Kajian Literatur, Wawasan Ilmiah & Kerangka Perancangan Berbasis Bukti

Kinerja Bangunan Berbasis Manusia

Jelajahi kajian literatur, wawasan ilmiah, dan kerangka perancangan berbasis bukti.

Temukan bagaimana akustik, pencahayaan, kenyamanan termal, kualitas udara, desain pasif, dan teknologi bangunan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan binaan yang lebih sehat, nyaman, produktif, dan berkelanjutan yang menghubungkan fisika bangunan, psikologi lingkungan, dan desain berkelanjutan.


Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Harmonisasi terindah Arsitektur-Akustik-Audio dan Musik

Gereja Arsitektur Neo Gothic - Akustik bergaung - Pipe Organ dan Steering Column Array Loudspeaker -  merupakan satu kesatuan yang menciptakan harmonisasi yang indah di mata dan telinga

Gereja Arsitektur Neo Gothic - Akustik bergaung - Pipe Organ dan Steering Column Array Loudspeaker - merupakan satu kesatuan yang menciptakan harmonisasi yang indah di mata dan telinga

Sejarah manusia dalam mencari harmonisasi Arsitektur - Akustik - Audio & Musik terindah


Sejak jaman purba manusia sudah mulai bisa membedakan perbedaan suara di dalam gua dengan suara di lapangan terbuka. Perkembangan antar akustik dan arsitektur dapat dilihat pada penemuan arsitektur jaman dulu yaitu Stone Henge (3000BC) yang memiliki karakteristik akustik khusus untuk ritual agama.

Stone Henge (3000BC) memiliki karakteristik akustik untuk melakukan ritual agama pada saat itu

Stone Henge (3000BC) memiliki karakteristik akustik untuk melakukan ritual agama pada saat itu

Walter Pater (1877) seorang penulis menulis essay abstrak tentang pemikiran bentuk dan isi musik atau suara dan persepsi dianggap sebagai satu kesatuan. William James (psikolog) mempelopori studi tentang ruang musik pada tahun 1887 - mencari hubungan antara sensasi mata terhadap ruang dengan musik yang terdengar. Mengacu pada bukunya dengan judul Principles of Psychology, bab 10 Persepsi Ruang, James menunjukan adanya hubungan erat antara sensasi mata dan sensasi pendengaran akan persepsi keindahan karya seni.

Akan tetapi keilmuan enjiniring arsitektur, akustik dan seni musik berkembang sendiri-sendiri. Sampai pada tahun 1962, Leo Beranek (ilmuwan akustik) pada bukunya yang berjudul Music, Acoustics & Architecture berkeinginan untuk mencari harmonisasi terbaik arsitektur-akustik-musik. Untuk itu beliau melakukan studi multi-disiplin untuk melihat hubungan ilmiah antara arsitektur-akustik dan musik dan merupakan cabang ilmu yang baru. Dalam bukunya Beranek membuktikan bahwa banyak komposisi musik yang diciptakan mengikuti karakter lingkungan akustik saat musik itu digubah dan dimainkan.

Beragam contoh yang disampaikan mulai dari Perotin menggubah musik khusus untuk dimainkan pada gereja katedral gothic Notre-Dame, Paris yang sangat bergaung. Selain itu komposisi brass oleh Gabrieli ditulis menyesuaikan karakteristik akustik dari gereja katedral St. Marks. Sebaliknya gubahan musik brass oleh Hassler atau Mathew Locke dikarang untuk dimainkan lingkungan akustik pada ruang terbuka. 

Kita masih dapat menemukan hubungan erat antara ruang dan bentuk arsitekturnya, contohnya adalah Desain Arsitektur Pallazos dengan musik Madrigal dan Maschera, desain arsitektur konser untuk pagelaran simfoni dan orkestra, serta arsitektur gereja Gothic Cathedral untuk paduan suara Gregorian.


herwin beranek hongkong.jpg

bersama Leo L Beranek di Acoustics Hongkong Conference 2012

Dengan ditemukan teknologi audio, maka hubungan arsitektur-akustik-musik bertambah satu dimensi menjadi arsitektur-akustik-audio-musik yang harus dipahami dan didesain sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

ALTA Integra ditunjuk oleh Gereja Katedral Jakarta untuk melakukan studi untuk mengoptimasi ke empat aspek tersebut: arsitektur-akustik-audio-musik. Perubahan desain dilakukan dengan prinsip untuk melestarikan bangunan arsitektur bersejarah yang sesuai dengan karya musik yang dimainkan di dalam gereja.

Dalam mengemban tanggung jawab yang besar, sebelum membuat keputusan perubahan desain sistem Audio, ALTA Integra melakukan studi atas beragam konfigurasi loudspeaker di dalam gereja katedral. Demo video ini menunjukkan bagaimana perangkat lunak Permodelan Arsitektural Akustik dalam membantu memahami perbedaan karakteristik suara atas dua konfigurasi pengeras suara yang berbeda. Keputusan atas desain terbaik dilakukan setelah melalui tahapan studi psikoakustik jemaat.  

#gerejakatolikindonesia #gerejakatedraljakarta #gereja #gerejaindonesia #audio #roomacoustics #architecturalacoustics #audiodesign #arsitek #arsitekindonesia #arsitekturalakustik #tatasuara #musik

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Desain audio dan akustik arsitektural ruangan ibadah untuk kejelasan suara cakap kebaktian di gereja

20200609-katedral-43.jpg

Mengapa kejelasan suara cakap di dalam rumah ibadah sangatlah penting?

Iman tumbuh dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman Kristus
— Roma 10:17
Sabda Yesus kepadanya, “Engkau percaya karena engkau telah melihat Aku. Berbahagialah mereka yang percaya sekalipun tidak melihat
— Yohanes 20:29
Dalam mendesain sebuah sistem tata suara dan akustik di rumah ibadah kami selalu melakukan review terhadap indeks kejelasan suara ucap atau Speech Transmission Index (STI).  STI pada sebuah sistem rumah ibadah dipengaruhi oleh faktor: 
  1. Desain Sistem Mikrofon: kekerasan dan karakteristik frekuensi suara pembicara, jarak mulut pembicara ke microphone, tingkat kepekaan dan directivity microphone, jarak mikrophone ke loudspeaker,

  2. Desain Sistem Loudspeaker: jarak loudspeaker ke audiens, tingkat kekerasan suara, directivity dan jumlah loudspeaker yang akan dipasangkan.

  3. Desain Akustik Arsitektural Ruangan: panjang atau pendeknya serta karakteristik frekuensi Reverberation Time, tingkat kekerasan serta karakteristik background noise yang terdengar.

    Berikut adalah gambar dan rumus Hopkins-Stryker yang telah dimodifikasi oleh Don Davis menjelaskan hubungan faktor yang disebutkan.

Sound System Design Hopkins Stryker - Don Davis Equation Diagram .png
Sound System Design Hopkins Stryker - Don Davis Equation 1.png

Rumus ini menjelaskan hubungan antara desain mikrofon, desain loudspeaker dan desain akustik ruangan

Dalam mendesain sistem tata suara elektronik dan arsitektural akustik ruang pada tahap perencanaan ALTA Integra menggunakan metode analisa parameter data akustik dan evaluasi subjektif atas suara yang terdengar.

Dengan melakukan perhitungan matematis dan dibantu acoustic software modeling kita dapat memprediksikan parameter akustik yang akan terbangun, serta dengan kemampuan auralisasi acoustic modeling kita dapat mendengar tingkat kejelasan suara cakap maupun musik dari sebuah sistem audio dan arsitektural akustik sebelum pekerjaan dilakukan. Keuntungan yang didapat dari metode ini adalah kita dapat mencari titik optimal antara desain terbaik dengan biaya terendah, serta terhindar dari pembelian produk yang salah dan pekerjaan akustik ruang yang tidak tepat.

Berikut adalah demo video animasi Architectural Acoustic software modeling & auralisation pada Gereja Katedral Jakarta tahun 2019. Auralisasi pertama menggunakan sistem 12 buah distribusi loudspeakers. Auralisasi kedua menggunakan sistem 2 buah column steering array loudspeaker. Suara ucap mana yang lebih jelas terdengar?

Permodelan dan Auralisasi Elektro Arsitektural Akustik pada Gereja Katedral memperlihatkan data parameter akustik dan memperdengarkan perbedaan kejelasan suara dari dua buah konfigurasi loudspeaker

#gerejakatolikindonesia #gerejakatedraljakarta #gereja #gerejaindonesia #audio #roomacoustics #architecturalacoustics #audiodesign #arsitek #arsitekindonesia #arsitekturalakustik #tatasuara

Read More