Blog Studi Lapangan Fisika Bangunan

Iklim → Alam → Manusia → Budaya → Arsitektur → Perkotaan

Kumpulan studi lapangan mengenai iklim, alam, arsitektur, dan perkotaan dari perspektif fisika bangunan.

Temukan bagaimana kondisi lingkungan, budaya lokal, dan strategi desain memengaruhi kenyamanan, kesehatan, efisiensi energi, dan kinerja bangunan.


Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Arsitektur Paris Arc De Triomphe Sejarah Budaya dan Tantangan Pelestarian

Paris Arc de Triomphe berfungsi pada dua level: sebagai simbol ingatan, identitas nasional dan sebagai objek fisik dalam sistem perkotaan (infrastruktur, tujuan wisata, titik fokus sirkulasi. Pendekatan konservasi modern harus menengahi keduanya—mempertahankan makna simbolik sambil merespons kebutuhan teknis perawatan bahan, manajemen kerumunan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim (mis. peningkatan malam tropis, hujan ekstrem yang dapat mempercepat degradasi batu). Integrasi antara studi sejarah seni, arsitektur konservasi, dan kebijakan ruang publik diperlukan untuk strategi jangka panjang.

 

Arc de Triomphe merupakan salah satu ikon urban Paris yang paling dikenal—sebuah gerbang kemenangan monumental yang berdiri di pusat Place Charles de Gaulle, titik pertemuan dua belas avenue termasuk Champs-Élysées. Monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai tanda peringatan militer, tetapi juga sebagai panggung upacara sipil, titik ingatan kolektif, dan elemen sentral tata-ruang kota Paris.

Inisiatif mendirikan sebuah arc untuk merayakan kemenangan militer muncul pada puncak kekuasaan Napoleon setelah kemenangan Austerlitz. Peletakan batu pertama dimulai pada 15 Agustus 1806. Pembangunan berlangsung bertahap, terhenti dan dilanjutkan beberapa kali akibat perubahan rezim politik di Prancis, dan baru selesai serta diresmikan pada 29 Juli 1836 pada masa pemerintahan Louis-Philippe. Sejak masa itu Arc menjadi titik parade militer, momen kemenangan, dan ritual kenegaraan, termasuk parade 1919, 1944 dan lain-lain.

Arc de Triomphe dilihat tidak hanya dari perspektif sejarah militer, tetapi juga sebagai ruang publik yang terus hidup: wisatawan, warga Paris, veteran, serta pelaku protes dan beragam peristiwa publik sering menggunakan ruang ini. Simbolisme monumen sering dipinjam dalam representasi identitas nasional, ingatan perang, dan perdebatan politik misalnya peringatan Perang Dunia I & II. Perubahan penggunaan ruang seperti parade, ritual, hingga aksi protes menunjukkan bagaimana arti monumen ini terus mengisi ruang politik-sosial-budaya.

Architecture Arc De Triomph dirancang dalam pengaruh semangat Neo-klasik, ukuran yang besar dan monumental. Berbentuk busur tunggal yang mengambil inspirasi dari Arsitektur Romanesque tetapi diperlakukan dalam skala monumental modern. Arsitek awalnya adalah Jean-François Chalgrin; setelah kematiannya proyek dilanjutkan oleh beberapa arsitek lain hingga penyelesaian pada 1836. Proporsi, relief, dan frieze besar menunjukkan komunikasi visual yang menggabungkan narasi sejarah dan ikonografi patriotik.

Terdapat beberapa ornamen seni pahat pada keempat kaki busur, termasuk karya paling terkenal Le Départ des Volontaires de 1792, atau lebih dikenal dengan sebutan La Marseillaise. Merupakan karya François Rude (1833–1836) yang mengekspresikan figur dinamis dan patriotik—sebuah jembatan estetika antara Neo-klasisisme dan romantisisme dalam pahat publik Perancis abad ke-19. Karya-karya lain melengkapi narasi militer, kemenangan, serta pengorbanan. Analisis formal terhadap plastisitas figur, gerak, dan penempatan ikonografis menunjukkan bagaimana arsitektur dan seni terintegrasi untuk membentuk memori kolektif.

Monumen ini berada di pusat konfigurasi dodekagon 12 avenue, sehingga menjadi sumbu visual dan nodus transportasi besar. Hal ini menimbulkan tantangan konservasi—getaran, polusi udara, kebisingan lalu lintas, serta tekanan wisata—yang memerlukan strategi manajemen konservasi dan akses pengunjung. Situs resmi ini memberikan tantangan dan memerlukan kajian konservasi untuk menjaga keaslian arsitektur mulai dari pemeliharaan berkala pada permukaan batu, sistem drainase termasuk pencahayaan yang ramah lingkungan di malam hari.

Arc de Triomphe berfungsi pada dua level: sebagai simbol (ingatan, identitas nasional) dan sebagai objek fisik dalam sistem perkotaan (infrastruktur, tujuan wisata, titik fokus sirkulasi). Pendekatan konservasi modern harus menengahi keduanya—mempertahankan makna simbolik sambil merespons kebutuhan teknis perawatan bahan, manajemen kerumunan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim (mis. peningkatan malam tropis, hujan ekstrem yang dapat mempercepat degradasi batu). Integrasi antara studi sejarah seni, arsitektur konservasi, dan kebijakan ruang publik diperlukan untuk strategi jangka panjang.

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Menyaksikan Konser Ian Anderson Jethro Tull di Laeiszhalle Hamburg

Bagaimana suara musik progressive rock apabila dimainkan di ruang konser hall klasik?

Hamburg Musikhalle dibuka untuk umum pada tanggal 4 Juni 1908. Pada saat itu gedung konser ini merupakan konser hall terbaru dan terbesar yang dimiliki oleh negara Jerman. Gedung konser bergaya Baroque Revival ini dirancang oleh arsitek Martin Haller. Kemudian gedung konser ini namanya diubah menjadi Laeiszhalle sesuai nama pendirinya yaitu Ferdinand Laeisz yang merupakan pemilik perusahaan perkapalan terbesar di Hamburg.

Walaupun saat ini Hamburg telah memiliki gedung konser yang lebih besar dan lebih modern yaitu Elbphilharmonie, banyak dari pecinta musik klasik yang saya ajak bicara sewaktu menonton pertunjukan musik di Elbphilharmonie dan di Laeiszhalle, mengatakan bahwa mereka lebih menyukai karakter akustik di Laeiszhalle karena lebih hangat (warm) dibandingkan dengan Elbphilharmonie yang kering, detail dan unforgivable.

Sayangnya pada tanggal 13 Oktober 2022 tidak ada pertunjukan musik klasik, melainkan pertunjukan musik progresive rock Legendaris Ian Anderson - Jethro Tull. Saya memesan the best seat dan kebetulan mendapatkan tempat duduk persis dibelakang sound engineer Jethro Tull yang bertugas. Sempat ngobrol-ngobrol tentang kesulitan dia mengatur suara musik Rock di gedung konser yang karakter akustiknya tidak cocok untuk pertunjukan musik dengan amplikasi elektronik.

Bagaimana suara musik progressive rock terdengar di dalam ruang konser musik klasik yang memiliki reverberation time cukup tinggi?

Berikut adalah rekaman video lagu terakhir yang diperbolehkan oleh penyelenggara untuk direkam. Saya merekam persis di belakang sound engineer dan assistent yang yang menjaga level suara tidak melebihi 90 dBA, dan paling kiri stage lighting operator yang membuat pertunjukan penuh dengan warna.

Suara setiap alat musik terdengar cukup balance, hanya suara drum akustik yang terdengar agak berantakan karena pantulan akustik yang tidak dapat dikendalikan oleh sound engineer.

Locomotive Breath adalah istilah yang menggambarkan suara cus cus locomotive penggerak batubara. Lagu ini dikarang oleh Ian Anderson akan kekuatirannya terhadap ledakan populasi manusia yang tidak terkendali.

Read More