah tampilan fasad yang terasa ikonik, elegan, dan selaras secara kontekstual dengan lingkungan perkotaan di malam hari.
Tantangan Lingkungan Perkotaan pada Malam Hari
Salah satu tantangan utama seputar proyek ini adalah lingkungan pencahayaan malam hari yang semakin padat di kawasan SCBD, Jakarta.
Lingkungan perkotaan di sekitarnya terdiri dari menara perkantoran bertingkat tinggi, kawasan komersial, fasad media digital, penerangan jalan, dan elemen arsitektur yang diterangi, yang secara keseluruhan berkontribusi terhadap meningkatnya kecerahan lingkungan dan kepadatan visual pada malam hari.
Di kawasan bisnis yang sangat terang, pencahayaan fasad dapat dengan mudah menjadi berlebihan, mengganggu secara visual, dan merusak lingkungan ketika gedung-gedung saling berlomba menarik perhatian melalui kecerahan yang tidak terkendali.
Kondisi ini mungkin berkontribusi terhadap:
Kelelahan mata
Silau yang berlebihan
Hilangnya hierarki arsitektural
Cahaya langit dan polusi cahaya perkotaan
Penurunan kualitas lingkungan pada malam hari
Gangguan terhadap penghuni di sekitarnya dan ekosistem
Oleh karena itu, tantangan bagi Plaza Mandiri bukanlah sekadar membuat bangunan tersebut lebih terang, melainkan menciptakan identitas pencahayaan fasad yang tetap elegan, mudah dikenali, dan ramah lingkungan di tengah lingkungan malam hari yang sudah begitu padat.
Proses Desain yang Dapat Diukur dan Berbasis Kinerja
Proses pengembangan pencahayaan ini menggabungkan evaluasi arsitektur kualitatif dengan analisis pencahayaan kuantitatif untuk memastikan bahwa keputusan desain bersifat efektif secara visual dan dapat diukur secara teknis. Berikut ini adalah proses desain tiga langkah kami:
Analisis Cahaya Lingkungan pada Malam Hari
Pengukuran tingkat lux awal dilakukan untuk memahami kondisi pencahayaan malam hari di sekitar lokasi serta tingkat kecerahan perkotaan secara kontekstual.
Evaluasi Pemetaan Warna Palsu
Pemetaan luminansi warna palsu digunakan untuk mengevaluasi distribusi kecerahan fasad, hierarki visual, dan keseimbangan pencahayaan di seluruh permukaan arsitektural.
Validasi Visual 3D
Rendering tiga dimensi dan simulasi dikembangkan untuk memvalidasi dampak visual, persepsi arsitektural, dan integrasi perkotaan dari konsep pencahayaan tersebut sebelum diterapkan.
Tanggung Jawab Lingkungan dan Kesejahteraan di Malam Hari
Tanggung jawab lingkungan menjadi bagian penting dari strategi desain.
Proyek ini mengkaji dampak pencahayaan buatan terhadap kesehatan manusia, kenyamanan visual, dan ekosistem perkotaan pada malam hari melalui pengaturan tingkat pencahayaan dan upaya pengurangan polusi cahaya yang tidak perlu.
Pendekatan desain tersebut berfokus pada:
Tingkat luminansi yang terkendali
Pengurangan silau
Kecerahan fasad yang seimbang
Pembatasan penyebaran cahaya ke atas
Kenyamanan penglihatan di malam hari yang lebih baik
Pengurangan gangguan terhadap lingkungan
Alih-alih memaksimalkan tingkat kecerahan, pencahayaan fasad dikalibrasi untuk mencapai efektivitas visual dengan mempertimbangkan kepekaan terhadap lingkungan.
Metodologi ini mendukung terciptanya lingkungan penerangan perkotaan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada manusia.
Desain Pencahayaan yang Sesuai dengan Konteks, Dapat Diukur, dan Relevan
Pendekatan ini memastikan bahwa pencahayaan fasad tidak hanya mencolok secara visual, tetapi juga selaras dengan konteksnya, dapat diukur, dan relevan dengan tanggung jawabnya dalam hal arsitektur, perkotaan, dan lingkungan.
Dengan memadukan desain pencahayaan arsitektural dengan identitas korporat, kepekaan terhadap lingkungan perkotaan, dan kinerja lingkungan, proyek Plaza Mandiri (Wisma Danantara) menunjukkan bagaimana pencahayaan fasad dapat menjadi instrumen desain strategis yang membentuk citra kota sekaligus pengalaman manusia di malam hari.
Desain Pencahayaan Ibadah untuk Arsitektur Sakral Katedral Makassar
Strategi desain pencahayaan ibadah yang berpusat pada manusia untuk Katedral Makassar, yang memadukan fungsi liturgi, suasana sakral, pencahayaan arsitektural, dan kenyamanan visual guna meningkatkan pengalaman spiritual dalam proyek renovasi katedral kontemporer.
Gambaran Umum Proyek
Selama berabad-abad, gereja dan katedral telah memanfaatkan cahaya sebagai unsur praktis sekaligus simbolis dalam ibadah. Selain memberikan penerangan, cahaya turut membentuk persepsi emosional, memperkuat simbolisme liturgi, dan menciptakan rasa keterikatan antara jemaat dan lingkungan suci.
Renovasi Katedral Makassar menjadi kesempatan untuk meninjau kembali bagaimana pencahayaan dapat mendukung ibadah kontemporer sekaligus tetap menghormati identitas arsitektural salah satu landmark Katolik terpenting di kota tersebut. Proyek ini berfokus pada peningkatan pengalaman visual dalam liturgi, menonjolkan keindahan arsitektur katedral, serta menciptakan lingkungan ibadah yang lebih kontemplatif dan memikat secara spiritual.
Tantangannya
Arsitektur katedral ini ditandai dengan langit-langit berkubah kayu yang megah, lengkungan bergaya Gotik, jendela kaca patri, serta titik-titik fokus liturgi yang menonjol. Meskipun unsur-unsur ini memiliki karakter arsitektural yang kuat, dampak visualnya dapat berkurang tanpa adanya strategi pencahayaan yang dirancang secara cermat.
Tantangannya bukan sekadar meningkatkan tingkat kecerahan. Sebaliknya, desain tersebut harus menyeimbangkan berbagai tujuan:
Memenuhi kebutuhan visual untuk ibadah dan perayaan liturgi.
Menampilkan keindahan arsitektur struktur atap kayu.
Menciptakan hierarki visual yang tepat antara jemaat dan altar.
Meningkatkan persepsi akan ruang suci.
Meningkatkan kenyamanan visual sekaligus meminimalkan silau.
Menjaga suasana yang hangat dan ramah dalam ibadah sehari-hari.
Pendekatan Desain Pencahayaan
Desain pencahayaan ini dikembangkan melalui pendekatan yang berpusat pada manusia dan mengacu pada aspek-aspek liturgi.
Alih-alih memperlakukan katedral sebagai ruang yang diterangi secara seragam, desain ini berfokus pada penciptaan lapisan-lapisan cahaya yang mendukung baik arsitektur maupun pengalaman beribadah. Perhatian khusus diberikan pada hubungan antara pencahayaan ambient, pencahayaan arsitektural, dan pencahayaan fokus liturgi.
Langit-langit berkubah dari kayu tersebut diakui sebagai ciri arsitektur paling khas dari katedral tersebut. Pencahayaan tidak langsung yang dirancang dengan cermat digunakan untuk menonjolkan geometri, kedalaman, dan keahlian pengerjaan struktur atap, sekaligus menjaga kenyamanan visual dan meminimalkan silau.
Strategi pencahayaan tersebut juga memperkuat alur visual alami dari area jemaat menuju ruang ibadah, altar, salib, dan perlengkapan liturgi.
Strategi Kinerja yang Berorientasi pada Manusia
Pencahayaan dalam arsitektur suci tidak hanya memengaruhi visibilitas. Hal ini juga memengaruhi cara jemaah memandang ruang, memusatkan perhatian, merasakan emosi, dan berdoa.
Desain tersebut mempertimbangkan bagaimana orang-orang:
Masuk dan menyesuaikan diri di dalam katedral.
Berpartisipasi dalam ibadah dan perayaan liturgi.
Nikmati momen-momen berdoa dan merenung.
Pahami skala arsitektur dan simbolisme sakral.
Jalin hubungan emosional dengan lingkungan liturgi.
Keseimbangan antara cahaya dan bayangan yang diatur dengan cermat digunakan untuk menciptakan suasana khusyuk dan kedalaman ruang. Dengan menghindari kecerahan yang berlebihan serta menjaga hierarki visual, pencahayaan ini mendukung suasana kontemplasi sekaligus memastikan unsur-unsur liturgi utama tetap menonjol secara visual.
Suasana yang tercipta tersebut mendorong pengalaman beribadah yang terasa tenang, khusyuk, dan bermakna secara spiritual.
Integrasi Desain
Desain pencahayaan tersebut diintegrasikan secara erat dengan arsitektur, liturgi, dan teknologi bangunan.
Strategi desain utama meliputi:
Penerangan tidak langsung pada langit-langit berkubah dari kayu untuk menonjolkan bentuk arsitektural dan kemegahan ruang.
Pencahayaan vertikal pada kolom dan lengkungan untuk memperkuat nuansa Gotik pada interior.
Pencahayaan fokus liturgi untuk memperkuat perhatian ke arah ruang suci dan altar.
Penyajian warna berkualitas tinggi untuk menonjolkan tekstur bahan alami dan detail kaca patri.
Lampu dengan pengaturan silau untuk meningkatkan kenyamanan penglihatan selama ibadah.
Teknologi LED hemat energi untuk mendukung tujuan keberlanjutan dan pemeliharaan jangka panjang.
Sistem pengendalian pencahayaan yang fleksibel untuk menyesuaikan dengan berbagai perayaan liturgi dan situasi ibadah.
Pendekatan terpadu ini memastikan bahwa pencahayaan turut mendukung apresiasi arsitektur, fungsi liturgi, dan pengalaman manusia secara bersamaan.
Dampak Desain Pencahayaan
Strategi pencahayaan dalam renovasi tersebut telah mengubah katedral menjadi lingkungan ibadah yang secara visual lebih serasi dan secara spiritual lebih memikat.
Langit-langit kayu yang diterangi kini menjadi elemen arsitektur yang menonjol, menonjolkan keahlian pengerjaan dan kesan vertikalitas ruang tersebut. Kontras dan hierarki visual yang diatur dengan cermat mengarahkan perhatian ke arah ruang suci sekaligus mempertahankan suasana hangat dan ramah di seluruh ruang utama gereja.
Alih-alih bersaing dengan arsitekturnya, pencahayaan justru berpadu secara harmonis dengannya—mendukung kegiatan ibadah, memperkuat suasana sakral, serta mempererat ikatan emosional antara manusia, arsitektur, dan keyakinan.
Proyek ini menunjukkan bagaimana desain pencahayaan ibadah yang cermat dapat meningkatkan pengalaman liturgi sekaligus persepsi arsitektural, sehingga memastikan bahwa Katedral Makassar tetap berfungsi sebagai tempat berdoa, berkumpul, dan sumber inspirasi spiritual bagi generasi mendatang.
Konsultasikan Proyek Desain Pencahayaan Anda
ALTA Integra is a Building Science and Technology consultancy dedicated to creating human-centered environments through evidence-based design. By studying the relationship between light, sound, space, technology, and human emotion, we help transform buildings into places that inspire wellbeing, strengthen identity, emotional support space, and dedicated for a more sustainable future.
Baik Anda sedang merancang tempat ibadah, bangunan bersejarah, destinasi pariwisata, tempat kerja, fasilitas pendidikan, maupun ruang publik, layanan konsultasi pencahayaan kami membantu mewujudkan visi desain menjadi pengalaman visual, emosional, dan lingkungan yang bermakna.
Desain Pencahayaan Fasad Suci Katedral Makassar
Desain pencahayaan fasad arsitektural untuk Gereja Katedral Makassar berfokus pada penciptaan identitas malam yang sakral melalui pencahayaan yang berorientasi pada manusia, hierarki visual, kepekaan terhadap lingkungan, dan suasana arsitektural yang kontemplatif.
Gambaran Umum Proyek
Desain pencahayaan fasad suci untuk Gereja Katedral Makassar dirancang untuk memperkuat identitas malam hari salah satu landmark keagamaan penting di kota tersebut, sekaligus menghormati karakter spiritual dan nilai arsitektur historis gereja tersebut.
Alih-alih memandang pencahayaan fasad sebagai sekadar elemen dekoratif, proyek ini memandang cahaya sebagai sarana untuk memperkuat suasana sakral, cahaya sebagai sarana komunikasi, serta kehadiran perkotaan setelah gelap.
Desain ini bertujuan untuk menonjolkan keindahan arsitektur katedral secara halus dan penuh penghormatan, sekaligus meningkatkan visibilitas pada malam hari, kenyamanan visual, serta integrasi kontekstual dengan lingkungan perkotaan di sekitarnya.
Tantangannya
Arsitektur keagamaan menghadirkan tantangan pencahayaan yang unik dibandingkan dengan bangunan komersial atau hiburan.
Pencahayaan fasad harus:
Menjaga identitas gereja yang sakral dan kontemplatif
Hindari kecerahan yang berlebihan dan rangsangan visual yang mengganggu
Hormati lingkungan perkotaan di sekitarnya
Menjaga keaslian arsitektur
Tingkatkan visibilitas tanpa menimbulkan silau
Mendukung pengenalan dan navigasi pada malam hari
Di banyak kawasan perkotaan, pencahayaan fasad dapat dengan mudah menjadi terlalu mencolok, terutama jika dipengaruhi oleh pendekatan pencahayaan komersial yang lebih mengutamakan kecerahan daripada suasana dan kepekaan arsitektural.
Bagi sebuah gereja katedral, tantangannya bukanlah untuk menciptakan pemandangan yang memukau, melainkan untuk menghadirkan keagungan, kehangatan, dan kehadiran spiritual melalui cahaya.
Selain itu, proyek tersebut harus mempertimbangkan dampak pencahayaan buatan terhadap warga di sekitarnya, suasana malam perkotaan, serta polusi cahaya lingkungan.
Studi Desain Awal
Studi desain awal kami dimulai dengan memahami bahasa arsitektur dan makna spiritual katedral itu sendiri. Alih-alih menerangi seluruh bangunan secara seragam, komposisi pencahayaan dirancang secara berlapis-lapis dengan cermat untuk menonjolkan:
Hierarki visual
Titik-titik suci
Kedalaman arsitektural
Proporsi vertikal
Tekstur bahan
Strategi pencahayaan ini menekankan penerangan yang terkendali dan penonjolan secara selektif guna mempertahankan karakter fasad gereja yang tenang dan anggun. Pilihan suhu warna yang hangat dipadukan secara cermat untuk menciptakan suasana malam yang ramah dan kondusif bagi kontemplasi, sekaligus menghindari kontras visual yang tajam.
Fasad tersebut diperlakukan sebagai kanvas arsitektural di mana cahaya memperkuat bentuk, ritme, dan simbolisme, alih-alih mendominasi arsitektur itu sendiri.
Strategi Kinerja Pencahayaan yang Berorientasi pada Manusia
Proyek ini menerapkan pendekatan pencahayaan yang berpusat pada manusia, yang mengutamakan kenyamanan visual, persepsi emosional, dan kesejahteraan lingkungan. Alih-alih memaksimalkan tingkat kecerahan, desain ini berfokus pada penciptaan luminansi yang seimbang serta transisi visual yang lembut sehingga terasa nyaman bagi pejalan kaki, jemaah, dan masyarakat sekitar.
Strategi kinerja yang dipertimbangkan:
Kenyamanan visual pada ketinggian pejalan kaki
Pengurangan silau
Distribusi luminansi yang terkendali
Adaptasi penglihatan pada malam hari
Kecerahan kontekstual di area sekitarnya
Kepekaan terhadap lingkungan dan pengurangan penyebaran cahaya
Komposisi pencahayaan telah disesuaikan agar gereja tersebut tetap menonjol secara visual tanpa menimbulkan kecerahan berlebihan di lingkungan perkotaan pada malam hari.
Pendekatan ini mendukung terciptanya suasana spiritual sekaligus kondisi lingkungan malam hari yang lebih sehat.
Studi Integrasi Desain Pencahayaan
Sistem pencahayaan fasad dikembangkan melalui integrasi antara konsep arsitektur, kinerja pencahayaan, dan konteks lingkungan.
Pengembangan desain mencakup:
Analisis fasad arsitektur
Studi kontekstual pada malam hari
Perencanaan hierarki pencahayaan
Optimasi sudut sinar
Evaluasi reflektansi material
Simulasi visual dan validasi rendering
Dengan menyelaraskan penempatan pencahayaan dengan komposisi arsitektural, desain ini meminimalkan kehadiran peralatan yang terlihat sekaligus menjaga keutuhan fasad katedral pada siang hari.
Hasilnya adalah sistem pencahayaan yang terasa menyatu secara arsitektural, bukan sekadar dipaksakan secara teknis.
Dampak Desain Pencahayaan Kami
Desain akhir ini menjadikan Katedral Makassar sebagai landmark malam hari yang megah dan mudah dikenali, sekaligus mempertahankan identitas sakral dan karakter arsitekturalnya. Pencahayaan fasad memperkuat kesan kedalaman, kehangatan, dan kehadiran spiritual tanpa mengandalkan pencahayaan berlebihan atau efek visual yang mencolok.
Melalui metodologi desain yang kontekstual dan berbasis kinerja, proyek ini menunjukkan bagaimana pencahayaan arsitektural tidak hanya dapat mendukung estetika, tetapi juga pengalaman manusia, kepekaan terhadap lingkungan perkotaan, dan tanggung jawab lingkungan. Proyek ini mencerminkan filosofi desain yang lebih luas, di mana pencahayaan menjadi sarana untuk membentuk suasana, identitas, dan arsitektur malam hari yang bermakna.
Konsultasikan Proyek Desain Pencahayaan Anda
ALTA Integra is a Building Science and Technology consultancy dedicated to creating human-centered environments through evidence-based design. By studying the relationship between light, sound, space, technology, and human emotion, we help transform buildings into places that inspire wellbeing, strengthen identity, emotional support space, and dedicated for a more sustainable future.
Baik Anda sedang merancang tempat ibadah, bangunan bersejarah, destinasi pariwisata, tempat kerja, fasilitas pendidikan, maupun ruang publik, layanan konsultasi pencahayaan kami membantu mewujudkan visi desain menjadi pengalaman visual, emosional, dan lingkungan yang bermakna.
Makassar Cathedral: A Preliminary Study of Its Architectural History
Developing a concept design for historical architecture requires a delicate balance between strict preservation and modern performance. This phase is critical: one misstep in building physics can permanently damage a structure's cultural legacy.
This overview explores the preliminary design process for integrating architectural acoustics and lighting into heritage buildings.
Discover how we assess historic baselines, navigate conservation constraints, and develop non-invasive engineering frameworks that elevate both visual beauty and acoustic comfort while protecting the soul of the architecture.
Understanding the cathedral’s architectural evolution and historical significance to inform acoustic and lighting design.
Introduction: Understanding the Building Before Designing
Before considering acoustic and lighting interventions at Makassar Cathedral, I began by studying its architectural history. Every intervention takes place within a building that already has its own character shaped by earlier design decisions, successive transformations, and the people who have worshipped there. Understanding that history provides an essential foundation for deciding how new work can contribute sensitively to the cathedral’s future.
Officially known as the Church of the Sacred Heart of Jesus (Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus), Makassar Cathedral is a place of worship whose architecture has evolved alongside its community. Across generations, its spaces have accommodated prayer, liturgical celebrations, and significant moments in the lives of its congregation. Its historical significance therefore extends beyond its façade and architectural style to the continuity of worship and the memories associated with the building.
This preliminary study asks three questions: what has changed, what remains, and what gives the cathedral its identity? Examining its successive architectural forms helps reveal how each generation responded to new needs while maintaining a connection to the church’s past. It also provides a basis for identifying features and spatial relationships that deserve particular consideration in future interventions.
For my subsequent acoustic and lighting work, this historical understanding establishes the context for design. Before determining how the cathedral should sound or be illuminated, I wanted to understand how it became the place it is today and which qualities should continue to shape its experience for generations to come.
Historical Context: The Cathedral and Its Community
Makassar Cathedral, officially known as Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus or the Church of the Sacred Heart of Jesus, stands on Jalan Kajaolalido in central Makassar, South Sulawesi. Its significance extends beyond the congregation that worships there regularly. As the cathedral of the Archdiocese of Makassar, it houses the archbishop’s cathedra, or episcopal chair, and serves as a gathering place for major celebrations of the wider Catholic community. This role was evident during preparations for Archbishop Fransiskus Nipa’s installation in October 2024, when representatives from parishes across the archdiocese were expected to gather there.
The community’s history reaches further back than the present building. The archdiocese’s historical account traces Catholic activity in South Sulawesi to the sixteenth century and describes Makassar as a refuge for Catholics arriving from Portuguese Malacca during the seventeenth century. War and the subsequent consolidation of Dutch control disrupted this presence. The circumstances that eventually produced today’s cathedral emerged much later: colonial permission for Catholic missionaries to reside in Makassar was granted in 1891, followed by the arrival of Father A. Asselbergs, SJ, in 1892. His residence established a more regular basis for pastoral care and the gradual growth of the community.
A permanent place of worship became an important next step. In 1895, land and a house were purchased on Komedistraat, now Jalan Kajaolalido, at the location of the present cathedral. Historian Ahmad Yunani’s study records that the acquisition was supported by money borrowed from religious sisters in Semarang. The same study dates the church’s construction to 1898–1900. These beginnings reveal a building made possible through both local initiative and support from a wider Catholic network.
As the congregation expanded, the original building became inadequate. The parish’s published building history gives a particularly useful explanation of the enlargement initiated in 1939: the church had approximately 200 seats, insufficient for the assembled congregation, while its small sacristy and lack of confessionals and side altars also limited liturgical arrangements. The response involved alterations to the side walls, an enlarged sacristy behind the sanctuary, and additional facilities for worship. The expansion therefore addressed both the number of people attending and the practical requirements of parish life.
Adaptation continued in later decades. The parish account records that the balcony was replaced and enlarged in 1984 to accommodate approximately 120 people. This intervention illustrates how the cathedral’s capacity developed through successive adjustments, alongside the more conspicuous changes to its external appearance.
The recent expansion belongs to this longer history of responding to community needs. In 2018, church leadership and the council decided to pursue a further enlargement as the congregation continued to grow. Construction remained underway in October 2024, according to the parish priest’s contemporary account, and the cathedral was formally dedicated and inaugurated on 30 October 2025. By December 2025, the parish priest described the new worship space as accommodating approximately 1,000–1,200 people, with supplementary areas available for larger celebrations.
For my preliminary architectural study, this history suggests that the cathedral’s identity should be understood through the relationship between its building and its community. Successive generations have inherited a place of worship and adapted it to sustain their shared religious life. Understanding those decisions helps explain why the architecture changed—and provides a foundation for considering which qualities should remain meaningful as the cathedral continues to evolve.
The First Architectural Form: Neo-Gothic Origins
The earliest architectural form of Makassar Cathedral established a recognisable Gothic Revival character through its pointed openings, decorated gables, and slender pinnacles. Historical photographs show a relatively compact church whose architectural identity depended on the relationship between a simple main volume and carefully articulated details. These images provide an important starting point for understanding the building before its subsequent enlargements.
Construction and the People Behind the Building
Ahmad Yunani’s historical study places construction between 1898 and 1900, following the acquisition of the site in 1895. This chronology provides a useful working framework, although accounts differ on the precise commencement date. It should therefore be distinguished from a fully verified sequence of groundbreaking, construction, first use, and blessing.
The parish’s published building history attributes the original design to Swartbol, a military engineering officer. According to this account, he departed for Europe after the foundations had been completed. Responsibility then passed to S. Fischer, an irrigation specialist, while Thio A Tek, a Chinese contractor, undertook the construction. The same account records a delay while iron window frames were awaited from the Netherlands. These details reveal a building process involving several contributors and imported components, although their precise appointments and the spelling of their names remain subject to archival confirmation.
Reading the Original Façade
An early frontal photograph, catalogued by the Tropenmuseum collection as dating from 1900–1920, shows a composition organised around a central entrance. Above the doorway, a pointed decorative gable contains openwork ornament. Higher on the façade, a circular opening sits beneath the apex of the main gable, which is crowned by a cross. Slender pinnacles frame the composition and extend its upward emphasis.
The façade balances a broad, grounded wall surface with a sequence of vertical accents. The doorway establishes the human scale of arrival, while the ornament above it draws attention towards the upper façade. Its sense of height comes partly from this arrangement of openings, pinnacles, and the crowning cross.
Proportions, Openings, and Roofline
An oblique photograph catalogued as 1900–1919 reveals the building’s elongated body beneath a pitched roof. Tall, narrow pointed-arch windows recur along the side elevation, separated by projecting vertical wall elements. Small pinnacles punctuate the upper edges, while a slender open metal turret rises above the roof. Together, these features establish a repeated rhythm along the church’s length.
The parish history describes approximately twenty miniature towers as roof-edge ornament, alongside a small iron tower. This written description broadly corresponds with the repeated pinnacles visible in the early photographs.
Architectural Character and Religious Identity
Taken together, the photographs support describing the early church as Neo-Gothic in its architectural vocabulary. Pointed arches, pinnacles, openwork ornament, and the prominent cross gave the building a recognisable ecclesiastical character. This description concerns the features visible in the historical record.
For my historical study, the significance of this first form lies in how these elements worked together. I read the repeated vertical accents and rising central composition as expressions of aspiration, while the clearly defined entrance connected that symbolic character to the everyday act of entering a place of worship. This is an architectural interpretation of the surviving images, rather than a documented statement of the original designer’s intentions.
Understanding this early composition provides a reference for examining later transformations: which proportions and details survived, which were replaced, and how the cathedral’s religious identity remained legible as its architecture changed.
Makassar’s Roman Catholic church, now Makassar Cathedral, photographed between 1900 and 1919. Photographer unknown. Collectie Wereldmuseum (formerly Tropenmuseum), inventory TM-10016679, via Wikimedia Commons. Licensed CC BY-SA 3.0.
The Second Architectural Form: Expansion and a Changing Architectural Character
By the late 1930s, Makassar’s Catholic congregation had outgrown its original church. The parish’s building history records approximately 200 seats, insufficient to accommodate the community, together with a sacristy that had become too small and a need for confessionals and side altars. The enlargement addressed these practical requirements while substantially changing the building’s architectural composition.
The works are generally associated with the 1939–1941 period, although their precise chronology remains unresolved. Ahmad Yunani’s historical study identifies alterations beginning in 1938–1939 and completion in 1941. The parish account, however, states that Easter was celebrated in the renovated church in 1940. These sources establish the late-1930s transformation, but do not provide a consistent date for its completion.
Expanding the Space for Worship
The parish account describes alterations to both side walls, the removal of four supporting pillars, and an enlarged sacristy behind the sanctuary. Two confessionals were introduced at the rear and two side altars at the front. These interventions responded to the different activities taking place within the church, from collective worship to preparation for Mass and individual confession.
Government heritage documentation provides further insight into the widening of the building. It describes additions along the northern and southern sides of the congregation’s space, incorporating formerly external columns into the interior and relocating pointed coloured-glass windows to the new outer walls. This account suggests that the enlargement reused elements of the earlier architectural arrangement.
From an Ornamental Gable to a Dominant Entrance Tower
The most conspicuous external change was the introduction of a substantial tower connected directly to the entrance. The parish history records the removal of the separate iron bell tower on the southern side and its replacement by this integrated tower.
Comparing the early frontal photograph with C.J. Taillie’s photograph from 1948 reveals a different visual hierarchy. Previously, the central gable, circular opening, and slender pinnacles organised the façade. In the later image, the entrance tower was added to the composition, with broad wall surfaces, vertically arranged openings, and a steep, faceted roof.
The transformation also simplified the silhouette. The numerous small pinnacles prominent in the early views no longer define the visible roofline. Nevertheless, pointed openings and portions of the gabled church body remain evident beside the tower. The resulting architecture combined a more substantial entrance composition with features that continued to recall the earlier church.
Interpreting the Architectural Change
The simplified surfaces and stronger geometric composition may invite comparison with Art Deco-era architecture. For this study, however, that remains a visual interpretation. The available heritage documentation describes the tower as a simplification of Gothic form, while Yunani’s research emphasises the building’s combination of architectural influences. A categorical description of the entire second form as Art Deco would therefore require stronger evidence.
For my preliminary study, the importance of this phase lies in the relationship between architectural change and community use. Enlarging the worship space altered the building’s boundaries, while the new entrance tower changed its public appearance. The cathedral acquired another historical layer through the practical task of accommodating a growing congregation. Understanding that layer helps identify both the continuity of its religious identity and the physical changes through which that continuity was sustained.
Makassar Cathedral in 1948, following the late-1930s enlargement. Photograph by C.J. (Cees) Taillie. Collectie Wereldmuseum (formerly Tropenmuseum), inventory TM-10029315, via Wikimedia Commons.
The Third Architectural Form: Contemporary Expansion
The cathedral’s contemporary expansion began with a familiar challenge: accommodating a growing congregation within a building shaped by earlier generations. According to the project account, church leadership and the council decided in 2018 to pursue an enlargement. The building committee subsequently organised a design-selection exercise, described as a beauty contest, to compare proposals for the cathedral’s future development. Publicly available information does not establish the participating architects, assessment criteria, or winning submission, so the process is best described as a selection of design proposals rather than a verified open architectural competition.
The Relationship Between Historic and New Architecture
The resulting development introduced substantial new construction behind the cathedral’s retained front section. In October 2024, parish priest Father Yulius Malli explained that much of the building was new, while a smaller portion at the front remained because of its heritage status. He also confirmed that construction was still approaching completion as preparations proceeded for Archbishop Fransiskus Nipa’s installation. The cathedral’s appearance in 2024 therefore represents an advanced stage of development, rather than a confirmed completion date.
The accompanying 2024 photograph makes this relationship visible. The familiar central entrance tower remains in the foreground, framed by the broader architecture behind it. Two substantial flanking towers, capped with open metal spires and crosses, establish a wider composition. Pointed arches, paired windows, decorative arcading, and pitched roofs connect the new work visually with the cathedral’s earlier Gothic-inspired vocabulary.
In my reading of this composition, the retained tower acts as a recognisable historical reference within a larger architectural ensemble. Its continuity is particularly evident at the entrance, while the expanded building changes the scale and silhouette of the cathedral beyond it. This visual relationship does not, however, establish how much original material survives elsewhere in the building.
Continuity and Change in Scale and Massing
The second architectural form concentrated attention on a single entrance tower. The contemporary expansion distributes that emphasis across a broader frontage and several vertical elements. The new flanking towers extend the composition laterally, while the larger roof and wall surfaces behind the historic front indicate a substantial increase in building volume.
Although this is a contemporary construction phase, its external language continues to use historical church forms. The pointed openings and spires create a visual connection with the cathedral’s architectural past. Their repetition at a larger scale gives the expanded church a more monumental presence, while allowing the older entrance to remain identifiable.
Worship-Space Organisation and Circulation
The enlarged complex also introduced a more layered arrangement for accommodating worshippers. Reporting from Christmas 2024 described provision for approximately 700 people in the hall and another 500 in the basement, with arrivals directed downstairs when the hall reached capacity. These figures describe the arrangements reported during that construction period; they should not be treated as a verified final seating schedule.
This arrangement suggests that circulation became an important part of how the expanded cathedral operated. Arrival, distribution between worship areas, and movement between levels had to support a congregation extending beyond one room. The frontal photograph shows the retained central doorway and approaches to either side, but it cannot establish the complete internal routes. A detailed assessment of processional movement, accessibility, and connections between old and new spaces would require floor plans and site observation.
Understanding the Heritage Implications
The transformation also requires a distinction between architectural resemblance and the retention of historic fabric. In his 2024 archaeology thesis at Universitas Hasanuddin, Aditya Joseph Mesalayuk reported the replacement of significant building elements and identified a reduction in heritage value. His abstract also records positive responses among community respondents and notes that some new elements followed the earlier building’s character. These are findings from one academic study, rather than a comprehensive conservation verdict, but they are relevant to understanding the expansion.
For my preliminary historical study, the third form presents both continuity and substantial change. The cathedral maintains a recognisable entrance and familiar religious imagery while accommodating worship within a much larger complex. Understanding this relationship provides the context for subsequent acoustic and lighting design: identifying the spaces now in use, the historic features that remain, and the architectural qualities through which the congregation continues to recognise its cathedral.
Makassar Cathedral during its contemporary expansion, 2024. This panoramic photograph shows the historic central entrance tower against the broader new church composition and its flanking towers. Photo: Herwin Gunawan’s project documentation.
Reading the Three Architectural Layers
Makassar Cathedral’s architectural history can be understood through three principal forms: the early Neo-Gothic church, the enlargement associated with the late 1930s and early 1940s, and the contemporary expansion initiated by the 2018 decision. Each responded to community needs while changing the relationship between the worship space and its public appearance.
These phases provide a useful framework, but they do not represent three buildings that remained unchanged between major transformations. The parish history also records wartime damage in 1943, subsequent glazing repairs, a ceiling replacement in 1978, and a balcony enlargement in 1984. The cathedral’s development therefore includes smaller interventions within the three broader architectural layers.
Scroll horizontally to view all five columns.
| Architectural phase | Community needs | Architectural character | Principal changes | Surviving features and continuity |
|---|---|---|---|---|
| First form: early church, generally dated 1898–1900 | Establishing a permanent place of worship for the developing Catholic community. | Early photographs show pointed openings, an ornamented entrance gable, small pinnacles, and a slender roof turret: a recognisable Neo-Gothic vocabulary. | Construction of the original church following the acquisition of the site. | Gothic-inspired forms recur in later phases. The surviving fabric attributable specifically to 1900 requires an element-by-element survey; resemblance alone cannot establish its age. |
| Second form: late-1930s enlargement, associated with 1939–1941 | Increasing capacity beyond approximately 200 seats and improving liturgical facilities. | A substantial entrance tower became the dominant feature, accompanied by a simpler silhouette and retained Gothic elements. “Art Deco” remains an unverified stylistic interpretation. | Alteration of side walls, enlargement of the sacristy, introduction of confessionals and side altars, and replacement of the separate iron bell tower with an integrated entrance tower. | The recognisable front tower and façade composition remain visible within the contemporary ensemble. This establishes continuity of form, rather than proof that every component is unchanged. |
| Third form: contemporary expansion, documented in 2024 | Accommodating a larger congregation and distributing worshippers across additional spaces. | The 2024 photograph shows a broader composition, prominent flanking towers, metal spires, and repeated pointed arches surrounding the historic frontage. | Substantial new construction behind the retained front section, with expanded worship accommodation and basement use. | The historic frontage remains a reference point. Much of the expanded architecture is new, including elements that echo earlier forms. |
Sources: the early chronology follows Yunani’s study; the first two forms are documented in museum photographs and parish history; the contemporary phase is supported by the project account, the parish priest’s 2024 interview, and the supplied photograph.
Distinguishing Evidence from Interpretation
Historical records and photographs answer different questions. The parish account documents why enlargement was necessary and identifies particular alterations. Dated photographs establish the building’s visible appearance at a given time. Descriptions such as “more monumental,” “stronger vertical emphasis,” or “visual continuity” are architectural interpretations of that evidence.
A similar distinction applies to surviving features. An old window relocated into a new wall, a repaired historic tower, and a newly constructed pointed arch each express a different relationship with the past. Their appearance may be related, but their material histories are not interchangeable. For this study, I therefore distinguish between retained fabric, altered historic elements, and new work that refers to earlier architecture.
This distinction is particularly relevant to the recent expansion. Aditya Joseph Mesalayuk’s 2024 archaeology thesis reports the replacement of significant elements and a resulting reduction in heritage value, while also recording positive community responses. Its findings indicate that continued religious use and visual familiarity can coexist with the loss of historic material.
Where Does the Cathedral’s Identity Reside?
My interpretation is that Makassar Cathedral’s identity emerges from its accumulated history. The first church established its early architectural expression; the second form reshaped the building for an expanding community; and the third introduced a larger setting for contemporary worship. Each contributes to how the cathedral is understood today.
That accumulated identity does not make every alteration equally significant or every loss replaceable. Surviving materials, workmanship, and liturgical objects provide evidence that photographs and stylistic references cannot fully substitute. A separate 2025 study by Pramesty Inriana Ritto identifies historically valuable architectural elements and liturgical artefacts, reinforcing the importance of documenting the cathedral beyond its external appearance.
In this preliminary study, the task is therefore to understand both the continuity of worship and the physical evidence of change. Reading these layers together provides a basis for recognising what remains significant—and for making subsequent acoustic and lighting decisions with a clearer understanding of the building they will serve.
Heritage Significance: What Should Guide Future Intervention?
Understanding Makassar Cathedral’s history establishes a basis for deciding what future interventions should protect. Its significance resides in several connected qualities: surviving architectural fabric, evidence of craftsmanship, the arrangement of spaces for worship, and the congregation’s continuing relationship with the building. The Nara Document on Authenticity offers a useful framework for this assessment, recognising that heritage value can be expressed through materials, design, use, traditions, setting, and the meanings associated with a place.
Architectural Features, Materials, and Craftsmanship
The retained entrance tower and frontage deserve particular attention because they allow the earlier cathedral to remain recognisable within the expanded complex. Their significance includes the relationship between the tower, entrance, adjoining gables, and approach from the forecourt. The parish priest’s 2024 account identifies the front section as the portion retained because of its heritage status.
A more detailed assessment should examine the surviving masonry and finishes, door frames, decorative mouldings, column capitals, glazing, bells, and liturgical objects. Pramesty Inriana Ritto’s 2025 research identifies architectural elements and older religious artefacts as important subjects for documentation. Its publicly accessible contents list includes the entrance doors, bells, capitals, stained glass, early bricks and floor tiles, and a baptismal vessel. These references provide a starting point for an inventory, although they do not establish the present condition or exact provenance of every item.
Material investigation should look beyond surface appearance. Brick dimensions, mortar composition, joinery, tool marks, metal fittings, inscriptions, and traces of earlier finishes may help explain how an element was made and subsequently altered. For design purposes, these details should be recorded before cleaning, repainting, covering, or attaching equipment to potentially significant surfaces.
Distinguishing Early Fabric from Later Layers
The cathedral’s history cautions against treating everything that appears old as part of the original church. The parish account records three donated bells in 1923, the construction of an integrated entrance tower during the late-1930s enlargement, damage to glazing behind the altar in 1943, and subsequent donations of coloured glass for the side windows. It also records a timber ceiling replacement in 1978 and a balcony enlargement in 1984. These later contributions belong to the cathedral’s history, but require their own dates and explanations.
The working record should therefore distinguish:
Early surviving fabric: elements attributable to the first construction through documentary and physical evidence.
Later historic additions or repairs: work associated with subsequent periods, assessed for its own significance.
Relocated or reused elements: historic objects or components retained within a changed setting.
Reconstructed or newly made elements: features recreated from evidence, or new designs drawing on earlier forms.
Elements of uncertain date: items requiring further investigation before attribution.
A new pointed arch may recall the earlier cathedral without being a reconstruction of a particular lost feature. Similarly, an old window installed in a new wall retains material history while its spatial context changes. Recording these distinctions makes the building’s evolution more understandable.
The Congregation’s Memories and Ritual Life
The cathedral is also a setting for lived religious experience. A heritage assessment should ask clergy, long-standing parishioners, musicians, sacristans, and other users which places, objects, and practices they associate most strongly with it. Baptisms, marriages, funerals, processions, communal singing, and private prayer provide useful subjects for these conversations. Their particular meaning at Makassar should be documented through testimony rather than assumed.
Community responses may also differ. Aditya Joseph Mesalayuk’s 2024 study reported positive responses to the expansion among its respondents while identifying losses of heritage significance. This finding suggests that appreciation of improved accommodation can coexist with concern for historic fabric. Neither perspective should be taken as a complete account of the congregation’s attachment to the cathedral.
Spatial relationships deserve similar attention: the sequence from forecourt to entrance, views towards the sanctuary, routes used during liturgy, and the relationship between communal worship and quieter devotional areas. Comparing earlier plans with present use would help establish which relationships survive and which have changed.
Priorities for Sensitive Design
These findings establish a practical sequence: document significance, identify vulnerabilities, and then develop interventions. This approach is consistent with the Burra Charter’s emphasis on understanding a place before changing it and limiting alteration to what is necessary to sustain its significance and use.
The resulting design priorities would be to retain and repair significant fabric where feasible; assess material compatibility before introducing new finishes; and place services where they cause the least disturbance to historic elements and important views. Removable installations should be preferred where practicable, with their actual effect on the substrate checked rather than assuming they are reversible.
For subsequent acoustic and lighting work, this means evaluating mounting locations, cable routes, treatment areas, and maintenance access alongside performance requirements. Mock-ups can help the church and design team assess visual impact before permanent installation. The historical study thus becomes a basis for specific decisions: improving the congregation’s experience while keeping the cathedral’s surviving evidence and accumulated meanings legible.
From Historical Understanding to Acoustic and Lighting Design
The historical study provides a starting point for the next design stage by identifying which architectural qualities require particular care and where further investigation is needed. At Makassar Cathedral, successive changes to the building’s walls, glazing, ceiling, and worship spaces mean that its present environment reflects several periods of construction. The parish record of replacement glazing and later ceiling and balcony alterations reinforces the need to examine each element individually before proposing interventions.
For acoustic design, the next step is to relate this understanding to the cathedral’s existing geometry and materials. Room volume, ceiling height, surface finishes, seating, and connections between spaces should be surveyed and represented in acoustic analysis. Measurements and modelling can then inform the balance between speech intelligibility and the resonance appropriate for singing. Historical photographs help explain earlier configurations, we then make acoustic modeling to understanding reverberation times on first and second architecture.
For interior lighting design, the historical study directs attention to daylight openings, stained glass, architectural proportions, and the relationship between the historic frontage and the expanded worship space. These elements help establish which architectural details and spatial relationships deserve particular care. Daylight should be observed at different times of day and under varying weather conditions to understand how it illuminates the interior, reveals materials, and influences views towards the sanctuary.
This understanding provides a basis for integrating electric lighting around the altar, ambo, crucifix, circulation routes, and the congregation’s reading needs. The lighting composition should support the visual hierarchy of worship while allowing the surrounding architecture to remain legible. Particular attention should be given to glare, the visibility of faces and texts, and transitions between brighter and quieter areas. Lighting scenes can accommodate different liturgical activities, with luminaires, wiring, and maintenance access coordinated to minimise disturbance to significant fabric. ChurchCare’s guidance similarly emphasises natural-light variation, the direction and quality of illumination, and testing within the actual building.
For façade lighting design, the investigation extends beyond the cathedral to the surrounding nighttime environment. Light from neighbouring buildings, streetlights, commercial signs, and passing vehicles should be assessed from the principal approaches and public viewpoints. Their brightness, colour, direction, and operating hours establish the context in which the cathedral is seen and help determine the illumination needed to make its architecture readable.
The historical study can then guide how light reveals the retained entrance tower, adjoining gables, pointed openings, and newer flanking towers. Their relative prominence should be considered carefully so that the historic frontage remains identifiable within the expanded composition. On-site lighting trials can assess the balance of light and shadow, the appearance of materials, and the visibility of fixtures. The aim is a coherent nighttime presence that respects the cathedral’s architectural layers while limiting glare, light spill towards neighbouring properties, and unnecessary upward light.
Equipment integration connects both disciplines to heritage care. Loudspeakers, luminaires, acoustic treatments, wiring, and controls should be coordinated with the significance and condition of their proposed locations. Mounting details require particular attention: an installation may be visually discreet yet still damage an important surface. Existing service routes and suitable newer construction should be assessed as opportunities to reduce disturbance, while maintaining access for inspection and replacement.
For my work, historical understanding therefore helps define the design brief alongside the congregation’s practical and liturgical needs. It guides what to investigate, what to protect, and how proposed changes should be evaluated.
Understanding the cathedral’s architectural evolution provides the foundation for improving its performance while respecting its identity.
References and Image Sources
The references below identify the published sources cited in this account. Repository links provide the accessible abstracts and supporting files for the academic studies.
Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus—Katedral Makassar, “Gedung Gereja”. Parish building history.
Keuskupan Agung Makassar, “Gereja Lokal KAMS 75 Tahun” (2012). Historical context for the Catholic community.
Ahmad Yunani (2017), “Gereja Hati Yesus Yang maha Kudus–Katedral (sejarah Gereja Katolik di Sulawesi Selatan dan Tenggara)”. Jurnal Lektur Keagamaan, 15(1), 125–148. DOI: 10.31291/jlk.v15i1.518.
Irwani Rasyid and Adang Saujana (2019), Dokumentasi Teknik Bangunan Kolonial. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan; section on Gereja Katedral.
Aditya Joseph Mesalayuk (2024), Evaluasi Pengembangan Bangunan Gereja Katedral Kota Makassar Serta Dampaknya Terhadap Nilai Penting Sebagai Cagar Budaya. Undergraduate thesis, Universitas Hasanuddin.
Pramesty Inriana Ritto (2025), Strategi Penguatan Informasi Nilai Penting Cagar Budaya Gereja Katedral Makassar dan Artefak Liturgisnya sebagai Upaya Pelestarian. Undergraduate thesis, Universitas Hasanuddin.
Katharina Reny Lestari, “Katedral Makassar Berhias Diri Sambut Misa Instalasi Mgr. Fransiskus Nipa”. HIDUPKATOLIK, 16 October 2024; interview with Father Yulius Malli.
Ihwan Gunawan S, “Gereja Katedral Makassar Bakal Tampung 1.200 Jemaat Tiap Sesi Misa Natal”. detikSulsel, 24 December 2024.
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, “Menag Hadiri Dedikasi Gereja Katedral Makassar: Simbol Iman, Persaudaraan, dan Keabadian”. Ministry of Religious Affairs, 31 October 2025.
“Antisipasi Lonjakan Umat, Misa Malam Natal Katedral Dua Sesi”. Celebesmedia, 24 December 2025; interview with Father Yulius Malli.
The Nara Document on Authenticity (1994); The Burra Charter (Australia ICOMOS, 2013); and ChurchCare, “Lighting”. Guidance used to frame heritage assessment and sensitive design.
Historical photographs, Collectie Wereldmuseum (formerly Tropenmuseum), via Wikimedia Commons: frontal view, 1900–1920, TM-60008255; oblique view, 1900–1919, TM-10016679; and C.J. (Cees) Taillie’s 1948 photograph, TM-10029315. All three source records specify CC BY-SA 3.0.
Project context and the 2024 panoramic photograph: Herwin Gunawan’s project account and documentation. Architectural readings of the photographs are the author’s interpretations.
Desain Pencahayaan Liturgi untuk Pengalaman Ibadah di Katedral Jakarta
Sebuah studi pencahayaan liturgi yang berpusat pada manusia untuk Katedral Jakarta, yang mengeksplorasi bagaimana pencahayaan memengaruhi pengalaman ibadah, suasana sakral, hierarki visual, dan persepsi spiritual di dalam lingkungan katedral bersejarah.
Gambaran Umum Proyek
Sejak masa kolonial Belanda, Katedral Jakarta telah menjadi salah satu landmark keagamaan dan budaya terpenting di Indonesia. Selain nilai arsitekturalnya, katedral ini tetap berfungsi sebagai tempat ibadah yang aktif, simbol kerukunan beragama, serta rumah rohani bagi generasi demi generasi umat Katolik di Jakarta.
Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan Katedral Jakarta dalam melestarikan warisan budayanya sekaligus meningkatkan pengalaman beribadah, serangkaian studi skenario pencahayaan liturgi telah dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana berbagai strategi pencahayaan memengaruhi persepsi terhadap ruang suci, hierarki visual, suasana spiritual, dan simbolisme liturgi.
Proyek ini mengkaji bagaimana pencahayaan dapat mendukung berbagai bentuk ibadah, perayaan keagamaan, dan acara seremonial, sekaligus tetap menghormati karakter arsitektur dan makna historis katedral tersebut. Alih-alih hanya berfokus pada tingkat pencahayaan, studi ini meneliti bagaimana pencahayaan memengaruhi respons emosional, keterlibatan spiritual, serta hubungan antara jemaah dan arsitektur suci.
Dalam teologi Kristen, cahaya sering dipahami sebagai perwujudan kehadiran, kebenaran, dan kemuliaan ilahi Allah, sementara arsitektur gereja mencerminkan kesetiaan jemaat serta keinginan mereka untuk memuliakan Allah melalui lingkungan bangunan. Oleh karena itu, hubungan antara cahaya dan arsitektur menjadi komponen penting dalam menciptakan lingkungan ibadah yang bermakna, di mana jemaat dapat berjumpa dengan yang ilahi melalui iman, ruang, dan pengalaman indrawi.
Melalui serangkaian model pencahayaan dan evaluasi skenario, proyek ini meneliti bagaimana desain pencahayaan yang cermat dapat memperkuat hubungan antara iman, arsitektur, dan pengalaman manusia di dalam salah satu bangunan warisan keagamaan paling penting di Indonesia.
Galeri Skenario Pencahayaan Liturgi
Tantangannya
Pencahayaan dalam arsitektur sakral memiliki tujuan yang secara mendasar berbeda dari pencahayaan di lingkungan komersial, perhotelan, atau hiburan. Tantangan utamanya adalah menciptakan skenario pencahayaan yang mendukung baik fungsi liturgi maupun pengalaman spiritual, sekaligus menjaga martabat arsitektur dan suasana sakral katedral tersebut.
Beberapa pertimbangan utama telah diidentifikasi:
Mendukung berbagai perayaan liturgi dan acara seremonial
Memperkuat hierarki visual di dalam ruang ibadah
Meningkatkan pemahaman tentang seni sakral dan detail arsitektur
Meningkatkan kenyamanan visual bagi jemaah
Mengurangi silau dan gangguan penglihatan
Menyeimbangkan pencahayaan fungsional dengan suasana spiritual
Menghormati nilai warisan katedral tersebut
Tantangan terkait kondisi struktur lama dalam pemasangan baru
Keberlanjutan, keselamatan kelistrikan, dan tantangan pemasangan jangka panjang
Strategi pencahayaan liturgi yang berhasil harus membantu jemaat untuk memusatkan perhatian pada makna perayaan tersebut, bukan pada pencahayaan itu sendiri. Oleh karena itu, tantangannya bukanlah untuk membuat ruangan menjadi lebih terang, melainkan untuk menjadikan pengalaman spiritual tersebut lebih bermakna melalui pemanfaatan cahaya yang cermat.
Skenario Pencahayaan Arsitektural yang Dramatis
Skenario Pencahayaan Arsitektural yang Dramatis
Skenario Pencahayaan Arsitektural yang Dramatis
Pendekatan Kami
Pendekatan kami dimulai dengan memahami katedral sebagai lingkungan suci di mana cahaya berperan sebagai elemen praktis sekaligus simbolis. Serangkaian model pencahayaan, evaluasi visual, dan studi skenario dikembangkan untuk mengeksplorasi bagaimana komposisi pencahayaan yang berbeda memengaruhi pengalaman beribadah, persepsi ruang, dan ekspresi liturgi.
Penelitian ini mengevaluasi:
Analisis hierarki visual
Hierarki fokus liturgi dan pengembangan skenario
Penilaian elemen arsitektur
Tinjauan pelestarian warisan budaya
Evaluasi kualitas cahaya dan daya reproduksi warna
Studi tentang rasio kontras antara area altar dan area jemaat
Tergantung pada hasil studi rasio kontras cahaya sekitar
Suasana emosional dan spiritual
Penilaian infrastruktur kelistrikan yang ada
Studi pencahayaan yang sudah ada untuk dimanfaatkan kembali
Perhatian khusus diberikan pada cara cahaya berinteraksi dengan unsur-unsur liturgi utama seperti altar, tabernakel, salib, lukisan dinding, patung-patung keagamaan, dan detail arsitektur.
Alih-alih menerangi seluruh ruang secara merata, desain ini mengeksplorasi bagaimana hierarki kecerahan yang terkendali dan kontras yang seimbang dapat mengarahkan perhatian ke elemen-elemen liturgi yang paling penting sambil tetap mempertahankan suasana kontemplatif.
Strategi Persepsi Cahaya yang Berpusat pada Manusia
Proyek ini mengadopsi filosofi pencahayaan yang berpusat pada manusia, yang mengutamakan pengalaman jemaat secara emosional, spiritual, dan visual di dalam ruang suci. Strategi ini secara cermat mempertimbangkan cara orang-orang: melihat, memusatkan perhatian pada altar, merenung, berdoa, bergerak di dalam ruang, dan berpartisipasi dalam ibadah.
Penelitian di bidang psikologi lingkungan menunjukkan bahwa cahaya memengaruhi persepsi emosional, perhatian, rasa nyaman, dan pemahaman spasial. Dalam arsitektur sakral, pencahayaan dapat berperan penting dalam menumbuhkan rasa khidmat, kontemplasi, kedamaian, dan keterikatan spiritual.
Gereja Katolik merayakan beragam praktik liturgi dan upacara, termasuk Jalan Salib, Adorasi Ekaristi, Malam Paskah, dan perayaan Paskah yang penuh sukacita. Setiap liturgi memiliki makna spiritual dan suasana emosional yang khas, yang dapat diperkuat melalui pencahayaan yang dirancang dengan cermat.
Pencahayaan yang sesuai dengan konteks liturgi dapat meningkatkan keterlibatan emosional, memperdalam rasa kehadiran yang sakral, serta memperkuat hubungan spiritual dan interaksi jemaat dengan Tuhan. Alih-alih sekadar berfungsi sebagai penerangan, cahaya menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman liturgi, yang membantu menyampaikan simbolisme, memusatkan perhatian, dan membentuk karakter emosional ibadah.
Untuk mengkaji hubungan-hubungan ini, serangkaian delapan skenario pencahayaan liturgi diuji di Katedral Jakarta pada tanggal 21 Oktober 2024 dengan menggunakan sistem pengendalian pencahayaan Casambi. Penelitian ini mengevaluasi bagaimana komposisi pencahayaan, tingkat kecerahan, hierarki fokus, dan kualitas atmosfer yang berbeda-beda memengaruhi persepsi terhadap ruang suci serta mendukung berbagai bentuk ibadah dan perayaan keagamaan.
Oleh karena itu, skenario pencahayaan dievaluasi tidak hanya berdasarkan kinerja teknisnya, tetapi juga berdasarkan kemampuannya dalam mendukung:
Kenyamanan visual
Fokus kognitif
Keterlibatan emosional
Pengalaman spiritual
Penghargaan terhadap arsitektur
Suasana yang sakral
Simbolisme liturgi
Dengan mengontrol kecerahan, kontras, reproduksi warna, dan penekanan fokus secara cermat, pencahayaan ini membantu menciptakan suasana yang mendorong refleksi, partisipasi, serta pengalaman ibadah yang lebih bermakna.
Skenario Penyalaan Lampu Rutin
Skenario Penyalaan Lampu Rutin
Skenario Penyalaan Lampu Rutin
Strategi Pelestarian Warisan Budaya dan Integrasi Pencahayaan
Proyek ini menuntut koordinasi yang erat antara pelestarian warisan arsitektur, persyaratan liturgi, teknologi pencahayaan, dan prinsip-prinsip desain yang berpusat pada manusia. Proses perancangan tersebut meliputi:
Penilaian Instalasi Listrik yang Ada untuk mengidentifikasi infrastruktur yang sudah tua, meminimalkan risiko kegagalan, dan mengurangi potensi bahaya korsleting.
Pemanfaatan kembali infrastruktur pencahayaan yang sudah ada untuk meningkatkan keberlanjutan, mengurangi limbah bahan, dan melestarikan keaslian sejarah bangunan.
Pengujian dan Evaluasi Mock-Up Pencahayaan untuk memvalidasi kualitas visual, suasana liturgi, dan harapan para pemangku kepentingan sebelum implementasi.
Sistem Pemasangan Lampu Non-Invasif untuk melindungi struktur bangunan bersejarah dan mematuhi prinsip-prinsip pelestarian warisan budaya.
Penerapan Sistem Pengendalian Pencahayaan Nirkabel untuk menghilangkan kebutuhan akan pemasangan kabel pengendali baru dan meminimalkan intervensi fisik terhadap bangunan bersejarah.
Integrasi sistem pencahayaan baru dan yang sudah ada untuk memaksimalkan fleksibilitas operasional sekaligus menjaga nilai investasi pada infrastruktur yang sudah ada.
Pemrograman Skenario Pencahayaan Adaptif untuk mendukung berbagai perayaan liturgi, acara seremonial, dan pengalaman ibadah.
Peningkatan Sistem Penerangan yang Hemat Energi untuk meningkatkan kualitas pencahayaan sekaligus mengurangi konsumsi energi dan biaya operasional jangka panjang.
Pengelolaan Silau dan Polusi Cahaya untuk meningkatkan kenyamanan visual dan meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Penilaian Dampak Termal untuk memastikan perlengkapan pencahayaan tidak menghasilkan panas berlebih yang dapat merusak bahan-bahan warisan budaya yang rentan. Perhatian khusus diberikan untuk memastikan bahwa pencahayaan mendukung liturgi sekaligus tetap menghormati arsitektur bersejarah katedral tersebut.
Strategi-strategi ini menunjukkan bagaimana desain pencahayaan yang cermat dapat secara efektif menjembatani pelestarian warisan budaya dan penerapan teknologi pencahayaan modern, sehingga Katedral Jakarta tetap menjadi sumber inspirasi bagi iman, komunitas, dan apresiasi budaya bagi generasi-generasi mendatang.
Skenario Pencahayaan untuk Kontemplasi dan Adorasi
Skenario Pencahayaan untuk Kontemplasi dan Adorasi
Skenario Pencahayaan untuk Kontemplasi dan Adorasi
Hasil
Pengujian dan uji coba skenario pencahayaan liturgi menunjukkan bagaimana strategi pencahayaan yang berbeda-beda dapat menciptakan persepsi yang sangat berbeda mengenai ruang suci, suasana emosional dan spiritual, serta pengalaman beribadah. Studi kasus ini menetapkan kerangka kerja untuk mengevaluasi intervensi pencahayaan di masa mendatang berdasarkan kinerja teknis dan hasil yang berpusat pada manusia. Manfaat utama dari proyek ini antara lain:
Hierarki visual yang lebih baik
Pengalaman beribadah yang lebih bermakna
Fokus liturgi yang lebih kuat
Kenyamanan visual yang lebih baik
Penurunan persepsi silau
Peningkatan apresiasi terhadap seni dan arsitektur sakral
Suasana spiritual yang lebih bermakna
Yang terpenting, proyek ini menunjukkan bahwa keberhasilan pencahayaan gereja tidak hanya diukur dari tingkat kecerahannya saja. Sebaliknya, pencahayaan liturgi yang efektif membantu jemaat merasakan keterikatan yang lebih mendalam dengan ibadah, arsitektur, dan makna spiritual dari ruang tersebut.
Melalui integrasi yang cermat antara desain pencahayaan, pelestarian warisan budaya, dan prinsip-prinsip yang berpusat pada manusia, Katedral Jakarta terus menjalankan misinya untuk melestarikan warisan budayanya sekaligus memperkaya pengalaman jemaat generasi mendatang serta pariwisata Jakarta.
Kesimpulan
Studi skenario pencahayaan liturgi di Katedral Jakarta menunjukkan bahwa pencahayaan dalam arsitektur suci jauh lebih dari sekadar persyaratan teknis untuk visibilitas. Pencahayaan yang dirancang dengan cermat dapat membentuk persepsi emosional, memperkuat keterlibatan spiritual, mendukung simbolisme liturgi, serta mempererat hubungan antara jemaat dan ruang suci.
Dengan menyeimbangkan secara cermat antara persyaratan liturgi, pengalaman yang berpusat pada manusia, warisan arsitektur, dan kinerja pencahayaan, proyek ini menggambarkan bagaimana cahaya dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri. Melalui berbagai skenario pencahayaan, katedral ini mampu menciptakan suasana yang mendukung refleksi, doa, perayaan, kontemplasi, dan ibadah bersama, sekaligus menjaga martabat serta makna historis salah satu landmark keagamaan terpenting di Indonesia.
Penelitian ini memperkuat keyakinan bahwa keberhasilan desain pencahayaan tidak hanya diukur dari tingkat kecerahan, melainkan dari kemampuannya untuk menyampaikan makna, membangkitkan emosi, dan memperkaya pengalaman manusia di dalam lingkungan binaan.
ALTA Integra is a Building Science and Technology consultancy dedicated to creating human-centered environments through evidence-based design. By studying the relationship between light, sound, space, technology, and human emotion, we help transform buildings into places that inspire wellbeing, strengthen identity, emotional support space, and dedicated for a more sustainable future.
Baik Anda sedang merancang tempat ibadah, bangunan bersejarah, destinasi pariwisata, tempat kerja, fasilitas pendidikan, maupun ruang publik, layanan konsultasi pencahayaan kami membantu mewujudkan visi desain menjadi pengalaman visual, emosional, dan lingkungan yang bermakna.
Studi Maket Pencahayaan Arsitektur Sakral untuk Katedral Jakarta
With great enthusiasm in welcoming the Apostolic Visit of Pope Francis to Jakarta Cathedral in September 2024, ALTA Integra contributed to improving the cathedral’s interior lighting quality through a mock-up lighting study exploring sacred atmosphere, visual hierarchy, architectural depth, color rendering, and human-centered worship experience within one of Indonesia’s most important religious heritage buildings.
Pencahayaan dalam arsitektur suci bukan sekadar soal visibilitas. Hal ini berkaitan dengan pembentukan suasana spiritual, persepsi emosional, serta hubungan antara pengalaman manusia dan ruang suci.
With great enthusiasm in welcoming the Apostolic Visit of Pope Francis to Jakarta Cathedral in September 2024, Herwin Gunawan and ALTA Integra Lighting Design team contributed to enhancing the interior lighting quality of the historic cathedral through a series of architectural lighting mock-up studies.
Studi pencahayaan menggunakan maket ini dikembangkan untuk mengkaji bagaimana berbagai strategi pencahayaan dapat memengaruhi hierarki visual, suasana kontemplatif, kedalaman arsitektural, serta persepsi terhadap seni religius dan unsur-unsur liturgi di dalam interior katedral.
Alih-alih hanya berfokus pada kecerahan, penelitian ini menyelidiki bagaimana kontras yang terkendali, kualitas reproduksi warna, keseimbangan luminansi, dan pencahayaan fokus dapat menciptakan lingkungan ibadah yang lebih berpusat pada manusia dan memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam.
Melalui serangkaian simulasi pencahayaan dan evaluasi visual, proyek ini mengkaji bagaimana cahaya dapat secara hormat menonjolkan kekayaan arsitektural, simbolisme sakral, dan suasana emosional dari salah satu bangunan warisan keagamaan terpenting di Indonesia.
Meja Utama Altar
Michael Ho dari ERCO Singapura membantu Katedral Jakarta selama proses simulasi pencahayaan, dengan menguji penempatan lampu, sudut sinar, dan kualitas pencahayaan guna mengevaluasi persepsi arsitektural, kenyamanan visual, serta pengalaman beribadah di dalam interior katedral bersejarah tersebut.
Evaluasi perbandingan model simulasi dilakukan antara solusi pencahayaan ERCO yang diusulkan (kiri) dan sistem pencahayaan yang ada (kanan). Dengan menggunakan spektrometer profesional, penilaian tersebut mengukur iluminansi (lux), suhu warna terkorelasi (CCT), dan indeks reproduksi warna (CRI) untuk memahami bagaimana teknologi pencahayaan yang berbeda memengaruhi persepsi visual dan pengalaman beribadah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan ERCO menghasilkan tingkat iluminansi yang lebih tinggi (736 lux berbanding 389 lux) sekaligus mempertahankan suhu warna yang hangat serta kinerja reproduksi warna yang unggul (CRI 90 berbanding CRI 82). Peningkatan ini memungkinkan ekspresi wajah imam, detail arsitektur, karya seni keagamaan, dan elemen-elemen liturgi dapat dipersepsikan secara lebih alami dan akurat.
Pengukuran flicker dilakukan untuk membandingkan kinerja sistem pencahayaan yang ada dengan solusi pencahayaan ERCO yang diusulkan. Flicker merupakan parameter kualitas pencahayaan yang penting yang dapat memengaruhi kenyamanan visual, konsentrasi, kualitas rekaman kamera, serta pengalaman beribadah secara keseluruhan.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sistem pencahayaan yang ada memiliki tingkat kedipan sebesar 14,31%, sedangkan sistem pencahayaan ERCO yang diusulkan mencapai tingkat kedipan yang jauh lebih rendah, yaitu 7,44%, yang berarti penurunan tingkat kedipan hampir sebesar 48%. Peningkatan ini berkontribusi pada terciptanya lingkungan visual yang lebih stabil, sehingga mengurangi risiko kelelahan mata dan ketidaknyamanan selama kegiatan ibadah yang berlangsung lama.
Mock-up Penerangan Tabernakel
Perbandingan antara kedua pendekatan pencahayaan tersebut menunjukkan betapa strategi pencahayaan sangat memengaruhi persepsi visual, suasana emosional, dan pengalaman spiritual di dalam tabernakel gereja. Meskipun kedua pemandangan tersebut menerangi objek arsitektur suci yang sama, perbedaan dalam komposisi pencahayaan menciptakan kualitas ruang dan respons emosional yang sama sekali berbeda.
Pencahayaan yang Ada - lampu sorot kecil menimbulkan titik silau dan titik cahaya yang terlalu terang
Strategi Penerangan Tabernakel yang Ada Saat Ini
Beberapa Lampu Sorot Kecil dengan Pencahayaan yang Terfragmentasi
Tabernakel yang ada saat ini diterangi menggunakan beberapa sumber lampu sorot kecil dengan distribusi sinar yang sempit. Meskipun strategi ini meningkatkan kecerahan di area tertentu, hal ini juga menimbulkan: silau pantulan yang berlebihan, pencahayaan yang terpecah-pecah, transisi terang-gelap yang tajam, kesan berantakan secara visual, distribusi kecerahan yang tidak merata, serta tidak adanya titik fokus.
Berbagai titik terang yang bertebaran menciptakan suasana yang secara visual terasa ramai, di mana mata terus-menerus berpindah antara area-area yang diterangi secara terpisah, alih-alih memandang komposisi altar sebagai titik fokus sakral yang utuh. Persepsi pencahayaan tersebut terasa: kontrasnya terlalu tajam, terfragmentasi, secara visual terlalu mencolok dan berisik, kurang tenang, serta kurang mampu menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam.
Lampu sorot dengan sinar yang sempit juga menciptakan area-area gelap yang berlebihan di antara permukaan-permukaan yang diterangi, sehingga narasi pahatan dan ukiran arsitektural tampak terpisah satu sama lain. Meskipun dramatis, pencahayaan tersebut kurang memiliki harmoni komposisi secara keseluruhan dan mengurangi nuansa kontemplatif yang diharapkan dalam arsitektur suci.
Pengujian Mockup - Menonjolkan Warna Emas dan Hierarki Visual
Mock Up Pencahayaan Tabernakel
Penerangan Berlapis dan Hierarkis
Strategi pencahayaan pada maket ini bergeser ke arah komposisi yang lebih terintegrasi dan berlapis, dengan hierarki visual yang lebih baik serta keseimbangan luminansi yang terkendali. Pencahayaan pada maket tersebut menciptakan suasana sakral yang lebih halus dan padu dengan menonjolkan kehangatan keemasan alami serta kekayaan material dari arsitektur altar bersejarah tersebut.
Strategi ini menghasilkan: hierarki visual yang lebih kuat, keseimbangan kecerahan yang lebih baik, pengurangan persepsi silau, peningkatan kontinuitas spasial, kedalaman visual yang lebih besar, suasana sakral yang lebih terasa, serta menonjolkan warna cat keemasan.
Salib menjadi titik fokus spiritual utama, sementara relief dan ukiran hias di sekelilingnya tetap terhubung secara visual tanpa saling bersaing secara berlebihan untuk menarik perhatian. Kesan pencahayaan kini terasa: lebih sakral dan kontemplatif, lebih teratur secara visual, lebih kaya akan kedalaman dan tekstur, lebih membenamkan emosi, lebih tenang, dan lebih penuh penghormatan
Alih-alih membuat komposisi tabernakel terkesan terpecah-pecah, pencahayaan kini menciptakan kedalaman berlapis dan kontras yang lembut, yang secara alami mengarahkan pandangan mata melintasi narasi altar. Hasilnya adalah suasana pencahayaan yang terasa lebih harmonis, kontemplatif, dan memikat secara emosional, sekaligus tetap mempertahankan fokus visual yang tepat serta rasa khidmat di dalam ruang suci tersebut.
Tergantung pada Rasio Cahaya Latar Belakang
Studi pencahayaan ini mengkaji bagaimana rasio pencahayaan antara objek dan latar belakang memengaruhi persepsi visual, suasana emosional, dan hierarki spasial di dalam lingkungan arsitektur sakral.
Alih-alih hanya mengandalkan kecerahan secara keseluruhan, pendekatan desain ini mengevaluasi bagaimana kontras yang diatur secara tepat antara subjek dan latar belakang dapat memengaruhi fokus, persepsi kedalaman, serta respons emosional manusia.
Tergantung pada Latar Belakang dengan Rasio Kontras Tinggi
Fokus yang Lebih Kuat dan Penekanan yang Dramatis
Dalam pencahayaan kontras tinggi, komposisi pencahayaan ini menghasilkan rasio kontras subjek terhadap latar belakang yang lebih tinggi dengan cara mengurangi pencahayaan latar belakang dan meningkatkan pemisahan visual antara pembicara dan arsitektur di sekitarnya.
Strategi ini menghasilkan:
Penekanan visual yang lebih kuat pada subjek
Rasa kedalaman yang lebih kuat
Suasana yang lebih dramatis
Pengurangan gangguan latar belakang
Penekanan yang lebih kuat pada subjek
Subjek - Rasio Pencahayaan Latar Belakang - Kontras Tinggi
Latar belakang yang lebih gelap membuat sosok manusia tampak lebih jelas menonjol dari ruang tersebut, sehingga meningkatkan hierarki visual dan mengarahkan perhatian penonton secara lebih terarah kepada pembicara. Persepsi pencahayaan tersebut terasa: lebih intim, lebih sinematik, lebih berfokus pada emosi, lebih dramatis secara visual, dan lebih kontemplatif.
Pendekatan ini sangat efektif untuk: Situasi komunikasi yang berfokus pada kamera, presentasi yang direkam, lingkungan siaran, momen-momen emosional atau reflektif, serta penceritaan dalam khotbah yang dramatis atau kontemplatif,
Tergantung pada Latar Belakang dan Rasio Kontras Sedang
Visibilitas yang Seimbang dan Integrasi Spasial
Dalam Pencahayaan dengan Rasio Kontras Sedang, komposisi pencahayaan ini menerapkan rasio kontras sedang antara subjek dan latar belakang, di mana baik subjek maupun latar belakang altar tetap terlihat terhubung dalam bidang pandang. Pendekatan ini menghasilkan: Transisi visual yang lebih halus, persepsi ruang yang seimbang, visibilitas wajah yang nyaman, penampilan warna kulit yang alami, serta kesadaran kontekstual yang lebih baik terhadap latar belakang arsitektural.
Subjek - Rasio Pencahayaan Latar Belakang - Kontras Sedang
Rasio kontras sedang ini memungkinkan pembicara tetap menjadi fokus visual utama sekaligus mempertahankan altar suci sebagai latar belakang ruang yang penting. Persepsi pencahayaan terasa: hangat dan ramah, seimbang secara spasial, tenang dan mendukung percakapan, serta terintegrasi secara arsitektural.
Kondisi pencahayaan ini cocok untuk: ceramah keagamaan, interaksi komunitas, siaran ibadah hybrid, komunikasi pendidikan atau pastoral, serta situasi yang membutuhkan kejelasan subjek sekaligus konteks lingkungan.
Lukisan Dinding Via Crucis karya Theo Molkenboer
Studi pencahayaan ini menunjukkan bagaimana kualitas reproduksi warna dan tingkat pencahayaan secara signifikan memengaruhi persepsi visual, suasana emosional, serta daya baca artistik dari lukisan dinding Via Crucis karya Theo Molkenboer.
Alih-alih hanya berfungsi sebagai penerangan, pencahayaan tersebut menjadi sarana untuk menonjolkan detail artistik, kekayaan warna bahan, dan narasi spiritual dalam karya seni sakral tersebut.
Penerangan yang Ada - Indeks Reproduksi Warna Rendah - Tingkat Lux Rendah
Lukisan Dinding dengan Pencahayaan yang Sudah Ada
Indeks Reproduksi Warna Rendah — Tingkat Lux Rendah
Kondisi pencahayaan saat ini menghasilkan kejernihan visual yang terbatas akibat tingkat pencahayaan yang tidak memadai dan kualitas reproduksi warna yang buruk.
Lukisan dinding itu tampak:
Suram dan tampak terkompresi
Kurangnya pemisahan nada
Kekayaan bahan yang rendah
Penurunan keterbacaan artistik
Persepsi warna yang datar
Secara visual terkesan hambar dan kurang menggugah emosi
Indeks Reproduksi Warna (CRI) yang rendah mengurangi kemampuan pencahayaan untuk menampilkan pigmen, tekstur, dan nuansa warna asli dari karya seni tersebut secara akurat.
Akibatnya:
Warna kulit terlihat kusam
Lapisan warna hangat menjadi kusam
Detail artistik yang halus menjadi hilang
Kedalaman dan dimensi menjadi berkurang
Narasi mural tersebut menjadi kurang ekspresif secara visual
Tingkat pencahayaan yang rendah semakin mengurangi keunggulan visual mural tersebut di dalam ruang suci, sehingga karya seni tersebut justru tenggelam dalam kegelapan alih-alih menjadi titik fokus spiritual dan artistik yang penting.
Persepsi secara keseluruhan terasa:
Gelap dan secara visual sederhana
Kurang menarik
Kurang mendalam secara emosional
Kurang terkait dengan tujuan naratif sakral dari karya seni tersebut
Pencahayaan Mock-Up Erco - Indeks Reproduksi Warna yang Lebih Tinggi - Tingkat Lux yang Lebih Tinggi
Lukisan Dinding dengan Efek Pencahayaan Mock-up
Indeks Reproduksi Warna yang Lebih Tinggi — Tingkat Lux yang Lebih Tinggi
Pada gambar di bawah ini, kondisi pencahayaan yang lebih baik secara signifikan meningkatkan persepsi visual dan emosional terhadap mural tersebut berkat pencahayaan dengan CRI yang lebih tinggi serta tingkat lux yang ditingkatkan, namun tetap terkendali.
Pencahayaan kini memperlihatkan:
Ketepatan warna yang lebih baik
Pemisahan nada yang lebih baik
Tekstur bahan yang lebih baik
Detail artistik yang lebih baik
Hierarki visual yang lebih baik
Keterbacaan narasi yang lebih baik
Pencahayaan dengan CRI yang lebih tinggi mengembalikan kehangatan dan keragaman palet warna mural aslinya, sehingga memungkinkan:
Warna kulit agar terlihat lebih alami
Pigmen emas dan warna-warna tanah agar tampil lebih cerah
Goresan kuas yang halus dan teksturnya mulai terlihat
Kedalaman visual dan susunan lapisan agar terasa lebih berdimensi
Tingkat pencahayaan yang lebih tinggi meningkatkan visibilitas sekaligus mempertahankan suasana sakral yang hangat dan penuh renungan.
Alih-alih terlihat datar atau pudar, mural tersebut kini menjadi:
Lebih hidup secara visual
Lebih menggugah emosi
Lebih ekspresif secara spiritual
Lebih terintegrasi secara arsitektural dengan interior gereja
Model pencahayaan di balkon ruang bawah tanah
Model Proyeksi Pencahayaan untuk Plakat Peringatan di Lobi Katedral Jakarta
Apa itu konsep pencahayaan arsitektural sakral?
Studi pencahayaan menggunakan model tiruan ini menunjukkan bahwa kualitas pencahayaan dalam arsitektur suci tidak dapat diukur hanya berdasarkan tingkat pencahayaan semata.
Berbagai strategi pencahayaan menciptakan persepsi yang sangat berbeda mengenai suasana, spiritualitas, kenyamanan emosional, dan pengalaman arsitektural. Melalui pengendalian yang cermat terhadap hierarki luminansi, reproduksi warna, kontras, dan fokus visual, pencahayaan menjadi lebih dari sekadar penerangan teknis — ia menjadi sarana untuk kontemplasi, penghormatan, dan hubungan antarmanusia.
Bagi ruang-ruang keagamaan bersejarah seperti Katedral Jakarta, desain pencahayaan yang cermat memainkan peran penting dalam melestarikan tidak hanya warisan arsitektur, tetapi juga nuansa emosional dan spiritual yang dirasakan oleh jemaat dan pengunjung.
Penelitian ini mencerminkan pendekatan pencahayaan yang lebih luas dan berpusat pada manusia, di mana cahaya dirancang bukan untuk mendominasi ruang, melainkan untuk secara halus mendukung suasana sakral, kenyamanan visual, dan pengalaman spiritual yang bermakna.
Informasi Proyek
Proyek: Pencahayaan Arsitektural Katedral Jakarta
Lokasi: Jakarta, Indonesia
Layanan: Desain Pencahayaan Arsitektur Bersejarah dan Warisan Budaya
Ruang Lingkup: Pembuatan Model Pencahayaan, Evaluasi Visual, Penilaian Kualitas Pencahayaan
Consultant: Herwin Gunawan / ALTA Integra
Tahun: 2024
Proses Desain Pencahayaan Warisan Suci Gereja Katedral Jakarta
Discover how ALTA Integra transformed the iconic Jakarta Cathedral with a specialized lighting concept. This portfolio piece explores the design strategy used to enhance the sacred Neo-Gothic architecture while ensuring heritage preservation for Indonesia's landmark church.
Pencahayaan pada tempat ibadah bersejarah menuntut rasa hormat yang mendalam terhadap arsitektur bersejarah, liturgi keagamaan, dan pelestarian struktur bangunan. Studi kasus ini menguraikan proses desain pencahayaan yang cermat dan didasarkan pada data, yang digunakan untuk merevitalisasi interior Katedral Jakarta bergaya Neo-Gotik yang ikonik.
Fase 1
Studi Warisan Arsitektur
Studi Liturgi
Penilaian Kualitas Pencahayaan yang Ada
Sebelum memasang perlengkapan pencahayaan baru, audit empiris menyeluruh terhadap lingkungan pencahayaan yang ada wajib dilakukan untuk menjaga status warisan budaya bangunan tersebut.
Pengujian Spektral dan Intensitas Cahaya: Dengan memanfaatkan alat diagnostik canggih (seperti teknologi spektrometer UPRtek), kami memetakan tingkat cahaya sekitar dan indeks reproduksi warna di seluruh ruang utama dan ruang suci.
Temuan Data: Penilaian awal menunjukkan tingkat pencahayaan dasar sebesar 44,0 lux di tingkat bangku gereja, dengan distribusi intensitas yang sangat tidak merata (dengan tingkat efisiensi berkisar antara 25% hingga 46% di berbagai zona).
Mengidentifikasi Kekurangan: Kontras yang tinggi dan area gelap di bagian kubah atas mengurangi kesan megah dari vertikalitas gaya Neo-Gotik katedral tersebut, sementara pencahayaan fungsional yang tidak memadai mengganggu keterbacaan teks-teks liturgi.
Fokus Pelestarian Warisan Budaya: Lampu-lampu model lama yang memancarkan sinar UV tinggi dan panas telah diidentifikasi untuk diganti guna melindungi ukiran kayu, lukisan, dan artefak suci berusia berabad-abad dari degradasi fotokimia.
Fase 2
Desain Pencahayaan Konseptual
Simulasi Pencahayaan 3D & Pemetaan Digital Twin
Untuk menjamin keamanan struktural dan ketepatan visual sebelum proses pemasangan fisik dimulai, telah dirancang sebuah digital twin dari Katedral Jakarta.
Analisis Kuantitatif Warna Palsu
Dengan menggunakanperangkat lunak simulasi pencahayaan khusus, interior katedral dimodelkan untuk menghitung distribusi lux yang tepat, tingkat silau, dan reflektansi permukaan. Hasil rendering dengan warna palsu ini memungkinkan para pemangku kepentingan untuk memvisualisasikan secara tepat bagaimana cahaya berperilaku di sepanjang kubah berusuk yang rumit dan lengkungan runcing.
Penggambaran Material Kualitatif
Secara bersamaan, dihasilkan pula rendering 3D berskala abu-abu untuk mengkaji interaksi antara cahaya dan bayangan (chiaroscuro), guna memastikan bahwa integritas arsitektural serta kedalaman pilar-pilar batu dan kayu tersebut justru ditonjolkan, bukan justru terlihat datar, oleh skema baru tersebut.
Fase 3
Wireframe Konseptual 2D
Integrasi Struktural
Salah satu tantangan utama dalam pelestarian warisan budaya adalah menyematkan teknologi modern ke dalam arsitektur bersejarah tanpa mengubah struktur fisik bangunan tersebut.
Penempatan Lampu Tanpa Intervensi: Skema kerangka 2D ini menggambarkan penempatan yang tepat dari lampu sorot arsitektural yang terpasang di bagian atas kolom.
Menonjolkan Arsitektur: Dengan menerangi permukaan lengkungan runcing menggunakan cahaya hangat yang terarah, desain ini mengarahkan pandangan ke atas, sekaligus menonjolkan keunggulan rekayasa struktural katedral tersebut.
Prinsip Desain yang Dapat Dibongkar Pasang: Sesuai dengan standar konservasi internasional yang ketat, semua dudukan lampu dan jalur penerangan dirancang agar dapat dibongkar pasang sepenuhnya, sehingga tidak meninggalkan kerusakan permanen apa pun pada bata dan batu bersejarah.
Fase 4
Suasana Terakhir
Menyelaraskan Liturgi dan Cahaya
Tujuan akhir dari desain ini adalah untuk menciptakan suasana yang tenang dan kontemplatif yang dapat meningkatkan pengalaman spiritual jemaat.
Skema Pencahayaan Berlapis:
Lapisan Ambient: Pencahayaan yang lembut dengan nuansa hangat yang memantul dari langit-langit berkubah untuk menghasilkan pencahayaan umum yang nyaman dan bebas silau.
Lapisan Aksen: Lampu sorot terarah dengan CRI (Indeks Reproduksi Warna) tinggi yang dirancang khusus untuk Jalan Salib, altar, dan lukisan minyak suci, sehingga menonjolkan warna dan tekstur aslinya.
Lapisan Tugas: Pencahayaan yang terfokus dan dapat diatur kecerahannya, yang diarahkan secara tepat ke bangku-bangku jemaat dan ruang ibadah untuk membaca naskah dan buku nyanyian.
Kontrol Liturgi Cerdas: Seluruh sistem terintegrasi ke dalam kerangka kerja kontrol digital, sehingga memungkinkan staf gereja beralih dengan mudah di antara berbagai suasana—mulai dari misa harian yang khusyuk hingga perayaan meriah yang diterangi cahaya terang seperti Natal dan Paskah.
Informasi Proyek
Proyek: Pencahayaan Arsitektural Katedral Jakarta
Lokasi: Jakarta, Indonesia
Layanan: Desain Pencahayaan Arsitektur Bersejarah dan Warisan Budaya
Ruang Lingkup: Pembuatan Model Pencahayaan, Evaluasi Visual, Penilaian Kualitas Pencahayaan
Consultant: Herwin Gunawan / ALTA Integra
Tahun: 2024
Auditorium Universitas Mandiri - Integrasi Desain Audiovisual, Akustik, dan Pencahayaan
ALTA Integra beauty contest winner collaboration with Duta Cermat Mandiri DCM Architect designed Acoustic Lighting Audiovisual High Technology Auditorium at Mandiri University Wijaya Kusuma Jakarta . Multidisciplinary auditorium consultancy for Mandiri University integrating architectural acoustics, lighting design, and audiovisual systems to create a high-performance hybrid learning and communication environment.
Integrasi Audiovisual Berkinerja Tinggi yang Lancar
Ruang Pembelajaran yang Efektif untuk Rapat Zoom, Konferensi Video, Presentasi Multimedia, Siaran Langsung, dan Pertunjukan Musik Langsung di Lingkungan Pendidikan Tinggi
Gambaran Umum Proyek
Auditorium di Universitas Mandiri dirancang sebagai ruang pertemuan akademis dan kelembagaan multifungsi yang mampu mendukung kegiatan perkuliahan, seminar, konferensi, presentasi, pertunjukan, serta kegiatan pembelajaran hybrid dalam lingkungan pendidikan tinggi kontemporer.
Untuk mendukung berbagai fungsi tersebut, proyek ini memerlukan pendekatan terpadu yang menggabungkan sistem audiovisual, akustik arsitektural, dan perencanaan desain pencahayaan guna menciptakan pengalaman auditorium yang nyaman, fleksibel, dan adaptif secara teknologi.
Ruang lingkup konsultasi ini berfokus pada pengembangan lingkungan yang berorientasi pada kinerja, yang meningkatkan kejelasan ucapan, kenyamanan visual, kualitas komunikasi, dan pengalaman audiens secara keseluruhan, sekaligus menjaga keselarasan arsitektural dan fleksibilitas operasional.
Tantangannya
Auditorium universitas modern kini semakin diharapkan mampu mengakomodasi berbagai jenis acara dalam satu ruang.
Proyek ini menghadirkan beberapa tantangan utama:
Menjaga kejernihan suara dalam berbagai kondisi kepadatan pengunjung
Mendukung format presentasi baik secara langsung maupun hybrid
Menyeimbangkan pengendalian akustik dengan estetika arsitektur
Mengatur kondisi pencahayaan demi kenyamanan penonton dan visibilitas kamera
Mengintegrasikan infrastruktur audiovisual tanpa mengganggu arsitektur interior
Menjamin fleksibilitas untuk acara pendidikan, upacara, dan multimedia
Berbeda dengan ruang kuliah konvensional, auditorium multifungsi memerlukan koordinasi yang cermat antara sistem suara, pencahayaan, komunikasi visual, dan persepsi ruang guna menciptakan lingkungan yang berfungsi secara efektif bagi audiens baik yang hadir secara langsung maupun secara daring.
Proyek ini juga menuntut adanya keseimbangan antara kinerja teknis dengan kemudahan penggunaan operasional jangka panjang serta efisiensi pemeliharaan.
Pendekatan Kami - Menentukan Kinerja Akustik dan Pencahayaan
Pendekatan kami dimulai dengan memandang auditorium sebagai lingkungan komunikasi yang berpusat pada manusia, bukan sekadar ruang acara yang bersifat teknis.
Strategi desain tersebut mengintegrasikan:
Analisis akustik arsitektur
Evaluasi kualitas pencahayaan
Koordinasi sistem audiovisual
Hierarki komunikasi spasial
Pertimbangan terkait pengalaman pengguna
Alih-alih memperlakukan akustik, pencahayaan, dan sistem AV sebagai disiplin ilmu yang terpisah, proyek ini mengembangkan komponen-komponen tersebut sebagai lapisan-lapisan yang saling terhubung dan memengaruhi persepsi penonton, kejelasan komunikasi, serta kenyamanan ruang.
Strategi akustik tersebut berfokus pada peningkatan:
Kejelasan ucapan
Pengendalian gema
Kenyamanan pendengaran penonton
Pengelolaan kebisingan
Konsistensi suara spasial
Pendekatan pencahayaan yang diutamakan:
Hierarki visual
Kenyamanan penonton
Visibilitas pembawa acara
Pencahayaan yang cocok untuk difoto
Kontrol adegan yang fleksibel
Sementara itu, sistem audiovisual tersebut dirancang untuk mendukung:
Lingkungan pembelajaran hibrida
Presentasi digital
Acara multimedia
Infrastruktur komunikasi yang dapat disesuaikan
Pengendalian operasional terpadu
Strategi Kinerja yang Berorientasi pada Manusia
Proyek ini menerapkan strategi kinerja yang berpusat pada manusia, di mana kualitas lingkungan tidak hanya diukur melalui spesifikasi teknis, tetapi juga melalui persepsi manusia dan efektivitas komunikasi.
Desain tersebut mempertimbangkan bagaimana orang-orang:
Dengarkan
Lihat
Fokus
Berkomunikasi
Berinteraksi di dalam lingkungan auditorium
Lingkungan akustik telah dikalibrasi untuk mengurangi kelelahan pendengaran dan meningkatkan kejernihan suara di seluruh area tempat duduk penonton.
Desain pencahayaan telah dirancang dengan cermat agar selaras dengan:
Visibilitas wajah yang nyaman
Pengurangan silau
Adaptasi visual
Keterlibatan penonton
Kinerja kamera dan siaran
Strategi audiovisual tersebut berfokus pada penciptaan pengalaman komunikasi yang intuitif dan lancar bagi para dosen, pembicara, mahasiswa, dan peserta model hybrid.
Dengan memadukan kenyamanan lingkungan dan fungsionalitas teknologi, auditorium ini tidak sekadar menjadi tempat presentasi — melainkan menjadi ruang komunikasi pendidikan yang sangat efektif.
Integrasi Desain
Salah satu aspek utama dari proyek ini adalah koordinasi multidisiplin antara bidang arsitektur, akustik, pencahayaan, dan teknologi audiovisual.
Proses integrasi tersebut mencakup:
Simulasi akustik dan evaluasi bahan
Studi tentang skenario pencahayaan dan hierarki luminansi
Perencanaan infrastruktur audiovisual
Analisis visibilitas tampilan
Koordinasi spasial dengan elemen arsitektur
Integrasi peralatan dalam desain interior
Integrasi yang cermat memastikan bahwa sistem teknis tetap tidak mencolok secara visual sekaligus mendukung kinerja lingkungan yang optimal.
Pendekatan ini meminimalkan kesan berantakan secara visual, meningkatkan kemudahan penggunaan operasional, dan mempertahankan karakter arsitektural interior auditorium.
Hasil
Desain akhir ini menghadirkan lingkungan auditorium yang fleksibel dan berorientasi pada kinerja, yang mampu mendukung komunikasi akademis kontemporer serta kegiatan pembelajaran hibrida.
Strategi akustik dikembangkan untuk mengoptimalkan waktu gema dan kejelasan ucapan dalam kegiatan perkuliahan, konferensi, serta lingkungan pembelajaran hibrida.
Melalui jasa konsultasi terintegrasi di bidang akustik, pencahayaan, dan audiovisual, auditorium ini berhasil mewujudkan:
Peningkatan kejelasan ucapan
Peningkatan kenyamanan penonton
Visibilitas presentasi yang lebih baik
Kemampuan multimedia yang fleksibel
Kualitas komunikasi yang berpusat pada manusia
Integrasi teknologi yang mulus
Proyek ini menunjukkan bagaimana desain lingkungan multidisiplin dapat mengubah ruang pendidikan—melampaui sekadar infrastruktur teknis konvensional—menjadi lingkungan belajar yang imersif dan efektif.
Alih-alih hanya berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan acara, auditorium ini berubah menjadi ekosistem komunikasi yang adaptif yang mendukung pendidikan, kolaborasi, dan keterlibatan institusional dalam lingkungan universitas modern
Informasi Proyek
Proyek: Universitas Mandiri
Sektor: Pendidikan Tinggi Korporat
Lokasi: Jakarta, Indonesia
Layanan: Sistem Audiovisual, Akustik Bangunan, Akustik Arsitektur, Pencahayaan Arsitektur
Consultant: Herwin Gunawan / ALTA Integra
Tahun: 2022
Integrasi Desain Audiovisual, Pencahayaan, dan Akustik Karnaval Thamrin Hiburan Masyarakat
Collaboration with Morin Architect ALTA Integra designed Interior Acoustic Lighting Audio Visual Design Consultant Karnaval Thamrin A dining and night club spot at Thamrin City Jakarta
Tempat Serbaguna untuk Gaya Hidup dan Hiburan
Gambaran Umum Proyek
Karnaval Thamrin dikembangkan sebagai destinasi gaya hidup dan kuliner modern yang memadukan pengalaman bersantap, hiburan, interaksi sosial, dan pengalaman kebersamaan dalam lingkungan perkotaan yang dinamis di Jakarta Pusat.
Terinspirasi oleh semangat budaya kota kontemporer, proyek ini memadukan suasana arsitektur modern dengan pengalaman keramahan yang dinamis, yang dirancang untuk menarik para profesional muda, komunitas, keluarga, dan pengunjung kota yang mencari destinasi bersosialisasi yang semarak namun nyaman.
To support the experiential character of the venue, Morin Architect, Herwin Gunawan and ALTA Integra team provided acoustic, lighting, and audiovisual consultancy services aimed at creating a human-centered mixed-entertainment experience where sound, light, and communication systems work cohesively with the architectural atmosphere.
Pendekatan konsultasi tersebut berfokus pada penciptaan keseimbangan:
Kenyamanan akustik di ruang-ruang perhotelan yang ramai
Kualitas pencahayaan yang menciptakan suasana
Sistem komunikasi dan hiburan audiovisual
Kesejahteraan pengunjung dan kenyamanan sensorik
Suasana arsitektural dan identitas ruang
Alih-alih memandang teknologi sekadar sebagai infrastruktur teknis, proyek ini mengintegrasikan sistem audiovisual, pencahayaan panggung dan pencahayaan arsitektural untuk hiburan, serta lingkungan akustik sebagai instrumen desain berbasis pengalaman yang membentuk suasana hati, kualitas komunikasi, persepsi emosional, dan interaksi sosial di seluruh area venue.
Hasilnya adalah lingkungan gaya hidup perkotaan kontemporer yang terasa dinamis, imersif, dan memfasilitasi interaksi sosial, sekaligus tetap menjaga kenyamanan visual, keseimbangan akustik, dan kualitas lingkungan bagi para pengunjung.
Pengalaman Bersantap Santai Bergaya Kontemporer
Tantangannya
Tempat-tempat gaya hidup serba guna masa kini menghadirkan tantangan lingkungan yang semakin kompleks akibat integrasi kafe, tempat makan, bar, area hiburan, dan fungsi interaksi sosial publik dalam lingkungan yang terfragmentasi.
Proyek tersebut memerlukan penyeimbangan:
Kenyamanan akustik di lingkungan sosial yang dinamis
Suasana pencahayaan di berbagai ruang dengan karakteristik berbeda
Fleksibilitas audiovisual untuk berbagai acara dan hiburan
Kejelasan ucapan di area berkumpulnya orang banyak
Kenyamanan visual bagi pengunjung
Integrasi sistem teknis dalam desain interior arsitektur
Salah satu tantangan utama adalah menciptakan suasana hiburan gaya hidup yang dinamis dan imersif, sekaligus menjaga kenyamanan lingkungan dengan mengendalikan pantulan suara yang tidak diinginkan, meminimalkan gangguan kebisingan terhadap hotel dan kawasan perumahan di sekitarnya, mengurangi stimulasi visual berlebihan akibat pencahayaan yang berlebihan, serta memastikan distribusi audiovisual yang seimbang di seluruh area venue.
Gema yang berlebihan, penyebaran kebisingan yang tidak terkendali, pencahayaan yang terlalu terang, atau sistem audiovisual yang terpisah-pisah dapat berdampak negatif terhadap kenyamanan pengunjung, pengalaman emosional, dan kualitas ruang secara keseluruhan. Oleh karena itu, proyek ini membutuhkan strategi multidisiplin yang matang dan mampu menyeimbangkan kinerja, suasana, teknologi, dan pengalaman manusia secara bersamaan.
Pendekatan Kami
Pendekatan kami dimulai dengan memahami Karnaval Thamrin bukan sekadar sebagai ruang komersial, melainkan sebagai lingkungan pengalaman yang berpusat pada manusia, di mana kualitas lingkungan secara langsung memengaruhi cara orang berinteraksi, berkomunikasi, dan menjalin ikatan emosional dengan ruang tersebut.
Strategi desain tersebut mengintegrasikan:
Evaluasi akustik arsitektural
Pengembangan suasana pencahayaan
Koordinasi sistem audiovisual
Pertimbangan terkait perilaku manusia
Hierarki komunikasi spasial
Analisis kenyamanan lingkungan
Strategi desain akustik tersebut berfokus pada:
Mengelola gema dan penumpukan kebisingan
Meningkatkan kejelasan ucapan
Meningkatkan kenyamanan pendengaran
Mendukung kualitas interaksi sosial
Menyeimbangkan suasana yang penuh energi dengan pengendalian akustik
Strategi pencahayaan tersebut menekankan:
Pencahayaan atmosferik berlapis
Hierarki visual
Peningkatan material
Kenyamanan penglihatan manusia
Kemampuan beradaptasi yang fleksibel terhadap situasi
Perubahan suasana dari siang ke malam
Sementara itu, konsultan audiovisual tersebut memberikan dukungan:
Kemampuan penyelenggaraan acara yang fleksibel
Distribusi musik latar
Sistem komunikasi digital
Pengalaman dalam keterlibatan masyarakat
Infrastruktur hiburan yang dapat disesuaikan
Pendekatan secara keseluruhan tersebut memastikan bahwa sistem lingkungan memberikan kontribusi positif baik terhadap kinerja operasional maupun pengalaman emosional pengguna.
Strategi Kinerja yang Berorientasi pada Manusia
Proyek ini menerapkan strategi lingkungan yang berpusat pada manusia, di mana kinerja dievaluasi tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga melalui persepsi, kenyamanan, dan respons emosional manusia.
Desain ini secara cermat mempertimbangkan bagaimana pengunjung secara emosional memandang dan mengalami lingkungan melalui interaksi sensorik dan sosial, termasuk cara mereka mendengar, melihat, mencium, merasakan, bergerak, berkomunikasi, dan bersosialisasi di dalam ruang tersebut.
Strategi akustik dikembangkan untuk mengurangi kelelahan akibat kebisingan yang berlebihan sekaligus mempertahankan suasana sosial yang semarak di tempat tersebut. Desain pencahayaan menyeimbangkan rangsangan visual dengan kenyamanan melalui pengaturan: hierarki kecerahan, persepsi silau, suhu warna, suasana warna dinamis, serta kontras spasial untuk menciptakan suasana yang berbeda-beda.
Sistem audiovisual dirancang untuk mendukung pertunjukan band langsung, hiburan DJ, dan musik latar lounge yang menenangkan, sementara sistem visual memungkinkan pencahayaan dinamis, visual pertunjukan langsung, serta konten multimedia promosi. Pendekatan ini menciptakan lingkungan perhotelan yang lebih imersif dan memikat secara emosional, sekaligus mendukung kegiatan hiburan dan interaksi sosial di seluruh area venue.
Integrasi Desain
Salah satu keunggulan utama proyek ini adalah integrasi antara arsitektur, akustik, pencahayaan, dan teknologi audiovisual sejak tahap awal pengembangan desain.
Proses integrasi tersebut mencakup: Koordinasi material akustik, simulasi skenario pencahayaan, perencanaan infrastruktur audiovisual, strategi penyembunyian peralatan, evaluasi kenyamanan lingkungan, serta integrasi detail arsitektur, struktur bangunan, dan sistem MEP.
Alih-alih membiarkan sistem teknis bersaing secara visual dengan arsitektur, desain ini secara cermat menyatukan sistem kinerja ke dalam bahasa spasial proyek. Metodologi terintegrasi ini meningkatkan: efisiensi operasional, koherensi spasial, kualitas pengalaman pengguna, aksesibilitas pemeliharaan, dan kesederhanaan arsitektural.
Hasilnya adalah sebuah lingkungan di mana teknologi memperkaya suasana tanpa terlihat mengganggu secara visual.
Hasil
Desain akhir ini menghadirkan lingkungan gaya hidup yang dinamis namun nyaman, yang mendukung interaksi sosial, hiburan, keramahan, dan keterlibatan masyarakat dalam sebuah pengalaman arsitektural yang terpadu.
Melalui jasa konsultasi terintegrasi di bidang akustik, pencahayaan, dan audiovisual, Karnaval Thamrin berhasil mewujudkan: Kenyamanan lingkungan yang lebih baik, Suasana ruang yang lebih baik, Kualitas audiovisual dan komunikasi yang lebih baik, Kemampuan skenario yang fleksibel, Pengalaman pengunjung yang berpusat pada manusia, serta Kinerja teknologi arsitektur yang terintegrasi
Proyek ini menunjukkan bagaimana desain lingkungan multidisiplin dapat mengubah ruang komersial dan perhotelan menjadi lingkungan yang memikat secara emosional dan berorientasi pada kinerja, yang mendukung baik tujuan bisnis maupun kesejahteraan manusia.
Alih-alih hanya berfungsi sebagai tempat perbelanjaan atau hiburan, Karnaval Thamrin menjadi lingkungan sosial perkotaan yang imersif, yang terbentuk melalui integrasi yang cermat antara suara, cahaya, dan pengalaman arsitektural yang berpusat pada manusia.
Skenario Hiburan
Informasi Proyek
Nama Proyek: Karnaval Thamrin
Lokasi: Jakarta, Indonesia
Jenis Proyek: Destinasi Gaya Hidup, Perhotelan, dan Hiburan
Layanan: Desain Sistem Audiovisual, Desain Pencahayaan Panggung dan Arsitektural, Jasa Konsultasi Akustik Bangunan dan Arsitektural, Integrasi Teknologi Hiburan, serta Desain Pengalaman Lingkungan
Consultant: Herwin Gunawan / ALTA Integra
Tahun: 2023
Warna sebagai Sarana Komunikasi: Uji Coba Desain Pencahayaan Fasad Katedral Jakarta
Sebuah studi desain pencahayaan fasad untuk Katedral Jakarta yang mengeksplorasi bagaimana warna dapat berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengekspresikan makna liturgi, suasana emosional, identitas budaya, dan signifikansi upacara, sekaligus menjaga martabat sebuah landmark keagamaan bersejarah.
Gambaran Umum Proyek
Sebagai salah satu landmark warisan budaya paling ikonik di Jakarta, Katedral Jakarta telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kota ini sejak masa kolonial Belanda. Katedral ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi hidup atas perkembangan sosial, budaya, dan arsitektur ibu kota Indonesia.
Selama beberapa dekade, katedral ini telah menjadi simbol yang kuat bagi kerukunan beragama, yang menunjukkan bagaimana iman, budaya, dan komunitas dapat hidup berdampingan dalam masyarakat perkotaan yang beragam. Keberadaannya di kawasan bersejarah Jakarta terus berkontribusi terhadap identitas budaya dan memori kolektif kota ini.
Untuk melestarikan warisan ini, Katedral Jakarta tetap berkomitmen untuk terus melestarikan dan meningkatkan lingkungan arsitekturalnya. Upaya-upaya ini memastikan bahwa katedral tersebut tetap berfungsi baik sebagai bangunan warisan yang berharga maupun sebagai rumah rohani yang hidup bagi umat Katolik di Jakarta.
Salah satu upaya tersebut adalah mengkaji bagaimana Katedral Jakarta menceritakan kisahnya pada malam hari melalui pencahayaan arsitektural. Pencahayaan arsitektural sering dipandang sebagai sarana untuk meningkatkan visibilitas dan estetika. Namun, dalam arsitektur sipil, budaya, dan keagamaan, cahaya dapat memainkan peran yang jauh lebih luas—sebagai media komunikasi.
“Warisan budayadan sejarah merupakan harta karun yang tak tergantikan dan tak ternilai harganya. Warisan ini merupakan warisan yang sangat penting bagi masyarakat lokal, bangsa-bangsa, dan seluruh umat manusia, yang menghubungkan generasi-generasi masa lalu dengan masa kini dan masa depan.”
Studi pengujian warna pencahayaan fasad Katedral Jakarta ini disusun untuk mengkaji bagaimana berbagai warna pencahayaan memengaruhi persepsi masyarakat, suasana emosional, makna simbolis, serta hubungan katedral dengan kota pada malam hari.
Sebagai salah satu landmark keagamaan dan budaya terpenting di Indonesia, Katedral Jakarta secara rutin menjadi tuan rumah perayaan liturgi besar, peringatan nasional, acara antaragama, serta kunjungan internasional. Proyek ini meneliti bagaimana pencahayaan fasad dapat memberikan fleksibilitas untuk mengkomunikasikan berbagai acara tersebut sambil tetap menjaga martabat, nilai warisan, dan karakter sakral katedral.
Alih-alih memandang pencahayaan yang berubah warna sebagai elemen dekoratif, penelitian ini memandang warna sebagai bahasa visual yang mampu mengekspresikan identitas, perayaan, kenangan, solidaritas, dan spiritualitas.
Pencahayaan arsitektural bukan sekadar soal penerangan. Warna menjadi bahasa visual yang mampu menyampaikan makna, perayaan, kenangan, spiritualitas, dan identitas budaya.
Uji coba warna pencahayaan fasad Katedral Jakarta ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana berbagai warna memengaruhi persepsi masyarakat, respons emosional, serta ekspresi simbolis dari salah satu landmark keagamaan terpenting di Indonesia.
Penelitian ini menyelidiki bagaimana pencahayaan dapat mendukung:
Perayaan keagamaan
Masa-masa liturgi
Perayaan nasional
Acara budaya
Inisiatif kerukunan antaragama
Acara-acara seremonial khusus
tanpa mengorbankan martabat dan nilai warisan katedral tersebut.
Kontur Fasad Bangunan, Cahaya, dan Bayangan Menjelang Matahari Terbenam
Tantangannya
Bangunan-bangunan keagamaan bersejarah memikul tanggung jawab yang unik dalam lingkungan perkotaan.
Berbeda dengan bangunan komersial, di mana pencahayaan dinamis sering digunakan untuk tujuan branding dan daya tarik, arsitektur keagamaan bersejarah memerlukan pendekatan yang lebih sensitif. Setiap intervensi pencahayaan harus menghormati integritas arsitektural bangunan, signifikansi budayanya, dan suasana spiritualnya.
Tantangan utamanya adalah menemukan keseimbangan antara:
Prinsip-prinsip pelestarian warisan budaya
Keaslian arsitektur
Identitas suci
Kebutuhan komunikasi publik
Visibilitas landmark pada malam hari
Tanggung jawab lingkungan
Proyek ini juga perlu menjawab sebuah pertanyaan penting:
Bagaimana sebuah katedral bersejarah dapat menyampaikan berbagai pesan dan acara upacara melalui pencahayaan tanpa mengorbankan karakter arsitekturnya yang abadi?
Tim desain menyadari bahwa warna memiliki kemampuan untuk membangkitkan respons emosional dan makna simbolis. Namun, penggunaan warna yang berlebihan atau komposisi pencahayaan yang tidak tepat dapat dengan mudah mengurangi kesakralan dan martabat yang diharapkan dari sebuah landmark suci.
Oleh karena itu, proses pengujian ini difokuskan pada identifikasi pendekatan pencahayaan yang dapat memperkaya komunikasi sekaligus tetap menghormati makna religius katedral tersebut.
Analisis Kontur Fasad Bangunan, Pengujian Posisi Pencahayaan, dan Persepsi Terhadap Cahaya dan Bayangan
Pendekatan Kami
Dalam menyusun strategi pencahayaan malam hari, kami terlebih dahulu mempelajari bagaimana kontur arsitektural, proporsi, dan hierarki visual katedral tersebut dipersepsikan pada kondisi siang hari. Pemahaman terhadap bentuk bangunan di bawah cahaya alami memungkinkan kami mengidentifikasi elemen-elemen arsitektural utama yang menentukan karakter serta signifikansi historisnya.
Kami kemudian melakukan serangkaian pemodelan dan simulasi pencahayaan, dengan mengevaluasi berbagai tingkat pencahayaan, kualitas cahaya, komposisi warna, penempatan perlengkapan pencahayaan, dan sudut sinar. Simulasi-simulasi ini memungkinkan kami menilai bagaimana berbagai pendekatan pencahayaan akan berinteraksi dengan arsitektur Neo-Gotik katedral tersebut dan memengaruhi identitasnya pada malam hari.
Melalui proses ini, kami menganalisis bagaimana keseimbangan antara cahaya dan bayangan dapat menonjolkan kontur bangunan, detail arsitektural, serta ekspresi vertikalnya. Alih-alih sekadar membuat katedral tersebut lebih terang, tujuannya adalah menciptakan komposisi visual yang menyampaikan kedamaian, kemegahan, keagungan, dan rasa takjub—sehingga pengunjung dapat menghayati kehadiran spiritual sekaligus warisan sejarah yang kaya dari salah satu landmark keagamaan terpenting di Indonesia.
Penelitian ini mengkaji serangkaian skenario warna pencahayaan fasad untuk memahami bagaimana komposisi pencahayaan yang berbeda memengaruhi persepsi arsitektural dan respons emosional. Alih-alih mengevaluasi warna semata-mata dari sudut pandang estetika, pengujian ini meneliti:
Makna simbolis
Organisasi kebudayaan
Makna keagamaan
Persepsi emosional
Kejelasan arsitektural
Identitas perkotaan di malam hari
Berbagai skenario pencahayaan telah dikembangkan dan dievaluasi secara visual untuk memahami bagaimana ciri-ciri arsitektur Neo-Gotik katedral tersebut bereaksi terhadap palet warna yang berbeda-beda. Perhatian khusus diberikan pada pelestarian:
Visibilitas detail arsitektur
Keaslian bahan
Hierarki visual
Proporsi bangunan
Suasana yang sakral
Proses pengujian tersebut memungkinkan para pemangku kepentingan untuk membandingkan bagaimana warna-warna yang berbeda memengaruhi persepsi terhadap bangunan yang sama, sekaligus tetap mempertahankan identitas arsitektur yang konsisten.
Warna: Makna Liturgis dan Persepsi Emosional
Proyek ini mengadopsi filosofi pencahayaan yang berpusat pada manusia, yang mengakui bahwa manusia tidak sekadar melihat warna—melainkan menafsirkannya secara emosional. Warna yang berbeda dapat menyampaikan pesan yang berbeda dan menciptakan pengalaman emosional yang khas.
Putih Hangat
Pencahayaan putih hangat memperkuat keanggunan abadi dan keaslian arsitektur katedral sekaligus menciptakan rasa ketenangan spiritual dan kenyamanan visual. Dengan menampilkan bangunan tersebut sedemikian rupa sehingga mencerminkan penampilan alami dan karakter materialnya secara akurat, pendekatan pencahayaan ini mendukung suasana ibadah sehari-hari serta menampilkan katedral dalam bentuk yang paling menghormati sejarah dan abadi.
Emas dan Amber
Nuansa pencahayaan berwarna keemasan dan kuning kecokelatan menghadirkan suasana perayaan, kegembiraan, dan kemeriahan keagamaan, sekaligus memperkuat kesan monumental katedral serta kehangatan spiritualnya. Warna-warna ini menciptakan suasana yang ramah dan membangkitkan semangat, yang menonjolkan makna dari peristiwa-peristiwa istimewa, sehingga sangat cocok untuk perayaan keagamaan besar, musim perayaan, dan acara-acara seremonial penting.
Hijau
Warna hijau memiliki makna simbolis yang kaya baik dalam tradisi Kristen maupun dalam persepsi manusia, yang melambangkan harapan, pembaruan, pertumbuhan, dan vitalitas spiritual. Dalam kalender liturgi Katolik, warna hijau dikaitkan dengan Masa Biasa, yang melambangkan ketekunan dalam iman, pertumbuhan spiritual yang berkelanjutan, serta perjalanan hidup sehari-hari sebagai seorang Kristen. Secara emosional, warna hijau membangkitkan rasa harmoni, keseimbangan, kedamaian, dan keterikatan dengan alam, sehingga menciptakan suasana yang ramah dan menenangkan.
Biru
Cahaya biru membangkitkan rasa kedamaian, refleksi, kontemplasi, harapan, dan ketenangan, sehingga menciptakan suasana yang tenang dan memicu perenungan di sekitar katedral. Sifatnya yang lembut dan tenang mendorong momen-momen refleksi pribadi dan hubungan spiritual, sehingga sangat cocok untuk acara-acara yang menuntut peringatan, doa, persatuan, dan ketenangan emosional.
Ungu
Warna ungu memiliki makna liturgi yang mendalam dalam tradisi Katolik dan sangat erat kaitannya dengan masa Adven dan Prapaskah. Warna ini melambangkan persiapan rohani, refleksi, dan pertobatan, serta mendorong masa introspeksi dan pembaruan diri. Ketika diterapkan pada fasad katedral, pencahayaan ungu menciptakan suasana yang khusyuk dan kontemplatif yang mencerminkan perjalanan rohani berupa iman, penantian, dan transformasi pribadi.
Merah
Warna merah memiliki makna simbolis yang mendalam dalam tradisi Katolik, melambangkan Roh Kudus, kemartiran, keberanian, dan semangat. Warna ini sering dikaitkan dengan perayaan keagamaan yang penting dan peringatan yang khusyuk, yang menyampaikan rasa kekuatan spiritual, pengorbanan, dan pengabdian. Ketika diterapkan pada fasad katedral, pencahayaan berwarna merah menciptakan kehadiran yang kuat dan menggugah emosi, yang mencerminkan baik vitalitas iman maupun warisan abadi dari mereka yang dengan berani menjadi saksi iman tersebut.
Dengan memahami hubungan emosional dan simbolis ini, pencahayaan menjadi sarana komunikasi yang mendukung pengalaman manusia yang bermakna, bukan sekadar mengubah penampilan visual.
Pelestarian Warisan Budaya dan Integrasi Teknis
Selain merancang keindahan visual, makna simbolis, dan persepsi emosional, strategi pencahayaan tersebut juga harus menghormati prinsip-prinsip pelestarian warisan budaya dan pemeliharaan bangunan dalam jangka panjang.
Sebagai bangunan warisan budaya yang ditetapkan, setiap intervensi pencahayaan harus meminimalkan dampak fisik terhadap struktur bersejarah tersebut. Oleh karena itu, pemasangan perlengkapan pencahayaan, kabel, braket pemasangan, dan infrastruktur pendukung dikoordinasikan dengan cermat agar sesuai dengan pedoman pelestarian. Perhatian khusus diberikan untuk menghindari metode pemasangan yang invasif, seperti pengeboran atau pembuatan lubang baru pada struktur bersejarah, yang berpotensi mengganggu integritas bangunan atau menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki di masa depan.
Penempatan perlengkapan pencahayaan juga dievaluasi secara cermat untuk mencegah penumpukan panas yang berlebihan di dekat elemen arsitektur yang rentan. Penempatan perlengkapan yang tidak tepat dapat menahan panas dan mempercepat kerusakan bahan-bahan bersejarah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, pertimbangan termal menjadi bagian penting dalam proses evaluasi desain.
Keberlanjutan lingkungan juga sama pentingnya. Strategi pencahayaan ini mengutamakan sumber cahaya yang hemat energi sekaligus mengatur tingkat kecerahan dan distribusi cahaya secara cermat guna meminimalkan penyebaran cahaya yang tidak perlu serta polusi cahaya. Pendekatan ini memastikan bahwa katedral tetap menonjol secara visual di tengah lanskap kota pada malam hari, sekaligus menjaga tanggung jawab lingkungan dan melestarikan martabat salah satu landmark warisan budaya paling penting di Indonesia.
Metodologi terpadu ini menunjukkan bagaimana pencahayaan arsitektural dapat secara bersamaan mendukung pelestarian warisan budaya, kelestarian lingkungan, kinerja teknis, serta penyampaian kisah yang bermakna pada malam hari. Proyek ini menuntut integrasi antara arsitektur, pelestarian warisan budaya, teknologi pencahayaan, dan simbolisme budaya.
Perhatian khusus diberikan untuk memastikan bahwa skenario pencahayaan dinamis tetap berada di bawah arsitektur bangunan itu sendiri. Tujuannya bukanlah untuk mengubah katedral menjadi layar digital, melainkan agar cahaya dapat melengkapi ekspresi arsitektural dan peran seremonial bangunan tersebut dengan penuh penghormatan. Pendekatan ini memastikan bahwa pencahayaan tersebut memperkuat komunikasi sekaligus melestarikan identitas katedral sebagai landmark suci dan bersejarah.
Hasil
Studi pengujian warna menunjukkan bahwa pencahayaan fasad dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang efektif dalam arsitektur warisan budaya.
Warna pencahayaan yang berbeda-beda menciptakan persepsi, emosi, dan makna simbolis yang berbeda-beda, sekaligus memengaruhi cara orang-orang menjalin hubungan dengan bangunan tersebut dan acara-acara yang diwakilinya.
Proyek ini telah menetapkan kerangka kerja untuk skenario pencahayaan di masa depan yang mampu mendukung:
Perayaan keagamaan
Masa-masa liturgi
Perayaan nasional
Acara solidaritas antaragama
Kunjungan internasional
Perayaan budaya
Program pengakuan masyarakat
Yang terpenting, penelitian ini menunjukkan bahwa pencahayaan dinamis dapat sejalan dengan pelestarian warisan budaya jika didasari oleh prinsip-prinsip desain yang matang serta penghormatan terhadap identitas arsitektural.
Proyek uji coba warna pencahayaan fasad Katedral Jakarta menggambarkan bagaimana cahaya dapat menjadi lebih dari sekadar penerangan—cahaya dapat menjadi bahasa yang bermakna yang menghubungkan arsitektur, budaya, keyakinan, dan masyarakat dalam lanskap kota di malam hari.
ALTA Integra is a Building Science and Technology consultancy dedicated to creating human-centered environments through evidence-based design. By studying the relationship between light, sound, space, technology, and human emotion, we help transform buildings into places that inspire wellbeing, strengthen identity, and support a more sustainable future.
Setiap bangunan memiliki kisah yang ingin disampaikan. Melalui desain pencahayaan arsitektural yang cermat, kami membantu mengungkap kisah tersebut—menonjolkan nilai warisan, memperkaya pengalaman manusia, dan menciptakan hubungan yang bermakna antara arsitektur, budaya, dan masyarakat. Kunjungi halaman layanan desain pencahayaan kami untuk mengetahui bagaimana pencahayaan dapat menghidupkan kembali dan memberikan makna baru pada proyek Anda saat malam tiba.
Auditorium Theater Design: Audiovisual, Lighting, Acoustic - Santo Ignatius Kanisius Jakarta
ALTA Integra collaborate with Atelier Cosmas Gozali designed audiovisual acoustic lighting Multi-Function Hall, Education Theater and Library at Kolese Kanisius Menteng Ignatius Loyola New Building for Future Education Facility.
ALTA Integra collaborate with Atelier Cosmas Gozali designed audiovisual acoustic lighting Multi-Function Hall, Education Theater and Library at Kolese Kanisius Menteng Ignatius Loyola New Building for Future Education Facility.
Theater Class
Auditorium Hall
Library
Home Theater Design Integration - Interior Acoustic Lighting Audiovisual - Tulip Sentul
Audiovisual Experiences is the key to be engage with the emotion of the movie in the Home Theater. Followed by acoustics, lighting ambient to support audiovoisual performance, and last but not least the interior design that support the entire experience.
Audiovisual experience is the key to emotionally engaging viewers in a home theater environment, supported by carefully designed acoustics, ambient lighting, and interior design that work together to enhance the overall cinematic experience.
Integrasi Audiovisual Berkinerja Tinggi yang Lancar
Good Acoustic and Good Lighting
Architectural Lighting Design: Mandiri University Hotel Lobby
ALTA Integra winning beauty contest for Acoustic Lighting and Audiovisual Design for Mandiri University - Grade A Education Facility to Produce Superior and Professional Banking Practitioner at the National and ASEA levels.
ALTA Integra beauty contest winner collaboration with Duta Cermat Mandiri DCM Architect designed Beautiful Lighting Lobby at Mandiri University Wijaya Kusuma Jakarta - Grade A Education Facility to Produce Superior and Professional Banking Practitioner at the National and ASEA levels.
Sustainable Retail Fit Out Design: Kiehl’s Central Park Jakarta
Kiehls Central Park Jakarta - The first and the most sustainable retail in Indonesia. Is it the most sustainable retail in the South East Asia?
Is it the Most Sustainable Retail in South East Asia?
Apoteker Perawatan Kulit Kiehls Since 1851 - Sustainable Retail Box pertama di Central Park Jakarta - akankah menjadi toko retail terhijau di Indonesia?
Toko Farmasi tempat John Kiehl memulai karirnya sebagai apoteker perawatan kulit sejak tahun 1851
Kepedulian Kiehls since 1851
Kiehls adalah sebuah perusahaan farmasi kecantikan yang memulai usahanya pada tahun 1851. Pada tahun 1924 Kiehls mempelopori keterbukaan material dengan mencantumkan bahan yang terkandung di dalam produknya. Tahun 2018 Platform Kiehl’s Future Made Better diluncurkan untuk mewujudkan komitmen pembangunan berkelanjutan dalam rangka menjaga keberlangsungan bumi dan kegiatan filantropis lainnya.
Di tahun 2020 Kiehls berhasil meningkatkan persentase kandungan bahan terbarukan pada semua produk perawatan kecantikan sampai dengan 98%. Tahun 2022, Kiehls dibawah manajemen L’oreal menjalankan program Retail Sustainable untuk meningkatkan kenyaman dan kesehatan pekerja dan pelanggan serta membangun dan mengoperasikan toko ramah lingkungan.
Sebagai langkah awal Sustainablity Design team L’oreal International memilih outlet Kiehls di Central Park Jakarta sebagai proyek pertama program Retail Sustainable di Indonesia, dan ALTA Integra terpilih untuk menjadi partner dalam mewujudkan program tersebut.
Sustainable Retail Box
Sustainable Retail Box diadaptasi dari rating US Green Building Council LEED dan International WELL Building Institute rating. Adapun parameter L’oreal Sustaible Retail Box dibagi menjadi 6 kategori sebagai berikut.
Construction & Project Management
Manajemen proyek dan konstruksi melibatkan seluruh stakeholder seperti desainer-kontraktor-landlord dalam proyek sustainable retail, mereview perencanaan kualitas desain dan konstruksi, menjaga kualitas udara saat dan setelah konstruksi, memilah material bongkaran yang dapat digunakan kembali, material bongkaran untuk didaur ulang, sampah berbahaya, dan aspek lainnya.
Building Design & Space Layout
Desain bangunan dan layout ruangan meliputi aksesibilitas difabel, kenyamanan indera penciuman, ergonomic furniture, manajemen sampah operasional toko dan lain-lain.
Materials
Kategori bahan meliputi penggunaan kayu bersertifikat, material eco-label, material dengan kandungan kimia yang terdeklarasi , material dan furniture rendah emisi, dan lain-lain.
Heating, Ventilation & Air Conditioning
Pemanasan, Pendinginan dan Pertukaran Udara meliputi kenyamanan termal sesuai dengan ASHRAE Standard 55-2010, kecepatan sirkulasi udara, tingkat pertukaran udara, sistem filter sirkulasi udara, dan lain-lain.
Lighting & Electricity
Pencahayaan dan Listrik meliputi lighting desain dan automasi hemat energi, penggunaan lampu LED dan perangkat toko hemat energi, perhitungan penggunaan listrik per meter persegi dan pemasangan listrik metering untuk monitor harian, konektifitas internet, pembatasan eksposur elektromagnet dan lain-lain. Selain desain hemat energi, kualitas pencahayaan yang harus dicapai meliputi level pencahayaan di tiap bagian, color temperatur dan color rendering index untuk yang sejalan dengan kualitas produk yang dijual.
Water
Kategori air meliputi ketersediaan air minum untuk pekerja, air yang aman untuk membersihkan uji coba sampel perawatan, strategi desain plumbing agar tercipta penggunaan air yang hemat, pemasangan meter air untuk memonitor penggunaan air harian dan lain-lain.
Pengukuran parameter teknis pencahayaan seperti tingkat pencahayaan (Lux) , correlated color temperature (Kelvin) dan Color Rendering Index sebagai benchmark data untuk penilaian peningkatan performa dan index kepuasan.
ALTA Integra adalah desainer Lingkungan Fisika yang berfokus pada kesehatan manusia dan lingkungan
ALTA Integra dibentuk karena kepercayaan bahwa lingkungan fisika di mana kita hidup, bekerja dan bermain dapat membentuk dan mempengaruhi tubuh, pikiran dan perilaku manusia. Penelitian multi-disiplin yang dilakukan mendukung teori yang menyimpulkan lingkungan fisika dapat meningkatkan kesehatan, kebahagian dan produktifitas.
Sayangnya banyak bangunan yang dirancang tanpa memperhitungkan aspek lingkungan fisika sehingga setelah terbangun memberikan dampak negatif kepada penghuninya seperti suasana cahaya yang tidak nyaman membuat lekas lelah, gangguan suara yang menyulitkan untuk beristirahat, fokus bekerja dan belajar serta beragam masalah yang dapat merusak bumi dan alam.
Untuk itu ALTA Integra selalu fokus dalam mendesain lingkungan fisika bangunan yang dapat mempertimbangkan kepekaan dan kecerdasan indera sehingga bangunan tersebut dapat membuat pengguna dan lingkungannya berkembang secara positif. Untuk informasi lebih lanjut bagaimana Konsultasi Multi-Disiplin Fisika Bangunan yang berfokus pada kesehatan manusia dan alam dapat memberikan nilai tambah buat usaha ANDA, klik tombol dibawah ini.
Acoustic Lighting Audiovisual Design: Indonesia Stock Exchange Main Hall
By The End of 2021 ALTA Integra has succeeded elevated Audiovisual Lighting and Acoustic Experiences in Indonesia Stock Exchange Main Hall to a World-Class Venue. Mid 2020 ALTA Integra was chosen by Indonesia Stock Exchange to be their design consultant partner to elevate IDX Main Hall to World-Class Standard. ALTA was chosen due to its World-Class Reputation in integrating multi-discipline engineering such as Architectural Lighting, Acoustics, and Audio Systems Design with the beauty of architecture seamlessly.
Mid 2020 ALTA Integra was chosen by Indonesia Stock Exchange to be their design consultant partner to elevate IDX Main Hall to World-Class Standard. ALTA was chosen due to its World-Class Reputation in integrating multi-discipline engineering such as Architectural Lighting, Acoustics, and Audio Systems Design with the beauty of architecture seamlessly. By The End of 2021 ALTA Integra Has Succeeded Completed The Commissioning of Audiovisual Lighting and Acoustic Experiences in Indonesia Stock Exchange Main Hall to a Multi-Sensory Experiences Venue
With Old Carpet
Facade Lighting Design: Jakarta Cathedral Church
In preparation for the inauguration of “Terowongan Silaturahmi”, ALTA Integra has redesigned new facade lighting for this beautiful Neo-Gothic Church. “Terowongan Silaturahmi” underpass will connect Jakarta Cathedral Church and Istiqlal Grand Mosque Jakarta. This underpass will be the symbol of friendship between two big religions in the world.
“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything”
In preparation for the inauguration of “Terowongan Silaturahmi”, ALTA Integra has redesigned new facade lighting for this beautiful Neo-Gothic Church. “Terowongan Silaturahmi” underpass will connect Jakarta Cathedral Church and Istiqlal Grand Mosque Jakarta. This underpass will be the symbol of friendship between two big religions in the world.
The basic idea of the lighting concept is to relight Saint Mary's Cathedral Church to its original splendor. This relighting project is a part of The Saint Mary Cathedral Jakarta Restoration Project, which ALTA Integra was chosen to be the lighting designer of the restoration project of One Jakarta's Most Iconic Landmarks.
Before
Lighting Acoustic Design: Global Banking and Financial Corporate
Team up with Mmoser Singapore and CDA International - ALTA Integra designed Wellbeing Lighting and Acoustic for US Banking and Financial Company in Sequis Tower Jakarta.
Reception
TOWN-HALL
The town hall designed to have flexibility in space, can be enlarge if the high STC of operable wall of meeting room and music studio space is open. Feature with Cisco Webex Video Conference and distributed to all space with Crestron Audio System and high-definition projector with a motorized lift for internal gathering or global office gathering.
Boardroom & Meeting Room
together with interior designer we design the integration of CISCO Webex Telepresence for visual aesthetic, ergonomic and comfort, speech clarity with maximum acoustic privacy.
Open Plan Office
Together with interior we make acoustic zoning plan in the open plan work space to reduce acoustic distraction and improve acoustic privacy, in a healthy acoustic environment according to Green Mark Certification.
Interior Lighting Acoustic Karaoke System: Miami Vibe KTV Bar
Miami Vibe Karaoke Television KTV Executive Club Comprehensive Multi Discipline Design. Seamless Integration Design of Audiovisual Interior Acoustic Design Lighting, Excellent Audiovisual Karaoke Experiences with Excellent Acoustic and Miami Style Lighting Design.
Seamless Integration Design of Audiovisual Interior Acoustic Design Lighting, Excellent Audiovisual Karaoke Experiences with Excellent Acoustic and Miami Style Lighting Design
City View Bar
KTV Room
Entrance
Toilet
Lighting Design: Masjid Apung Ancol Jakarta
ALTA Integra lighting design team create An-Nur or Guidance Light Atmosphere to bring Human closer to Allah, in this beautiful Floating Mosque designed by Andra Matin Architect.
ALTA Integra lighting design team create An-Nur or Guidance Light Atmosphere to bring Human closer to Allah, in this beautiful Floating Mosque designed by Andra Matin Architect.