Blog Studi Lapangan Fisika Bangunan

Iklim → Alam → Manusia → Budaya → Arsitektur → Perkotaan

Kumpulan studi lapangan mengenai iklim, alam, arsitektur, dan perkotaan dari perspektif fisika bangunan.

Temukan bagaimana kondisi lingkungan, budaya lokal, dan strategi desain memengaruhi kenyamanan, kesehatan, efisiensi energi, dan kinerja bangunan.


Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Arsitektur Gedung Opera Teatro Nacional de Sao Carlos Lisbon

20181227 Teatro National Sao Carlos 4.jpg

Teatro Nacional de Sao Carlos adalah Opera House yang dibuka pada tanggal 30 July 1793 oleh Ratu Maria Pertama. Opera House ini sebagai pengganti Tejo Opera House yang rusak karena gempa yang terjadi pada tahun 1755. Di desain oleh arsitek Portugis bernama Jose da Costa e Silva bergaya neoklasik dengan elemen rococo. Bangunan ini terinspirasi oleh teater Itali seperti San Carlo di Naple dan La Scala di Milan

20181227 Teatro National Sao Carlos 1.jpg

Secara Arsitektural Akustik ruangan hall utama berbentuk Horse-Shoe dengan kapasitas duduk 1,150 orang. Teater ini memiliki stage opera yang luas dan orchestra pit. Di bawah orchestra pit dibuat lubang akustik spesial (acoustic cavity) yang membuat waktu dengung frekuensi rendah meningkat sehingga suara di Opera House ini terdengar "warm".

#acoustics #roomacoustics #acousticdesign #acousticengineer #interioracoustic #interiordesign #architecturalacoustic #architecture #operahouse #concerthal

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Menyaksikan Konser Vitor Monteiro & Antonio Vieira di Casa De Musica Porto Portugal

Menghadiri konser Vítor Monteiro & António Vieira di Casa da Música, Porto, Portugal merupakan kesempatan untuk mengamati bagaimana arsitektur, desain akustik, dan kualitas ruang berpadu menciptakan pengalaman musikal yang luar biasa.

Bangunan ikonik karya Rem Koolhaas ini tidak hanya menghadirkan estetika yang unik, tetapi juga menunjukkan bagaimana bentuk ruang, material, dan rekayasa akustik memengaruhi kejernihan suara, kedekatan emosional, serta kenyamanan pendengar.

Melalui observasi ini, berbagai pelajaran berharga dapat diambil mengenai pentingnya desain ruang pertunjukan yang berorientasi pada pengalaman manusia.

Listening Note 17 August 2018

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Arsitektur Gedung Konser Casa de Musica Porto

 

Casa da Musica, Porto, 🇵🇹

Dirancang oleh arsitek Belanda Rem Koolhaas - Office for Metropolitan Architecture, konsultan akustik Renz Van Luxemburg - Royal Haskoning DHV, Interior Designer Petra Blaisse-Inside Outside, bersama tim engineer Arup Group dan Porto Office of Metropolitan Architecture. Konstruksi bangunan terdiri dari 13 elemen permukaan lebar dengan dimensi 22 m x 15 m sampai dengan 65 m x 8 m.

casa de musica.jpg

Perencanaan pembangunan Casa da Musica diumumkan pada tahun 1998, selesai dibangun dan diresmikan diresmikan pada tahun 2005. Casa de Musica terdiri dari dua ruang konser yaitu ruang konser besar dan ruang konser kecil.

20180817 Casa de Musica 29.jpeg
Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

20180817 Casa de Musica 1.jpg
20180817 Casa de Musica 7.jpg

Ruang konser besar berpola daun kayu bulir emas - perak berbentuk kotak sepatu dengan luas 1.100 meter. Dengan tempat duduk tribun dan dua balkon memiliki kapasitas audiens 1.238 orang. Ruang konser besar bagian dinding bagian muka dan belakang yang dirancang menggunakan kaca tembus pandang untuk memberikan konser berada di ruang yang terbuka dengan pemandangan ke kota. Tantangan akustik pada ruang ini adalah mencegah suara dari luar masuk ke ruang konser sekaligus dapat mendistribusikan suara di dalam ruang secara merata. Solusi desain yang disarankan oleh konsultan Royal Haskoning adalah kaca ganda bergelombang dengan arah horisontal.

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

Photo: Phillippe Ruault - Arch Daily

#concerthall #music #classicalmusic #artperforming #architecture#architecturalacoustic #interiordesign #physchoacoustic#architecturalphotography #porto #portugal #latepost

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mendengar Akustik di ruang resital Sala 2 Casa de Musica Porto Portugal

Ruang konser kecil bernama Sala 2 tempat saya menonton duet Vitor Monteior dan Antonio Vieira memainkan musik tradisional Portugal menggunakan Akordion dan beragam gitar termasuk gitar tradisional Portugal.

Auditorium kecil ini berbentuk kotak sepatu juga dengan luas 320 m2 dengan kursi non permanen yang dapat diubah konfigurasinya, sehingga dapat mengakomodasi beragam pertunjukan seni. Interior design bergaya modern dengan palet warna merah dan hitam.

casa de musica.jpg

#concerthall #music #classicalmusic #artperforming #architecture#architecturalacoustic #interiordesign #physchoacoustic#architecturalphotography #porto #portugal #latepost

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Gedung dan Lansekap Palacio de Cristal dan Pavilion Rosa Mota Porto

 

Palacio de Cristal

Palácio de Cristal dibangun di kota Porto, kota terbesar ke dua di negara Portugal. Palacio de Cristal dibangun terinspirasi dengan bangunan The Crystal Palace di London. Porto's Crystal Palace dirancang oleh arsitek Inggris bernama Thomas Dillen Jones dan engineer Francis Webb Sheild, di lingkar luar Porto bernama Torre da Marca. Bangunan Palacio de Cristal memiliki panjang 150 meter dengan lebar 72 meter terbagi menjadi tiga seksi yaitu central nave panjang 150 meter dan lebar 25 meter, dengan dua sayap yang masing-masing panjangnya 100 meter dan lebar 9 meter.

Gambar Arsip Porto Palacio de Cristal (portoalities.com)

Gambar Arsip Porto Palacio de Cristal (portoalities.com)

Perletakan batu pertama dilakukan oleh raja D. Pedro ke lima pada tanggal 3 September 1861, sebelum kematiannya. Palacio de Cristal diresmikan pada tanggal 18 September 1865 oleh raja D Luis Pertama. Memasuki dekade pertama abad ke 20, kondisi bangunan terlihat memburuk dan terlantar akibat kurangnya biaya perawatan karena tidak adanya pemasukan. Oleh karena itu akhirnya pada tahun 1933 pemerintah kota Porto membeli Palacio de Cristal berikut dengan tamannya yang bernama Jardins do Palacio de Cristal.

Pemandangan dari Jardins do Palacio de Cristal ke kota Porto

Pemandangan dari Jardins do Palacio de Cristal ke kota Porto

Pembelian properti ini untuk memfasilitasi pameran Pemerintahan Kolonial Portugal pada bulan Juni 1934 oleh rezim pemerintahan Estado Novo. Pameran ini merupakan acara simbolik yang memberi pesan kepada dunia internasional bahwa Portugal adalah salah satu negara kolonial yang perlu diperhitungkan. Pada pameran ini sebuah peta besar bertuliskan "Portugal is not a small country", di mana pada peta ini diperlihatkan luas area koloni Portugal sebesar benua Eropa. Pameran ini juga sebagai pameran pendahulu sebelum pameran utama di ibu kota Lisbon berjudul Portuguese World Exhibition 1949.

Tulisan Porto di depan Pavilion Olah Raga Rosa Mota

Tulisan Porto di depan Pavilion Olah Raga Rosa Mota

Seiring dengan berjalannya waktu kondisi bangunan Palacio de Cristal semakin memburuk dan dilakukan pemungutan suara untuk menghancurkan bangunan ini. Pada tahun 1951 sesuai keputusan dibangun bangunan baru menggantikan Palacio de Cristal. Palacio de Cristal berubah menjadi Pavilion Olah Raga dengan material beton cembung mirip UFO. Bangunan ini diberi nama Rosa Mota Pavilion untuk menghormati nama pelari maraton Portugal.

Kegiatan International

The Exposição Internacional do Porto 1865, atau dalam bahasa Inggris the International Exhibition of 1865 diselenggarakan di Palacio de Cristal yang dibangun khusus untuk menggelar acara ini. Pameran dibuka pada tanggal 15 September 1865 yang dihadiri oleh raja Portugal, Luís Pertama dan pasangannya Maria Pia of Savoy. Pameran diselenggarkan sampai akhir bulan January 1866, dan tema pameran adalah inovasi dagang dan industri industrial dengan peserta terbanyak adalah teknologi material, permesinan, dan karya seni.

Pameran diikuti lebih dari 3000 peserta, dengan peserta 499 dari Perancis, 265 dari Jerman, 107 dari Inggris, 89 dari Belgia dan 62 dari Brazil. Negara lain yang ikut serta adalah Spanyol, Denmark, Rusia, Turki, Amerika Serikat dan Jepang. Pameran ini merupakan pameran pertama terbesar di area Iberian Peninsula.

Feira do Automóvel no antigo Palácio de Cristal, 1930 (Alvão)

Feira do Automóvel no antigo Palácio de Cristal, 1930 (Alvão)

Sampai dengan tahun 1951 telah diadakan beragam kegiatan di The Crystal Palace Porto, termasuk pameran bunga mawar pada tahun 1879 dan pameran pertanian dan budidaya tanaman pada tahun 1903. Pada tahun 1922 diselenggarakan pesta selamatan penerbangan perdana Southern Atlantic dari Lisbon ke Rio de Janeiro oleh Carlos Viegas Gago Coutinho dan Arthur de Sacadura. Di salah satu teater di Palacio de Cristal dipasangkan salah satu pipe organ terbesar di dunia dan konser musik oleh komposer dan pianis Portugal Jose Vianna da Motta dan cellist Guilhermina Suggia. Setelah renovasi pada tahun 1951 diselenggarakan Roller Hockey World Cup pada tahun 1952.

Exposição de Floricultura no Antigo - Palácio de Cristal  - 1908 (Aurelio Paz dos Reis)

Exposição de Floricultura no Antigo - Palácio de Cristal - 1908 (Aurelio Paz dos Reis)

Jardins do Palacio de Cristal

Jardins do Palacio de Cristal atau Garden of The Crystal Palace adalah taman lansekap Palácio de Cristal dengan luas 8 hektar dengan pemandangan ke Sungai Douro. Taman ini ditumbuhi tanaman Rhododendrons, Camellias, Araucarias, Ginkgoes, dan Beech dengan hiasan patung dan air mancur.

Jardins do Palacio de Cristal terdiri dari beberapa taman tematik seperti Garden of Feelings, the Garden of Aromatic Plants, and a Rose Garden. Di dalam taman ini terdapat juga kapel yang didevosikan kepada raja Sardinia yang diasingkan saat memerintah pada tahun 1849. Kapel kecil ini dibangun sebelum pembangunan The Crystal Palace oleh saudari raja pada tahun 1854. Quinta da Macieirinha sebuah museum yang memamerkan lifestyle dan budaya abad ke 19.

20180815 Porto Jardins do Palacio de Cristal 1.jpg
Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Sejarah Arsitektur Igreja Dos Carmelitas Porto

 
Gereja dos Carmelitas adalah bagian dari biara pada abad ke 17. Fasad bangunan gereja ini bergaya klasik dengan satu buah lonceng menara. Patung di atas pintu gerbang utama melambangkan Santa Anne yang merupakan pelindung dan devosi dari biarawati ordo Carmelitas. Sedangkan patung di atas dua pintu kiri dan kanan melambangkan nabi Elijah and Elisha yang merupakan panutan dari biarawati di gereja ini.

Gereja dos Carmelitas adalah bagian dari biara pada abad ke 17. Fasad bangunan gereja ini bergaya klasik dengan satu buah lonceng menara. Patung di atas pintu gerbang utama melambangkan Santa Anne yang merupakan pelindung dan devosi dari biarawati ordo Carmelitas. Sedangkan patung di atas dua pintu kiri dan kanan melambangkan nabi Elijah and Elisha yang merupakan panutan dari biarawati di gereja ini.

Facade samping gereja ini dihiasi ubin bergambar yang luar biasa. Pola gambar melambangkan nilai dasar ordo Carmelita dan gunung Karmel. Komposisi ubin dirancang oleh Silvestre Silvestri, digambar oleh Carlos Branco di pabrik Senhor do Além and Torrinha, di Vila Nova de Gaia , pada tahun 1912 .

Facade samping gereja ini dihiasi ubin bergambar yang luar biasa. Pola gambar melambangkan nilai dasar ordo Carmelita dan gunung Karmel. Komposisi ubin dirancang oleh Silvestre Silvestri, digambar oleh Carlos Branco di pabrik Senhor do Além and Torrinha, di Vila Nova de Gaia , pada tahun 1912 .

20180815 igreja dos carmelitas 7.jpg
Interior di dalam geraja ini sarat dengan ukiran kayu bergaya baroque and rococo terutama pada altar utama dan tempat berdoa pada dinding kiri dan kanan. Pesan iconographis merupakan perjalan passion, yang merupakan karakteristik dari Ordo Carmelitas.

Interior di dalam geraja ini sarat dengan ukiran kayu bergaya baroque and rococo terutama pada altar utama dan tempat berdoa pada dinding kiri dan kanan. Pesan iconographis merupakan perjalan passion, yang merupakan karakteristik dari Ordo Carmelitas.

Susunan gambar diurutkan sesuai rute perjalan mulai dari Agony in the Garden , Prison of the Lord, Flagellation, Lord of Cana Verde, Ecce Homo, Lord on the way to Calvary.

Susunan gambar diurutkan sesuai rute perjalan mulai dari Agony in the Garden , Prison of the Lord, Flagellation, Lord of Cana Verde, Ecce Homo, Lord on the way to Calvary.

Gambar diakhiri dengan kisah penyaliban: yaitu salib besar pada altar utama dan gambar penyaliban Tuhan Yesus pada langit-langit.

Gambar diakhiri dengan kisah penyaliban: yaitu salib besar pada altar utama dan gambar penyaliban Tuhan Yesus pada langit-langit.

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Sejarah Arsitektur Bangunan Igreja Do Carmo Porto

Facade samping gereja ini dihiasi ubin bergambar yang luar biasa. Pola gambar melambangkan nilai dasar ordo Carmelita dan gunung Karmel. Komposisi ubin dirancang oleh Silvestre Silvestri, digambar oleh Carlos Branco di pabrik Senhor do Além and Torrinha, di Vila Nova de Gaia , pada tahun 1912 .

Facade samping gereja ini dihiasi ubin bergambar yang luar biasa. Pola gambar melambangkan nilai dasar ordo Carmelita dan gunung Karmel. Komposisi ubin dirancang oleh Silvestre Silvestri, digambar oleh Carlos Branco di pabrik Senhor do Além and Torrinha, di Vila Nova de Gaia , pada tahun 1912 .

Sedangkan gereja di sebelahnya yaitu Gereja do Carmo merupakan contoh arsitektur Baroque atau Rococo yang luar biasa.

Sedangkan gereja di sebelahnya yaitu Gereja do Carmo merupakan contoh arsitektur Baroque atau Rococo yang luar biasa.

Gereja ini dibangun pada pertengahan abad ke XVIII sekitar tahun 1756 sampai dengan tahun 1768 dikepalai oleh arsitek bernama José Figueiredo Seixas. Gereja ini dibangun bersebelahan dengan Igreja dos Carmelitas yang diberikan pada Ordo Carmo pada tahun 1752.

Gereja ini dibangun pada pertengahan abad ke XVIII sekitar tahun 1756 sampai dengan tahun 1768 dikepalai oleh arsitek bernama José Figueiredo Seixas. Gereja ini dibangun bersebelahan dengan Igreja dos Carmelitas yang diberikan pada Ordo Carmo pada tahun 1752.

20180815 igreja do carmo 2a.jpg
20180815 igreja do carmo 3.jpg
20180815 igreja do carmo 4.jpg

Lambat laun bangunan ini yang awalnya tertutup untuk biarawan dan biarawati dibuka untuk umum. Dimulai dengan pembukaan rumah sempit Casa Escondida. Pada 3 May 2013 kedua gereja ini Do Carmo dan Dos Carmelitas diumumkan sebagai monumen nasional kota Porto.

Read More
theresa zakaria theresa zakaria

Mengamati Arsitektur dan Lighting Bandara Findel Luksemburg

Agustus 2018

Mereka semua telah pergi ke dunia cahaya! dan hanya aku yang duduk berlama-lama di sini;

Kenangan mereka begitu indah dan cerah, dan pikiran sedihku menjadi jernih.

Kenangan itu bersinar dan berkilauan di dadaku yang berawan, seperti bintang-bintang di hutan yang suram,

Atau sinar redup yang menyelimuti bukit ini, setelah matahari terbenam…

Henry Vaughan

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Architectural Lighting Daylighting Luxembourg Findel Airport

20180814 luxembourg findel airport 1.jpg

Daylighting architecture design at Findel Airport Luxembourg, they put skylight at the ceiling with a different angles. In summer to let the lights in and in winter to let the lights and heat as well. This skylight opening is integrated with general lighting to achieve light uniformity during day and year.

20180814 luxembourg findel airport 2.jpg

Daylighting in a building can create productive and wellbeing space. Bad Daylighting Design in building can create excessive heat and uncomfortable light.

20180814 luxembourg findel airport 3.jpg

Consequently, when determining the size and location of windows as well as choice of glass in the envelope of a building, calculation should be made to provide healthy natural lighting into the building. And the opposite calculation should be made to balance heat goes in to the building while in summer or winter.

20180814 luxembourg findel airport 5.jpg

A good daylighting design can produce wellbeing daylight environment, thermal comfort and low energy consumption building.

ALTA Integra #buildingphysics #architecture #daylighting #daylightingdesign #light #lights #lighting

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Architectural Lighting Daylighting Amsterdam Schiphol Airport

20210812 amsterdam schipol airport 2.jpg

Daylighting Design at Schiphol Amsterdam Airport Netherlands. Schipol Airport Triangle daylight skylight, round daylight skylight integrate with artificial lighting and daylight diffuser at the corridor.

20210812 amsterdam schipol airport 3.jpg

Daylighting in a public space building can create an airy, spacious, engaging, and positive feeling. Bad Daylighting Design in the building can create excessive heat and uncomfortable light such as glare or negative feelings.

20210812 amsterdam schipol airport 1.jpg

Consequently, when determining the size and location of windows as well as the choice of glass in the envelope of a building, calculations should be made to provide healthy natural lighting into the building. And the opposite calculation should be made to balance heat that goes into the building while in summer or winter.

20180812 amsterdam schipol airport.jpg

A good daylighting design can produce a healthy daylight environment, thermal comfort, as well as low energy consumption.

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Mengamati Architectural Lighting Daylighting Paris Charles de Gaulle Airport

 

Sebuah Perjalanan Menyusuri Lighting, Daylighting, Arsitektur, dan Teknologi

Paris, Agustus 2018

Saya tiba di Charles de Gaulle Airport pada pagi buta, tepat ketika malam perlahan beralih menjadi pagi.

Pesawat saya mendarat ketika matahari belum sepenuhnya muncul di atas horizon. Cahaya pagi baru mulai membentuk garis tipis di langit Paris. Bandara yang biasanya identik dengan keramaian terasa berbeda pada jam seperti ini. Terminal masih relatif sepi. Beberapa penumpang berjalan dengan langkah lambat, sebagian menarik koper dalam keheningan, sementara sebagian lainnya tampak masih membawa sisa kelelahan dari penerbangan malam.

Saya melangkah keluar dari pesawat dan memasuki terminal.

Hal pertama yang saya rasakan adalah kesejukan.

Matahari sudah mulai terbit, tetapi panas matahari belum sempat menghangatkan bangunan. Tidak ada sensasi panas radiasi yang biasanya saya rasakan ketika berdiri dekat façade kaca pada siang hari. Udara di dalam terminal terasa tenang dan terkendali.

Pagi itu, hubungan antara cahaya dan panas belum sepenuhnya terbentuk.

Daylight sudah datang.

Solar heat belum.

Dan perbedaan kecil itu membuat saya semakin sadar bahwa cahaya bukan sekadar sesuatu yang kita lihat.

Ia juga membawa energi.

Mata saya menjadi indra pertama yang bekerja.

Di luar, langit pagi mulai terang, tetapi matahari masih rendah. Di dalam terminal, tingkat iluminansi jauh lebih rendah daripada di luar. Secara fisik, mata saya sedang melakukan adaptasi terhadap perubahan luminansi.

Dalam kondisi siang yang cerah, daylight di luar bangunan dapat mencapai puluhan ribu lux. Di dalam, iluminansi dapat berada pada orde yang jauh lebih rendah.

Satu lux hanyalah satu lumen per meter persegi.

Namun tubuh tidak mengalami angka.

Tubuh mengalami transisi.

Saya merasakan mata saya membutuhkan beberapa detik untuk memahami ruang.

Kemudian perlahan-lahan bentuk bangunan mulai muncul.

Kolom.

Lantai.

Kaca.

Atap.

Orang-orang yang berjalan di kejauhan.

Dan cahaya pagi yang perlahan masuk dari luar.

Terminal yang masih sepi membuat pengalaman ini terasa hampir intim.

Tidak ada gelombang manusia yang biasanya mendominasi sebuah bandara.

Tidak ada kerumunan yang memaksa saya bergerak cepat.

Saya memiliki waktu untuk melihat.

Dan ketika sebuah bangunan memberi kita waktu untuk melihat, arsitekturnya mulai berbicara dengan cara yang berbeda.

Saya kemudian menyadari bahwa saya tidak hanya melihat cahaya.


Berjalan menyusuri Lorong Kedatangan Terminal 2E, Hall M, di Paris–Charles de Gaulle Airport pada Agustus 2018.

Moving walkway membawa saya melewati sebuah lingkungan berlapis yang mempertemukan seni, arsitektur, material, dan cahaya. Langit-langit metal yang ritmis, pencahayaan buatan yang terkontrol, serta pergerakan manusia menciptakan pengalaman yang membuat terminal terasa lebih dari sekadar jalur menuju pesawat dan kota. Pada saat itu, Espace Musées di terminal ini sedang menampilkan L’art abstrait des années 1950, sebuah pameran 21 karya dari koleksi Centre Pompidou—sebuah pertemuan yang menarik antara perjalanan modern dan seni modern Prancis.

20180812 paris charles de gaulle airport 2.jpg

Dalam spesifikasi pencahayaan konvensional, kita mungkin mengatakan bahwa sebuah ruang kerja membutuhkan beberapa ratus lux pada bidang kerja. Lux adalah satuan yang sangat berguna—satu lumen per meter persegi—tetapi angka tersebut tidak mampu menggambarkan pengalaman ketika memasuki bangunan setelah sebelumnya berdiri di bawah langit terbuka.

Di luar, tingkat pencahayaan alami dapat dengan mudah mencapai puluhan ribu lux. Di dalam, iluminansinya mungkin hanya sebagian kecil dari angka tersebut. Mata mengimbanginya melalui proses adaptasi, tetapi perpindahan antara kedua kondisi tersebut tidak terjadi seketika.

Saya merasakannya sebagai keraguan sesaat. Kemudian, bandara mulai memperlihatkan dirinya. Arsitektur Charles de Gaulle sangat sadar terhadap transisi ini.

Saya berjalan melalui Terminal 2F, dan di atas kepala saya atap yang sangat besar seolah terlalu berat untuk membawa cahaya. Beton memberikan kesan permanen pada ruang, tetapi cahaya alami dikendalikan dengan hati-hati, bukan sekadar dibiarkan masuk.

Ada bukaan-bukaan kecil di atas.

Kemudian garis-garis cahaya.

Efeknya tidak seragam.

Dan itu penting.

Bandara yang diterangi secara merata mungkin efisien secara visual, tetapi juga dapat menjadi anonim secara spasial. Jika setiap bagian bangunan memiliki tingkat kecerahan yang sama, mata menerima sedikit informasi mengenai hierarki. Ke mana saya harus melihat? Ke mana saya harus pergi? Apa yang penting?

Di sini, arsitektur seolah memiliki gagasan lain.


Terminal 2F, Area Gate F21–F56, Paris–Charles de Gaulle Airport, Agustus 2018.
Daylight, pencahayaan buatan, material, struktur, signage, dan sirkulasi bekerja secara simultan membentuk pengalaman visual dan orientasi penumpang. Deretan bukaan pada selubung beton memasukkan cahaya alami, sementara luminer buatan mempertahankan kontinuitas pencahayaan di sepanjang jalur menuju gate. Di sini, pencahayaan bukan sekadar memenuhi kebutuhan visual, tetapi menjadi bagian dari arsitektur yang mengarahkan pergerakan manusia.

20180812 paris charles de gaulle airport 1.jpg

Saya mendengar keheningan.

Tentu saja terminal tidak benar-benar sunyi.

Ada suara roda koper yang sesekali melintas.

Suara mesin ventilasi terdengar sebagai dengungan lembut di latar belakang.

Sebuah pengumuman terdengar jauh di dalam terminal.

Tetapi dibandingkan dengan kondisi bandara pada siang hari, soundscape pagi itu terasa jauh lebih tenang.

Inilah Sound.

Dalam lingkungan seperti bandara, kualitas akustik tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara terdengar, tetapi juga oleh seberapa mudah informasi dapat dipahami.

Kejelasan public-address dapat dievaluasi menggunakan STI (Speech Transmission Index) dengan rentang 0 hingga 1. Nilai sekitar 0,60 atau lebih umumnya menunjukkan tingkat kejelasan ucapan yang baik untuk banyak aplikasi public-address.

Saya tentu tidak berpikir tentang angka tersebut ketika mendengar pengumuman.

Saya hanya mendengar suara.

Dan karena terminal masih sepi, suara itu terasa lebih jelas.

Bangunan yang sama.

Sistem yang sama.

Tetapi kondisi okupansi yang berbeda.

Pengalaman yang berbeda.

Di situlah saya mulai memahami bahwa performa bangunan selalu merupakan hubungan antara ruang, lingkungan, teknologi, dan manusia.

Saya berjalan lebih jauh.

Cahaya pagi mulai berubah.

Matahari perlahan naik.

Tetapi panasnya belum terasa.

Ini menarik bagi saya sebagai seorang building-performance consultant.

Karena daylight dan solar heat bukanlah hal yang sama.

Cahaya yang masuk melalui kaca memberikan manfaat visual dan psikologis.

Tetapi radiasi matahari juga membawa energi yang dapat meningkatkan temperatur permukaan dan beban pendinginan.

Pagi itu, saya berada tepat di antara dua kondisi tersebut.

Cahaya sudah hadir, tetapi panas belum.

Saya dapat melihat matahari mulai terbit di luar, tetapi kulit saya belum merasakan intensitas radiasinya.

Bangunan masih terasa sejuk.

Udara masih nyaman.

Permukaan interior belum menyimpan panas matahari yang signifikan.

Ini adalah salah satu momen ketika prinsip dasar Building Physics terasa sangat nyata:

apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan secara termal tidak selalu datang pada saat yang sama.

Saya berada di Terminal 2F.

Di atas saya, arsitektur mulai mengungkapkan strateginya.

Bukaan-bukaan rooflight memasukkan daylight.

Kemudian saya melihat linear skylight.

Cahaya pagi membentuk garis-garis di sepanjang ruang.

Malcolm Innes menyebut gagasan ini “Follow the light.”

Dalam studi pencahayaan Terminal 2F, Innes menjelaskan bagaimana daylight meningkat secara progresif ketika penumpang bergerak dari area check-in menuju security dan departure gate. Bukaan rooflight dan linear skylight bukan sekadar sumber penerangan; keduanya menjadi perangkat visual untuk membantu orientasi.

Pagi itu saya merasakan gagasan tersebut secara langsung.

Ruang di depan saya lebih terang.

Saya bergerak ke sana.

Tidak ada tanda yang harus saya baca terlebih dahulu.

Cahaya sudah memberikan petunjuk.

Di sinilah Light menjadi lebih dari sekadar pencahayaan.

Dalam analisis daylight kontemporer, kita dapat menggunakan Spatial Daylight Autonomy (sDA) untuk mengevaluasi seberapa sering suatu area mencapai tingkat iluminansi daylight tertentu sepanjang tahun, sementara Annual Sunlight Exposure (ASE) membantu mengidentifikasi area yang menerima paparan sinar matahari langsung secara berlebihan.

Tetapi pagi itu saya tidak memikirkan sDA atau ASE.

Saya hanya merasakan perubahan.

Ruang menjadi semakin terang.

Langit semakin terlihat.

Arah perjalanan semakin jelas.

Dan karena terminal masih sepi, gradasi cahaya tersebut terasa jauh lebih mudah dibaca.

Saya terus berjalan.

Material mulai terlihat lebih jelas ketika cahaya pagi menyentuhnya.

Beton terlihat berbeda ketika diterangi cahaya rendah dari matahari pagi.

Kaca menangkap langit.

Logam memantulkan garis cahaya.

Lantai mengembalikan sebagian cahaya ke mata saya.

Inilah Material.

Material menentukan bagaimana cahaya akhirnya diterjemahkan menjadi pengalaman visual.

Permukaan matte menyebarkan cahaya.

Permukaan reflektif mengembalikannya dengan lebih terarah.

Material berwarna terang meningkatkan distribusi cahaya.

Material gelap menyerap lebih banyak energi visual.

Dengan demikian, daylight bukan hanya persoalan seberapa besar bukaan yang kita buat.

Daylight juga merupakan persoalan apa yang dilakukan permukaan terhadap cahaya setelah cahaya itu masuk.

Saya berhenti sebentar.

Terminal masih relatif sepi.

Dan karena itu saya mulai menyadari suara-suara kecil.

Roda koper.

Langkah kaki.

Suara mesin.

Suara pengumuman.

Jauh di luar, mungkin ada kendaraan bergerak di apron.

Ketika jumlah manusia berkurang, suara latar turun dan perhatian saya meningkat.

Sistem pendengaran saya menjadi lebih sensitif terhadap detail.

Saya mulai mendengar bangunan.

Bukan hanya suara manusia di dalamnya.

Tetapi suara sistem mekanis yang membuat bangunan tetap hidup.

Saya mencium aroma kopi.

Aromanya datang sebelum saya melihat café.

Untuk sesaat, Olfaction masuk ke dalam pengalaman.

Kopi.

Makanan.

Udara yang dikondisikan.

Material interior.

Semua membentuk atmosfer yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan lux atau decibel.

Saya membeli kopi.

Cangkir hangat berada di tangan saya.

Sekarang Taste ikut hadir.

Saya duduk.

Setelah berjalan dari pesawat menuju terminal, tubuh saya akhirnya berhenti.

Sistem vestibular saya menjadi lebih tenang.

Propriosepsi saya juga berubah.

Ketika berjalan, tubuh membaca lantai, arah dan perubahan kecepatan.

Ketika duduk, tubuh mulai membaca ruang dengan cara berbeda.

Saya tidak lagi bergerak melalui arsitektur.

Saya mulai tinggal di dalamnya.

Di sinilah daylight berubah dari informasi menjadi atmosfer.

Saat berjalan, cahaya memberi saya arah.

Saat duduk, cahaya memberi saya suasana.

Pagi itu, matahari semakin tinggi.

Sedikit demi sedikit, kualitas cahaya berubah.

Langit yang semula pucat mulai memperoleh warna.

Bayangan menjadi lebih jelas.

Temperatur permukaan perlahan akan berubah.

Beban solar gain perlahan akan meningkat.

Bangunan akan bergerak dari kondisi pagi yang sejuk menuju kondisi siang yang lebih hangat.

Dan teknologi harus mengikuti perubahan tersebut.

Sensor daylight dapat membaca perubahan iluminansi.

Sistem kontrol pencahayaan dapat mengurangi atau menambah output cahaya buatan.

Building Management System dapat memonitor kondisi lingkungan.

Teknologi tidak menggantikan daylight.

Ia mengisi ruang di antara perubahan daylight.

Inilah yang saya maksud dengan Light sebagai respons.

Bangunan yang cerdas bukan sekadar bangunan yang memiliki banyak sensor.

Bangunan yang cerdas adalah bangunan yang menggunakan data lingkungan untuk menghasilkan kondisi yang lebih baik bagi manusia.

Ketika daylight cukup, pencahayaan buatan dapat meredup.

Ketika awan datang, pencahayaan buatan dapat mengambil peran.

Ketika matahari semakin tinggi dan solar gain meningkat, envelope dan sistem HVAC harus bekerja lebih keras.

Ketika okupansi meningkat, soundscape berubah.

Ketika ribuan manusia masuk ke terminal, kualitas udara, temperatur dan energi menjadi persoalan yang berbeda.

Bangunan hidup mengikuti manusia.

Saya kembali berjalan menuju departure gate.

Cahaya semakin kuat.

Terminal perlahan mulai terisi.

Soundscape berubah.

Lebih banyak langkah.

Lebih banyak suara.

Lebih banyak koper.

Lebih banyak percakapan.


Setelah berjalan mengikuti arah cahaya menuju departure gate, saya akhirnya berhenti. Kali ini saya tidak lagi mengikuti cahaya—saya menunggunya.

Penerbangan saya berikutnya menuju Amsterdam masih beberapa waktu lagi. Paris hanyalah titik transit dalam perjalanan saya, tetapi untuk beberapa saat Charles de Gaulle menjadi tempat saya tinggal, bukan sekadar tempat saya lewat.

Di depan saya, kaca besar membuka pandangan menuju apron. Matahari berada rendah di horizon. Cahaya keemasan menembus façade, tetapi tidak masuk begitu saja. Di antara langit dan ruang tunggu terdapat lapisan perforated metal screen, struktur baja, dan kaca.

Saya mulai melihat bahwa façade ini bukan sekadar batas antara interior dan eksterior. Ia adalah filter.

Cahaya matahari masuk, tetapi intensitasnya diubah oleh setiap lapisan sebelum mencapai mata saya.

Di luar, matahari masih memiliki warna keemasan. Di dalam, cahaya itu menjadi lebih lembut. Ketika matahari semakin rendah, lampu buatan mulai mengambil alih.

Untuk sesaat, saya dapat melihat keduanya sekaligus—daylight yang perlahan menghilang dan artificial light yang perlahan muncul.

Bangunan tidak memilih antara keduanya. Ia menggabungkannya.

Di atas kepala saya terdapat lapisan perforated metal yang tampak seperti tirai tipis di antara saya dan langit. Di belakangnya terdapat kaca dan struktur baja. Di bawahnya, luminer buatan mulai menyala.

Dalam istilah teknis, saya sedang melihat solar control, daylight transmission, dan artificial lighting bekerja dalam satu envelope.

Tetapi tubuh saya tidak mengalaminya sebagai istilah teknis.

Saya hanya merasakan bahwa matahari ada di sana—terlihat jelas, tetapi tidak lagi terasa seperti matahari yang sama ketika saya berdiri di luar.

Cahaya telah disaring.

Panas telah dinegosiasikan.

Pandangan tetap dipertahankan.

20180812 paris charles de gaulle airport 4.jpg

Pagi yang tenang berubah menjadi sebuah sistem yang hidup.

Dan saya menyadari bahwa pengalaman saya terhadap bangunan juga berubah bersamanya.

Inilah yang membuat Five Building Physics tidak dapat benar-benar dipisahkan:

Light membentuk apa yang saya lihat.

Sound membentuk apa yang saya dengar.

Air membentuk apa yang saya rasakan pada kulit dan pernapasan.

Water menopang kehidupan dan operasi bangunan meskipun sebagian besar tidak terlihat.

Material menentukan bagaimana cahaya, suara, panas dan sentuhan diterjemahkan menjadi pengalaman.

Sementara tujuh sistem sensorik tubuh—visual, auditory, tactile, olfactory, gustatory, vestibular, dan proprioceptive—menerjemahkan semua kondisi fisik tersebut menjadi pengalaman manusia.

Bangunan bekerja secara multidisiplin.

Tubuh mengalaminya sebagai satu kesatuan.

Saya tiba di departure gate.

Di luar, matahari sudah lebih tinggi.

Cahaya pagi kini mulai memiliki kehangatan.

Kaca menangkap langit.

Lantai memantulkan cahaya.

Atap menyaring brightness.

Sistem pencahayaan buatan perlahan menjadi bagian dari komposisi.

Pesawat menunggu di apron.

Terminal yang tadi hampir kosong mulai dipenuhi manusia.

Suara meningkat.

Gerakan meningkat.

Aktivitas meningkat.

Namun cahaya masih menjadi petunjuk yang paling sederhana.

Saya melihat ke arah bukaan yang lebih terang.

Saya mengikuti cahaya.

Dan di antara udara sejuk yang mulai berubah, suara roda koper yang semakin ramai, permukaan material yang menangkap cahaya pagi, dan langit Paris yang perlahan menjadi semakin terang.

Saya berhenti sejenak di depan kaca, melihat matahari yang akhirnya mulai menghangatkan bangunan, sementara cahaya pagi masih jatuh lembut di lantai di hadapan saya...

20180812 paris charles de gaulle airport 3.jpg
Read More
theresa zakaria theresa zakaria

Mengamati Arsitektur Berserjarah Fabriano Museo Farmacia Mazzolini Giuseppucci

Fotografi Arsitektur Bersejarah - Juli 2019

Perabotan kayu tersebut unik di antara ukiran-ukiran bersejarah yang menghiasi seluruh interior.
Read More
theresa zakaria theresa zakaria

Mengamati Fabriano Palazzo Del Podesta

Juli 2019

Bangunan Warisan UNESCO ini dibangun pada tahun 1255 dan dibangun kembali setelah gempa bumi pada tahun 1997.

Read More
Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant Herwin Gunawan Human-Centered Building Performance Consultant

Lighting Design dan Daylighting Design: Pelajaran dari Butterfly Roof Changi Airport Terminal 3

Butterfly Roof menunjukkan bahwa lighting design tidak hanya berkaitan dengan lampu, tetapi juga bagaimana cahaya alami dikendalikan melalui Building Physics, Low-E glazing, dan sistem otomasi untuk menciptakan ruang yang sehat dan berkelanjutan.

 

"Cahaya alami adalah cahaya terbaik yang kita miliki. Namun ia harus dijinakkan agar menjadi aset, bukan gangguan."
Christian Bartenbach, Bartenbach LichtLabor


Pencahayaan alami yang dinamis di area publik membuat ruangan lebih indah serta menyehatkan

Ketika Arsitektur Merespons Alam

Bagaimana Butterfly Roof Mengubah Cahaya Matahari Menjadi Pengalaman Ruang yang Human-Centered?

Saat pertama kali melangkah memasuki Terminal 3 Changi Airport, saya langsung merasakan sesuatu yang berbeda dibandingkan terminal bandara pada umumnya. Bukan hanya karena ruangannya luas atau arsitekturnya megah, tetapi karena bangunan ini terasa "hidup". Cahaya berubah secara perlahan mengikuti kondisi langit, suhu ruang terasa stabil meskipun berada di bawah atap kaca yang sangat besar, dan yang paling mengejutkan, suasana terminal terasa begitu tenang di tengah ribuan penumpang yang berlalu-lalang.

Sebagai seorang Human-Centered Building Performance Consultant, pengalaman tersebut langsung memunculkan pertanyaan teknis di benak saya.

Bagaimana sebuah ruang publik seluas ini dapat memberikan kenyamanan visual, termal, dan akustik secara bersamaan? Jawabannya ternyata tersembunyi di atas kepala kita. Sebuah sistem Responsive Dynamic Daylighting System bernama Butterfly Roof.

Apa itu Butterfly Roof?

Butterfly Roof adalah sistem dynamic daylighting yang responsif, menggunakan panel reflektor bergerak, sensor cahaya, kaca Low-E, dan pencahayaan buatan otomatis untuk mengoptimalkan cahaya alami, mengurangi panas matahari, serta meningkatkan kenyamanan visual, termal, dan akustik di dalam bangunan.


Mengapa Changi Airport Menerapkan Butterfly Roof?

Butterfly Roof di Terminal 3 Changi Airport bukan sekadar elemen arsitektur yang ikonik. Dari perspektif Fisika Bangunan, Butterfly Roof dapat dipahami sebagai sistem yang mengintegrasikan efisiensi energi, kenyamanan pengguna, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu solusi desain.

Sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia, Changi Airport Group (CAG) harus menyediakan terminal yang terang, nyaman, dan hemat energi sepanjang hari, sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari operasional bangunan yang sangat besar. Karena itu, sejak Terminal 3 dibangun pada tahun 2007, CAG telah mengimplementasikan sistem Responsive Dynamic Daylighting System melalui Butterfly Roof.

Strategi ini kemudian menjadi sejalan dengan komitmen global terhadap mitigasi perubahan iklim. Melalui Paris Agreement, lebih dari 190 negara berkomitmen membatasi kenaikan temperatur global agar tetap berada jauh di bawah 2°C dibandingkan era pra-industri, dengan target ideal 1,5°C. Sektor bangunan sendiri diperkirakan menyumbang sekitar 37% emisi karbon global, sehingga pengurangan konsumsi energi melalui desain pasif, optimalisasi pencahayaan alami, dan peningkatan performa selubung bangunan menjadi bagian penting dari upaya dekarbonisasi.

Butterfly Roof menjawab tantangan tersebut dengan mengoptimalkan pemanfaatan cahaya alami, mengurangi panas matahari yang masuk ke dalam bangunan, serta menekan kebutuhan energi untuk pencahayaan dan pendinginan. Hasilnya bukan hanya menghadirkan ruang yang lebih nyaman bagi jutaan penumpang setiap tahun, tetapi juga mampu mengurangi emisi sekitar 2,4 juta kilogram CO₂ per tahun, mendukung peta jalan Net Zero Carbon Changi Airport Group.

Dengan kata lain, Butterfly Roof bukan dibangun semata-mata untuk menciptakan arsitektur yang indah. Sistem ini dirancang sebagai solusi Fisika Bangunan yang mengubah cahaya matahari menjadi sumber daya yang dapat dikendalikan secara cerdas—memberikan manfaat bagi manusia sekaligus bagi lingkungan.


Butterfly Roof: Ketika Matahari Menjadi Bagian dari Sistem Bangunan

Di atas skylight Terminal 3 terpasang 919 butterfly panel yang dikendalikan secara otomatis menggunakan sensor cahaya dan sistem Building Management System (BMS). Alih-alih membiarkan sinar matahari masuk secara langsung, sistem ini secara terus-menerus menyesuaikan sudut panel sesuai kondisi langit.

Butterfly panel tidak sekadar membuka atau menutup. Ia bekerja layaknya instrumen optik raksasa yang mengendalikan bagaimana cahaya memasuki bangunan.

Perforated Metal Panel Dinamis yang bisa terbuka dan tertutup di seluruh area ceiling

Seperti yang dijelaskan oleh Christian Bartenbach, tujuan sistem ini bukan menghalangi cahaya matahari, melainkan "menjinakkan" cahaya tersebut agar hanya kualitas cahaya terbaik yang diterima manusia.

Yang masuk bukanlah cahaya matahari yang keras, tetapi diffused daylight—cahaya langit yang telah tersebar oleh atmosfer sehingga menghasilkan iluminasi yang lembut, merata, dan nyaman bagi mata.


Integrasi Dinamis Lighting - Daylighting - Thermal Comfort yang Responsif

Sistem Butterfly Roof sebenarnya bukan hanya terdiri dari panel reflektor. Ada empat lapisan teknologi yang bekerja secara bersamaan.

1. Butterfly Panel (919 unit)
Mengontrol jumlah dan arah cahaya langit yang masuk menggunakan sensor dan Building Management System sehingga kualitas pencahayaan tetap nyaman selama 24 jam sepanjang tahun.

919 Butterfly Panel diletakan pada Roof Top Terminal 3 Changi Airport untuk mengatur tingkat cahaya langit yang masuk ke ruangan

2. Direct Artificial Lighting
Lampu berintensitas tinggi ditempatkan tepat di bawah butterfly panel. Saat malam hari atau langit sangat gelap, sistem ini menggantikan cahaya langit sehingga karakter pencahayaan ruang tetap konsisten.

Light Projection dengan kekuatan 1000 Watt

3. Double Low-E Glazing
Mengurangi perpindahan panas matahari sambil tetap mempertahankan transmisi cahaya alami.

4. Dynamic Perforated Metal Ceiling
Mengendalikan silau sekaligus meningkatkan kenyamanan akustik melalui penyerapan suara dan pengaturan arah cahaya.

Integrasi Fisika Bangunan ini merupakan salah satu contoh penerapan Architectural Daylighting Design yang mengintegrasikan Lighting Design, dan Building Automation dalam satu sistem yang responsif terhadap perubahan kondisi langit.


Harmoni Tiga Kenyamanan

Yang paling menarik dari Butterfly Roof adalah bahwa sistem ini tidak hanya mengendalikan cahaya. Ia menjadi bagian dari strategi Building Physics yang mengintegrasikan tiga aspek kenyamanan manusia secara bersamaan.

Kenyamanan Visual

"Semua Terlihat Jelas"

Di negara tropis, skylight besar hampir selalu identik dengan silau. Namun pengalaman di Terminal 3 justru sebaliknya. Mata saya tidak pernah merasa lelah meskipun sebagian besar ruang diterangi oleh cahaya alami.

Secara teknis, butterfly panel mengontrol luminous intensity dengan memantulkan sinar matahari langsung yang membawa radiasi panas tinggi, sementara hanya cahaya langit terdifusi yang diteruskan ke dalam bangunan.

Setelah melewati butterfly panel, cahaya masih harus melalui double low-emissivity glazing sebelum memasuki ruang terminal. Kombinasi ini menghasilkan pencahayaan yang sangat merata dengan Color Rendering Index (CRI) alami yang tinggi.

Semua warna material, vegetasi, signage, dan wajah manusia terlihat jelas tanpa kontras berlebihan ataupun silau. Visual clarity inilah yang membantu orientasi ruang menjadi lebih intuitif bagi jutaan penumpang setiap tahunnya.

Perforated Metal Panel Dinamis ini berfungsi untuk mengurangi silau cahaya dan meningkatkan kenyamanan akustik ruangan

Kenyamanan Suara

"Tenang di Tengah Kesibukan"

Hal berikutnya yang saya rasakan adalah keheningan. Mata melihat ribuan orang berjalan. Namun telinga tidak mendengar kebisingan yang seharusnya muncul pada ruang sebesar ini.

Ternyata di balik pengalaman tersebut terdapat Dynamic Perforated Metal Ceiling yang dipasang di hampir seluruh area terminal. Panel logam berlubang ini berfungsi sebagai sound absorber yang mengurangi energi pantulan suara sehingga reverberation time tetap terkendali.

Selain itu, sudut panel juga dapat disesuaikan untuk membantu mengendalikan distribusi cahaya dari skylight. Satu elemen arsitektur menjalankan dua fungsi sekaligus. Visual Comfort. Acoustic Comfort. Tanpa sistem ini, ruang sebesar Terminal 3 akan dipenuhi gema, pengumuman akan terdengar saling bertumpuk, dan perjalanan penumpang menjadi jauh lebih melelahkan secara mental.

Kenyamanan Termal

"Kesejukan yang Tidak Terlihat"

Di bawah atap kaca seluas Terminal 3, secara intuitif kita akan membayangkan adanya panas radiasi yang kuat. Namun yang saya rasakan justru sebaliknya. Kulit tidak pernah merasakan panas menyengat dari atas.

Rahasianya terletak pada penggunaan double low-emission glazing. Lapisan mikroskopis pada kaca ini memantulkan sebagian besar radiasi inframerah matahari namun tetap mempertahankan transmisi cahaya tampak. Dengan kata lain, light passes through, heat stays outside.

Stabilitas temperatur ini membuat sistem HVAC bekerja jauh lebih ringan sehingga konsumsi energi bangunan dapat ditekan secara signifikan.


Bagaimana Sistem Butterfly Roof Bekerja?

Butterfly Roof dirancang untuk mengikuti ritme alam. Ketika kondisi langit berubah akibat pergerakan matahari, awan, maupun pergantian siang dan malam, sistem ini secara otomatis menyesuaikan setiap komponennya agar ruang tetap terang, nyaman, sejuk, dan bebas silau. Hasilnya adalah pengalaman ruang yang konsisten bagi pengguna tanpa mereka menyadari bahwa bangunan sedang terus beradaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya.

Matahari Terik

Saat radiasi matahari tinggi, butterfly panel membuka pada sudut tertentu sehingga sinar matahari langsung dipantulkan kembali. Yang masuk hanyalah cahaya langit terdifusi, sementara panas dikurangi oleh lapisan Low-E glazing dan potensi silau dikendalikan oleh perforated ceiling.

Matahari Terik

Pada saat matahari terik, butterfly roof terbuka dengan derajat tertentu, memantulkan kembali cahaya keras dan memasukan hanya cahaya langit yang terdifuse oleh atmosfer.

Panas yang masuk bersamaan dengan cahaya terinsulasi oleh double low emission glazing, dan silau cahaya dikendalikan oleh perforated panel.

Langit Berawan

Ketika langit mendung, panel membuka lebih lebar sehingga seluruh cahaya langit dapat dimanfaatkan sebagai sumber pencahayaan alami dengan distribusi yang merata.

Langit Berawan

Saat langit berawan, butterfly roof terbuka penuh, seluruh cahaya langit dapat masuk ke dalam ruangan.

Malam Hari

Begitu malam tiba, butterfly panel menutup dan sistem artificial lighting yang berada tepat di bawah panel mengambil alih fungsi cahaya langit. Karakter pencahayaan ruang tetap konsisten sehingga pengalaman pengguna tidak berubah secara drastis antara siang dan malam.

Malam Hari

Pada malam hari, butterfly roof panel tertutup dan ruangan diterangi oleh direct light yang dibawah butterfly panel.

Pada praktik profesional, performa sistem seperti Butterfly Roof biasanya divalidasi melalui simulasi daylight menggunakan perangkat lunak seperti Radiance, ClimateStudio, Honeybee, atau DIALux untuk memastikan target sDA, ASE, UDI, dan visual comfort dapat dicapai sebelum bangunan dibangun.


Filosofi Arsitektur yang Berpusat pada Manusia

Arsitek Skidmore, Owings & Merrill (SOM) merancang Terminal 3 bukan sebagai mesin transit, melainkan sebagai ruang publik yang mampu beradaptasi terhadap siklus alam. Pendekatan tersebut tercermin dari integrasi cahaya alami, lanskap, struktur bangunan, hingga teknologi otomasi yang bekerja secara simbiosis.

Terminal ini tidak berusaha melawan iklim tropis. Sebaliknya, ia memanfaatkan potensi cahaya matahari sebagai sumber daya yang dikendalikan secara cerdas. Inilah esensi Human-Centered Building Performance. Bangunan tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsi, tetapi juga menjaga kenyamanan fisiologis dan psikologis manusia melalui kualitas cahaya, suara, dan temperatur.

Tabel Manfaat Responsive Dynamic Daylight System

Tabel Manfaat Responsive Dynamic Daylight System


Pelajaran Penting bagi Indonesia

Secara iklim Indonesia dan Singapore memiliki karakteristik saya sama, intensitas cahaya matahari yang jauh lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain. Sayangnya, strategi desain tropis masih sering menganggap cahaya matahari sebagai musuh.

Akibatnya, banyak bangunan ditutup rapat, bergantung pada lampu LED sepanjang hari, dan membutuhkan pendinginan mekanis dalam jumlah besar. Padahal tantangannya bukanlah bagaimana menghindari cahaya, melainkan bagaimana mengendalikannya.

Dengan simulasi daylighting menggunakan parameter seperti Spatial Daylight Autonomy (sDA), Annual Sunlight Exposure (ASE), Useful Daylight Illuminance (UDI), dan analisis Solar Heat Gain, kita dapat merancang bangunan yang terang, hemat energi, nyaman secara visual, sekaligus sesuai dengan iklim tropis Indonesia.

Butterfly Roof menjadi bukti bahwa teknologi, Building Physics, dan desain pasif dapat bekerja bersama menciptakan bangunan yang lebih sehat, lebih efisien, dan lebih berkelanjutan.


Refleksi

Selama pengamatan saya di Terminal 3 Changi Airport, saya menyadari bahwa pengalaman terbaik dalam sebuah bangunan sering kali berasal dari hal-hal yang tidak kita sadari.

Kita tidak menyadari bahwa cahaya sedang dikendalikan.

Kita tidak menyadari bahwa gema sedang diserap.

Kita tidak menyadari bahwa panas matahari sedang dipantulkan.

Yang kita rasakan hanyalah sebuah ruang yang terasa nyaman.

Bagi saya, di situlah letak keberhasilan sebuah desain.

Arsitektur terbaik bukanlah yang paling spektakuler untuk dilihat, melainkan yang paling mampu melindungi manusia tanpa pernah terasa memaksakan kehadirannya.

Butterfly Roof Terminal 3 Changi Airport menunjukkan bahwa ketika integrasi fisika bangunan mulai dari daylighting engineering, lighting engineering, thermal engineering, dan building automation dirancang sebagai satu kesatuan, hasilnya selain bangunan yang hemat energi, sekaligus pengalaman ruang yang lebih sehat, lebih indah, dan lebih manusiawi. Hal ini merupakan salah satu referensi yang dapat diadopsi dan diterapkan bagi masa depan arsitektur tropis di Indonesia.


Project Information:

Project Name: Changi Airport, Terminal 3, Singapore [SG] completion 2007

Architects SOM: Skidmore, Owings & Merrill LLP , New York [US], CPG Corporation Pte Ltd, Singapore [SG]

Lighting Designer: Bartenbach LichtLabor, Aldrans [AT]

Photography: Bartenbach, durlum GmbH, David Phan, iStock: Pinopic, Joyt, Fotolia: Chrupka, Herwin Gunawan

References

Bartenbach LichtLabor. (n.d.). Daylighting and lighting design research. Innsbruck, Austria: Bartenbach LichtLabor.

Changi Airport Group. (Various years). Sustainability Report. Singapore: Changi Airport Group.

International Commission on Illumination (CIE). (2006). CIE 170:2006 – Daylight in Buildings. Vienna, Austria: CIE.

Illuminating Engineering Society (IES). (2020). The Lighting Handbook (11th ed.). New York, NY: Illuminating Engineering Society.

Skidmore, Owings & Merrill LLP (SOM). (2008). Singapore Changi Airport Terminal 3 – Project Description. Chicago, IL: Skidmore, Owings & Merrill LLP.

ALTA Integra#buildingphysics#architecture#daylighting#daylightingdesign

Read More