Kajian Literatur, Wawasan Ilmiah & Kerangka Perancangan Berbasis Bukti
Kinerja Bangunan Berbasis Manusia
Jelajahi kajian literatur, wawasan ilmiah, dan kerangka perancangan berbasis bukti.
Temukan bagaimana akustik, pencahayaan, kenyamanan termal, kualitas udara, desain pasif, dan teknologi bangunan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan binaan yang lebih sehat, nyaman, produktif, dan berkelanjutan yang menghubungkan fisika bangunan, psikologi lingkungan, dan desain berkelanjutan.
Analisis Objektif dan Subjektif Cahaya Alami Tiga Katedral Gotik Terkenal Dunia
Artikel ini membandingkan strategi daylighting pada tiga gereja Gotik paling berpengaruh di Eropa: Notre-Dame de Paris, Cologne Cathedral, dan Milan Duomo Cathedral. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan data geometris, rasio kaca–batu, orientasi, serta reinterpretasi metrik daylight kontemporer melalui kerangka Sacred Daylight Metric (SDM⁺).
Arsitektur Gotik sering dipahami melalui ekspresi visualnya—menara runcing, jendela mawar, dan struktur penopang yang menjulang. Namun, di balik estetika tersebut, terdapat strategi pencahayaan alami yang sangat canggih, dirancang jauh sebelum munculnya teori iluminansi modern atau simulasi komputasional. Cahaya pada gereja Gotik bukan sekadar sarana penerangan, melainkan instrumen spasial, simbolik, dan iklim.
Artikel ini membandingkan strategi daylighting pada tiga gereja Gotik paling berpengaruh di Eropa: Notre-Dame de Paris, Cologne Cathedral, dan Milan Duomo Cathedral. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan data geometris, rasio kaca–batu, orientasi, serta reinterpretasi metrik daylight kontemporer melalui kerangka Sacred Daylight Metric (SDM⁺).
Paris Notre Dame
Notre-Dame de Paris berlokasi di Paris pada latitude 48.9°N dengan karakteristik daylight yang temperate dan overcast. Gereja ini dibangun dalam kurun waktu 1163 – 1345 merepresentasikan titik keseimbangan Gotik Tinggi. Rasio kaca–batu yang moderat memungkinkan cahaya masuk secara cukup tanpa menghilangkan kehadiran massa struktural. Clerestory berada pada ketinggian yang masih efisien secara fotometrik, sehingga dinding dan kolom tetap terbaca dengan jelas.
Cahaya dari jendela mawar barat bersifat episodik dan simbolik, sementara glazing timur berupa Tall lancet + rose stained glass dengan ketinggian 18–20 meters lebar 2.0–2.5 meters, total stained glass area 220 m² memberikan iluminasi yang lebih stabil dan fungsional bagi altar. Secara spasial, pengunjung merasakan orientasi dan kejelasan, bukan keterkejutan. Dalam konteks SDM⁺, Notre-Dame menunjukkan mediasi cahaya yang optimal, di mana struktur dan cahaya berada dalam relasi seimbang.
Cologne Cathedral
Cologne Cathedral dibangun dalam lini tahun 1248 - 1880 dengan Arsitektur Gotik Rayonnant - Late. Berlokasi pada latitude 50.9°N berkarakteristik cahaya matahari rendah utara. Bangunan ini mendorong logika Gotik ke batas ekstremnya. Rasio glazing yang tinggi, terutama pada bagian timur dengan Extreme Tall Lancets Stained Glass tinggi total 22–24 meters lebar 2.5– 3.0 meters, total stained glass area 315 m², menjadikan dinding hampir terdematerialisasi. Cahaya hadir dominan di zona atas, menciptakan iluminasi vertikal yang intens, namun relatif minim pada lantai nave.
Strategi ini menghasilkan pengalaman ruang yang sangat kuat secara simbolik: tubuh manusia terasa kecil, dan pandangan terus ditarik ke atas. Dalam metrik daylight konvensional berbasis lantai, katedral ini tampak “gelap”. Namun, ketika dievaluasi melalui vertical illuminance dan symbolic concentration, Cologne muncul sebagai ruang sakral yang paling transendental di antara ketiganya.
Milan Duomo Cathedral
Berbeda dengan dua contoh sebelumnya, Milan Cathedral menunjukkan strategi penahanan cahaya. Duomo merupakan Arsitektur Late Gothic Hybrid dibangun pada lini waktu 1386 – 1965. Rasio batu yang dominan, kedalaman bukaan, serta kepadatan kolom marmer menghasilkan iluminasi yang rendah namun stabil. Bukaan Timur terdiri dari Multiple Stacked Lancets Stained Glass dengan Tracery yang padat total tinggi 16–18 meters lebar 1.8– 2.2 meters, total stained glass area 170 m².
Milan berada pada latitude 45.5°N dengan konteks iklim Mediterania yang terang dan panas, pendekatan ini berfungsi sebagai mekanisme pengendalian silau dan panas. Cahaya tidak pernah membanjiri ruang, melainkan hadir sebagai lapisan-lapisan lembut yang memperkuat kedalaman dan keheningan. Pengalaman spasial yang muncul bukan orientasi atau keterkejutan, melainkan kontemplasi dan perlindungan termal. SDM⁺ mengungkap bahwa strategi ini bukan kegagalan Gotik, melainkan adaptasi iklim yang sangat cerdas.
Cahaya sebagai Mediasi, Bukan Maksimalisasi
Perbandingan ketiga gereja ini menunjukkan bahwa daylighting Gotik tidak pernah bertujuan memaksimalkan terang, melainkan memediasi cahaya sesuai konteks budaya, iklim, dan teologi. Rasio kaca–batu berperan sebagai regulator utama, sementara ketinggian dan orientasi menentukan bagaimana cahaya dibaca secara vertikal.
Temuan ini menantang dominasi metrik daylight modern berbasis fungsi kerja, dan menegaskan perlunya pendekatan alternatif—seperti SDM—yang mengakomodasi persepsi vertikal, stabilitas temporal, dan makna simbolik.
Strategi daylighting pada gereja Gotik menunjukkan tingkat kecanggihan lingkungan yang sering diremehkan. Notre-Dame de Paris mengajarkan keseimbangan, Cologne Cathedral menampilkan ambisi transendental, dan Milan Cathedral menawarkan ketahanan iklim melalui massa. Ketiganya membuktikan bahwa cahaya dalam arsitektur sakral bukan sekadar fenomena fisik, melainkan alat pembentuk ruang, pengalaman, dan makna.
Desain Analisa Perbaikan Akustik Ruang Konser Utama Sydney Opera House
Pada Februari 2020 hingga Juli 2022 Concert Hall ditutup untuk menjalani renovasi besar-besaran, termasuk perbaikan akustik secara menyeluruh. Peningkatan akustik yang dipimpin Mueller-BBM Acoustics ini merupakan bagian dari tahap akhir proyek “Decade of Renewal” milik Sydney Opera House.
FASE DESAIN AWAL 1973 - 1996
Dr. Vilhelm Lassen Jordan adalah seorang insinyur sipil yang mengerti bidang arsitektural akustik. Dia ditunjuk sebagai konsultan akustik Concert Hall Sydney Opera House membantu Jorn Utzon yang kemudian dilanjutkan oleh Peter Hall. Sayangnya sejak dibuka pada tahun 1973, akustik ruang konser sering dikeluhkan oleh musisi yang tampil di sana, keluhan yang paling sering didengar adalah karakteristik suara yang tipis dan kurangnya pantulan suara awal.
Sydney Opera House menerbitkan buku teknis yang berjudul Red Book, dimana bagian akustik disusun oleh Vilhelm Lassen Jordan. Pada sub bab berjudul “Some Examples of Existing Large Halls and their Acoustic Data”, Jordan membandingkan sejumlah karakteristik—yaitu volume ruang, jumlah kursi, volume per kursi, waktu dengung (reverberation time) dalam kondisi kosong, serta waktu dengung dengan kehadiran penonton—untuk tujuh ruang konser yang sudah ada, ditambah dengan ruang konser Sydney yang diusulkan.
Sebagaimana dicatat oleh Jordan: “Akustik yang memuaskan didasarkan pada sejumlah faktor: waktu dengung, distribusi bunyi, difusi bunyi, dan dimensi ruang secara keseluruhan.” Dari faktor-faktor tersebut, waktu dengung menjadi faktor kunci dalam permasalahan akustik yang timbul akibat upaya memasukkan jumlah kursi yang dipersyaratkan ke dalam ruang konser sebagaimana dirancang semula oleh Utzon.
"Ruang Konser di Sydney Opera House merupakan salah satu ruang konser besar dengan kualitas terburuk di dunia”.
Kalimat ini dikutip secara harfiah dari pernyataan Leo Beranek dalam edisi tahun 1996 bukunya, dan sering digunakan dalam literatur akustik untuk menggambarkan kritik keras terhadap kualitas akustik Concert Hall Sydney Opera House sebelum renovasi besar tahun 2020–2022.
Pada tahun 1996 Leo Beranek guru besar ilmu akustik di Universitas Harvard melakukan pengukuran akustik dan survery psikoakustik terhadap 58 ruang konser di seluruh dunia. Hasil penelitian dijadikan buku dengan judul Concert Halls and Opera Houses: Music, Acoustics, and Architecture, di dalam buku ini Leo Beranek Ruang Konser Utama Sydney Opera House berada di urutan 53.
Peter Murray, dalam catatannya mengenai rangkaian peristiwa yang menyebabkan kualitas akustik tidak baik menuliskan: Setelah pengunduran diri Utzon, penasihat akustik Lothar Cremer menegaskan kepada Komite Eksekutif Sydney Opera House bahwa rancangan akustik asli Utzon hanya memungkinkan 2.000 kursi di ruang utama. Ia juga menyatakan bahwa peningkatan jumlah kursi menjadi 3.000, sebagaimana ditetapkan dalam dokumen perencanaan (brief), akan menjadi bencana bagi akustik ruang.
Beranek tahun 2004 menyimpulkan: “Para arsitek merancang untuk klien, dan keduanya dapat memiliki tujuan yang sama yaitu membangun sebuah monumen yang akan didatangi publik dari tempat yang jauh dan yang akan memenangkan penghargaan internasional. Akan tetapi karena kurangnya pengetahuan dan minat, para arsitek dan pemilik sering kali gagal merancang—yang secara argumentatif merupakan fitur terpenting dari sebuah ruang pertunjukan musik—yaitu bagaimana suara dari sebuah komposisi tersebut akan terdengar.”
FASE STUDI MASALAH 1996 - 2007
Foto ruang konser sebelum perbaikan menggunakan Reflektor Akustik Acrilik yang berbentuk donut
Dari hasil survey tersebut pada tahun yang sama Maestro Edo de Waart bersama anggota Sydney Symphony Orchestra mengungkapkan keprihatinan mereka tentang keluhan atas buruknya akustik di ruang konser utama, dan membuat pengelola Sydney Opera House meminta beberapa konsultan akustik ternama untuk melakukan analisa masalah dan rekomendasi perbaikan sebagai berikut.
| Tahun | Konsultan | Rekomendasi Utama | Kutipan Langsung & Sumber |
|---|---|---|---|
| 1996 | Kirkegaard Associates | Identifikasi ketidakseimbangan pantulan suara dan perlunya penataan ulang panggung serta reflektor tambahan. | “Concert Hall exhibits limited support for ensemble sound on stage and weak projection into the hall.” — Kirkegaard Report (1996) |
| 1996 | Karlheinz Müller | Menyoroti lemahnya pantulan awal dari panggung dan ketidakseimbangan spasial suara. | “The lack of early energy in the platform area contributes to disconnection among players.” — Müller Review (1996) |
| 1997 | Peter Knowland & Associates | Menganalisis kelemahan area panggung sebagai penyebab utama masalah musikal dan interaksi antar-pemain. | “The primary acoustical problem is experienced on stage by the musicians.” — Knowland Report (1997) |
| 1998 | Arup Acoustics | Reflektor overhead, modifikasi panggung, material padat, dan kontrol kebisingan diperlukan sebagai solusi terpadu. | “Improvement will require a combination of stage treatment, new reflector, denser materials, and noise control.” — Arup Report (1998) |
| 2001 | Arup (Trial Reflector Study) | Reflektor orkestra prototipe efektif untuk peningkatan kualitas akustik penonton dan musisi di panggung. | “Study confirms that an orchestral reflector is effective... for both audience and platform.” — Arup Acoustic Evaluation (2001) |
| 2002–2003 | Nagata Acoustics | Rekomendasi: riser semi-sirkular, reflektor solid, sealing ceiling, dan perbaikan sistem HVAC. Sydney Concert Hall mendapat skor rendah dalam benchmarking. | “Compared to 11 world-class halls, Sydney ranked at the lower end.” — Nagata Benchmark Report (2003) |
| 2006 | Nagata (Riser Trial) | Konfigurasi riser terbukti meningkatkan formasi ensemble dan kualitas interaksi antar-musisi. | “The riser arrangement provides a more effective ensemble configuration.” — Trial Summary (2006) |
| 2007 | Kirkegaard Associates | Kritik atas kompromi desain awal dan kebutuhan perencanaan ulang secara menyeluruh. | “The Concert Hall is inserted into a void meant for an Opera Theatre… compromises have resulted in dysfunction.” — Kirkegaard Report (2007) |
Laporan Arup (1998) menyimpulkan bahwa, tanpa perubahan struktural besar terhadap geometri ruang, perbaikan akustik harus dilakukan melalui serangkaian langkah—termasuk pemasangan reflektor overhead, modifikasi panggung, penggantian material ringan dengan material padat, serta penanganan masalah kebisingan latar. Kesimpulan ini umumnya konsisten dengan pendapat profesional lain yang dikumpulkan.
Pada 2001 dilakukan uji coba bersama Sydney Symphony untuk mengetahui apakah sebuah reflektor solid tunggal akan menghasilkan perbedaan yang dapat dideteksi di panggung. Sebuah prototipe reflektor dibuat dari sebuah flat scenery berbahan plywood yang dipinjam dari Opera Australia. Meskipun tidak dirancang khusus sebagai reflektor akustik, prototipe ini memungkinkan konsep tersebut diuji. Dampak visual dan nilai warisan (heritage) terhadap venue baru akan dinilai setelah efek akustiknya ditentukan.
Laporan Arup Acoustics berjudul Acoustic Evaluation of a Trial Orchestral Reflector (2001) menyimpulkan bahwa: Secara keseluruhan, studi ini mengonfirmasi bahwa reflektor orkestra efektif dalam meningkatkan kondisi akustik baik di area penonton maupun di platform panggung. Hal ini secara bersama-sama memberikan peningkatan keseluruhan terhadap akustik Concert Hall. Meski demikian, perubahan lain pada Concert Hall (sebagaimana disimpulkan dalam laporan Arup Acoustics Mei 1998) perlu dipertimbangkan sebagai paket pekerjaan untuk memperbaiki akustik Concert Hall…
Pada 2002, Sydney Opera House memperoleh pendanaan dari Pemerintah NSW untuk Venue Improvement Program, serangkaian proyek besar di seluruh gedung. Sebagian kecil dana dialokasikan untuk meneliti dan mengembangkan konsep perbaikan akustik Concert Hall di masa depan. Nagata Acoustics dari Jepang direkrut sebagai konsultan akustik untuk investigasi tersebut.
Nagata menyelesaikan laporan benchmarking akustik (2003) yang membandingkan Concert Hall Sydney Opera House dengan 11 concert hall internasional yang dianggap ‘kelas dunia’. Concert Hall Sydney menempati peringkat rendah di antara venue-venue pembanding tersebut [12]. Berdasarkan pemodelan dan studi akustik, Nagata merekomendasikan pemasangan riser orkestra semi-sirkular, sebuah reflektor overhead solid, serta sejumlah pekerjaan ‘housekeeping’ seperti penyegelan area langit-langit untuk mencegah kebocoran suara dan perlakuan akustik pada sistem pendingin udara.
Rekomendasi-rekomendasi tersebut tidak dilaksanakan pada waktu itu karena pertimbangan heritage, anggaran, dan keterbatasan struktural. Penilaian independen oleh konsultan heritage, Design 5 Architects, menegaskan bahwa reflektor solid besar tidak cocok untuk Concert Hall Sydney Opera House dari perspektif warisan budaya.
Sebuah prototipe set riser bertingkat semi-sirkular sesuai spesifikasi Nagata diuji coba pada 2006. Sydney Symphony menilai konfigurasi ini berhasil memberikan susunan ensemble yang lebih efektif; riser tersebut dianggap dapat menawarkan solusi parsial.
Pada 2007, Nagata Acoustics tidak tersedia untuk melanjutkan pengembangan opsi akibat beban kerja yang tinggi. Kirkegaard Associates kemudian ditunjuk untuk bekerja sama dengan Sydney Opera House sebagai konsultan akustik untuk melanjutkan pengembangan konsep perbaikan akustik di masa depan.
Dalam laporan bertanggal 8 Agustus 2007, Kirkegaard menyimpulkan: Concert Hall adalah ruang arsitektural dramatis yang dimasukkan ke dalam volume yang pada awalnya dimaksudkan untuk sebuah Opera Theatre. Dari fakta dasar ini muncul serangkaian kompromi yang telah menciptakan aspek-aspek disfungsional pada concert hall. Kirkegaard mengajukan serangkaian rekomendasi yang dimaksudkan menjadi dasar proses masterplanning untuk perbaikan bertahap.
FASE UJICOBA 2007 - 2012
Uji Coba Reflektor Akustik di Concert Hall Sydney Opera House Pertama Tahun 2007.
Sydney Opera House dibangun dengan tradisi penggunaan prototipe skala penuh sebagai bukti konsep desain. Tradisi ini terus dijaga dalam setiap pengembangan dan rancangan proyek besar yang dilakukan sejak awal berdirinya gedung ini.
Rekomendasi dari Kirkegaard Associates memerlukan pengujian langsung di tempat (in situ) sebelum dapat dijadikan bagian dari rencana induk (masterplan) untuk perbaikan akustik Concert Hall. Selain itu, pengujian ini juga menjadi syarat untuk mendapatkan komitmen pendanaan dan sumber daya yang dibutuhkan.
Dengan memahami bahwa satu reflektor besar tunggal tidak dapat diterima secara visual dan nilai warisan, Kirkegaard menyarankan penggunaan susunan reflektor cembung berbentuk kotak yang dapat disesuaikan untuk mengatur cakupan dan arah pantulan suara. Sebelum uji akustik skala penuh dilakukan, bentuk reflektor ini perlu diuji secara visual untuk menilai kesesuaiannya terhadap estetika dan nilai heritage gedung. Selain itu, perlu juga dinilai dampaknya terhadap aspek teknis panggung, seperti titik-titik rigging.
Dua reflektor prototipe dibuat sesuai spesifikasi Kirkegaard. Reflektor ini digantung di atas panggung dan dinilai oleh arsitek serta konsultan warisan budaya. Perhatian utama tertuju pada tingkat transparansi dan pantulan cahaya, terutama karena dapat mengganggu pandangan ke arah organ besar dan langit-langit panggung.
Sesuai prinsip konservasi Sydney Opera House, jika diperlukan perubahan untuk meningkatkan nilai heritage ruang seperti Concert Hall, maka perubahan tersebut harus dilakukan sebatas yang diperlukan dan seminimal mungkin. Oleh karena itu, pengujian dimulai dari opsi yang memunculkan perubahan visual paling sedikit. Tim mempertimbangkan penggunaan reflektor bundar solid untuk menambah cakupan akustik tanpa mengubah tampilan dari bentuk "cloud" eksisting.
Opsi ketiga yang dipertimbangkan adalah meminimalkan perubahan visual pada cloud yang sudah ada, dengan cara mengisi lubang pada reflektor akrilik eksisting menggunakan cakram cembung.
Dari sisi warisan, semua opsi tersebut dianggap berpotensi dapat diterima untuk dikembangkan lebih lanjut, walaupun reflektor cakram bundar tampak kurang substansial dibanding opsi lainnya. Reflektor berbentuk kotak menghadirkan tantangan pantulan cahaya yang perlu diselesaikan.
Pengujian akustik dilakukan untuk menilai tingkat perbaikan cakupan dan kendali suara dari masing-masing opsi. Satu set penuh infill cakram (Gambar 13) dipasang pada 18 cloud akrilik eksisting. Hasil uji dengar Kirkegaard menunjukkan bahwa meskipun belum menjadi solusi akhir, ada peningkatan nyata dalam cakupan suara di panggung. Namun, Kirkegaard mencatat: “Susunan reflektor masih terlalu jarang untuk memberikan tingkat pantulan suara yang memadai di atas panggung.”
Uji Coba Reflektor Akustik di Concert Hall Sydney Opera House Kedua Tahun 2009
Pada tahun 2009 dilakukan uji coba paling komprehensif hingga saat ini untuk menilai efek gabungan dari tiga elemen:
Susunan reflektor overhead lebih luas,
Panel dinding datar yang menutupi geometri sawtooth, dan
Sistem arsitektur akustik elektronik.
Uji ini menghasilkan data akustik yang sangat besar, menemukan waktu yang tepat untuk pelaksanaan uji coba ini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen Sydney Opera House. Diperlukan waktu satu minggu ketika Sydney Symphony sedang tampil, dan tidak ada pertunjukan komersial lain yang membutuhkan instalasi teknis tambahan.
Pada Minggu, 6 September 2009, hall digunakan untuk pertunjukan sore oleh Australian Chamber Orchestra dalam mode akustik. Setelahnya, dilakukan pergantian teknis menuju konfigurasi dengan tirai akustik untuk pertunjukan malam Ben Folds yang menggunakan sistem suara amplifikasi.
Setelah pertunjukan malam selesai, sekitar 40 teknisi bekerja semalaman untuk memasang prototipe akustik dan rig pencahayaan tambahan, agar siap untuk sesi latihan Sydney Symphony keesokan paginya.
Layanan produksi, rigging, dan pencahayaan dikelola oleh tim Production Services Sydney Opera House, dengan tambahan kru dari Australian Crewing dan Endeavour Skilled Trades. Untuk kebutuhan uji ini, 18 reflektor akrilik di atas panggung dibongkar dan digantung kembali menggunakan struktur tri-truss sementara dalam konfigurasi yang lebih rapat.
FASE RENOVASI BESAR 2020 - 2022
Pada periode 2020–2022, Sydney Opera House menutup untuk umum dan melakukan renovasi besar pada Concert Hall dengan fokus memperbaiki persoalan akustik yang telah dikritik selama puluhan tahun. Elemen paling signifikan adalah penggantian sistem reflektor akustik lama—dikenal sebagai acoustic doughnuts—dengan panel reflektor dan diffuser kayu berlapis yang dirancang ulang secara ilmiah. Sistem baru ini dirancang untuk menghasilkan early reflections yang merata, meningkatkan kejelasan (clarity), kehangatan bunyi, serta intimacy antara orkestra dan penonton di seluruh area tempat duduk.
Selain itu, geometri dan material interior disesuaikan untuk mengoptimalkan waktu dengung bagi musik simfoni tanpa amplifikasi. Kursi penonton didesain ulang agar sifat akustiknya konsisten antara kondisi kosong dan terisi, sementara tata letak panggung diperbaiki agar musisi dapat saling mendengar dengan lebih baik. Integrasi sistem akustik pasif ini dilakukan bersamaan dengan pembaruan teknis—tanpa mengubah karakter arsitektur ikonik bangunan—sehingga Concert Hall akhirnya mencapai kualitas akustik yang sebanding dengan ruang konser kelas dunia.
Untuk melihat elemen akustik yang diterpasang sekarang baca tulisan: Mengamati fasilitas Ruang Konser Utama Sydney Opera House
ALTA Integra Menggunakan Akustik Kamera Untuk Memberikan Layanan Konsultasi Akustik Terbaik
Berkat Akustik Kamera team Akustik ALTA Integra dapat memastikan setiap ruangan yang dibangun telah dikerjakan oleh kontraktor dengan baik dan benar secara presisi walau dengan tantangan deadline proyek yang ketat.
Lubang sekecil jarum pada partisi yang tebal sekalipun dapat mengurangi performa insulasi akustik. Kamera akustik adalah alat terbaik untuk menemukan keboocoran suara sampai ukuran lubang jarum yang dapat menyebabkan kebocoran suara. Kebocoran suara yang bisa kita dengar akan tidak kuping kita tidak dapat mendeteksi di mana lubang tersebut berada.
Dengan bantuan Akustik Kamera team akustik kami dapat dengan mudah menemukan dan mengidentifikasi sumber kebocoran suara. Data akustik kamera yang terdiri 64 array mikrofon dan sebuah kamera dapat memvisualisi dan melokalisasikan suara Data audio dan visual tersebut dikirimkan ke perangkat lunak yang memproses menjadi tiga tampilan utama yaitu:
Spektrum Suara yang menunjukkan tingkat tekanan suara pada setiap frekuensi.
Spektrogram yang menunjukkan intensitas setiap frekuensi terhadap waktu.
Visualisasi Suara yang menunjukkan sumber suara utama pada objek yang dianalisa.
Berkat Akustik Kamera team Akustik ALTA Integra dapat memastikan setiap ruangan yang dibangun telah dikerjakan oleh kontraktor dengan baik dan benar secara presisi walau dengan tantangan deadline proyek yang ketat.
ALTA Integra adalah konsultan akustik yang menyediakan layanan Desain Akustik Terbaik di Indonesia untuk dalam mendesain dan mengawasi pembangunan ruangan performa tinggi seperti: Gedung Konser, Studio Rekaman, Kantor Multinasional, Ruang Hiburan Komersial, Hotel Bintang Lima, dan lain sebagainya.
Mengurangi Rambatan Bising Struktur dengan membagi Massa Bangunan
Kasus ini membuktikan bahwa Rekayasa dan Perencanaan Akustik yang didukung oleh disiplin Struktur dan Arsitek dapat memberikan nilai tambah bangunan seperti meningkatkan kenyamanan akustik sekaligus dapat menghemat biaya investasi.
Tantangan Akustik dalam Bangunan Hiburan Executive Terpadu dengan berbagai aktivitas mulai dari Discotheque, Karaoke Executive, Fasilitas Spa seperti Sauna, Whirpool, dan lain-lain, menghasilkan tingkat kebisingan yang berbeda-beda. Rambatan suara melalui udara dan struktur dapat menggangu ketenangan Area Restoran dan Area Relaksasi dan Pijat.
Pada gambar di bawah menunjukkan bahwa Sound System pada Area Diskotek dapat menghasilkan tekanan suara hingga 100 dBA, sebaliknya fasilitas SPA pijat memerlukan lingkungan yang tenang. Dari analisa kami untuk meredam kebisingan dari fasilitas diskotek ke area SPA pijat, karena area Spa Pijat dan area Hiburan seperti Diskotek dan Ruang Private KTV menjadi satu masaa bangunan, untuk mengendalikan rambatan kebisingan akibat rambatan getaran pada struktur pemilik hiburan perlu menginvestasikan dana yang sangat besar.
Untuk menghemat biaya, ALTA Integra merekomendasikan pemisahan massa bangunan antara fasilitas Diskotek dan Spa menjadi dua massa bangunan yang berbeda, seperti ditunjukkan pada gambar berikut. Dengan pemisahan massa bangunan seperti di bawah pemilik dapat menghemat biaya struktur pra-tegang dan biaya insulasi suara sekaligus.
Proyek ini membuktikan bahwa Rekayasa dan Perencanaan Akustik yang didukung oleh disiplin Struktur dan Arsitek dapat memberikan nilai tambah bangunan seperti meningkatkan kenyamanan akustik sekaligus dapat menghemat biaya investasi.
Mendesain Lingkungan Akustik yang Bertanggung Jawab Pada Hiburan Malam
Bagaimana ALTA Integra merancang lingkungan akustik yang bertanggung jawab pada bangunan hiburan malam di perkotaan yang padat?
Membantu pemilik hiburan malam melakukan rekayasan dan perencanaan akustik yang cermat tidak hanya meningkatkan kenyamanan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang meningkatkan reputasi perusahaan.
Tanggung jawab pemilik bisnis hiburan malam dalam mengendalikan kebisingan agar tidak merusak telinga pelanggan, pekerjan hiburan malam dan lingkungan pemukiman, hotel dan rumah sakit dapat memberikan keuntungan finansial.
Pada tahap perencanaan ALTA Integra bekerja sama dengan Pengelola Hiburan untuk merumuskan desain akustik yang mendukung operasional dan bisnis hiburan malam mulai dari menghasilkan kualitas suara yang baik, menjaga kenyamanan suara di dalam ruangan serta agar kebocoran suara tidak menggangu lingkungan.
Dilanjutkan dengan melakukan studi desain dan material dari Arsitek, Interior Desain, Konsultan Audio dan MEP agar suara yang terdengar setelah terbangun sesuai dengan Konsep Bisnis dari Pemilik Hiburan Malam.
Beberapa gambar di atas adalah tampilan Permodelan Akustik menggunakan Piranti Lunak Akustik seperti CADNA-A, SON-Architect dan Insul untuk memprediksi tingkat kebocoran suara yang terdengar di lingkungan secara akurat.
Polusi Udara, Cahaya dan Suara Kota Jakarta Sudah Membahayakan Kesehatan
Jakarta, ibu kota Indonesia yang padat dan dinamis, menghadapi tantangan lingkungan yang semakin meningkat akibat urbanisasi cepat dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Tiga jenis polusi yang paling mendesak adalah polusi cahaya, polusi udara, dan polusi suara — yang semuanya berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Seberapa sehatkah kota Jakarta buat warganya?
Jakarta, ibu kota Indonesia yang padat dan dinamis, menghadapi tantangan lingkungan yang semakin meningkat akibat urbanisasi cepat dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Tiga jenis polusi yang paling mendesak adalah polusi cahaya, polusi udara, dan polusi suara — yang semuanya berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Polusi Udara
Polusi udara merupakan masalah besar di Jakarta, yang terutama disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan debu dari proyek konstruksi. Kota ini sering mencatat tingkat kualitas udara yang tidak sehat, dengan kadar partikel halus (PM2.5) dengan konsentrasi sekitar 36 µg/m³, atau sekitar 7 kali lipat dari ambang tahunan WHO. Hal ini memicu masalah pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia.
Polusi Cahaya
Langit Jakarta dipenuhi oleh papan reklame menyala, lampu jalan, dan lampu gedung yang tetap menyala sepanjang malam. Pencahayaan yang berlebihan dan tidak tertata dengan baik ini mengganggu siklus tidur alami, memengaruhi satwa liar, dan mengaburkan pandangan terhadap bintang. Kota ini masih kekurangan regulasi yang komprehensif dalam desain pencahayaan, sehingga menyebabkan pemborosan energi dan kekacauan visual.
Polusi Suara
Suara bising dari lalu lintas, konstruksi, dan kepadatan penduduk yang tinggi menjadikan Jakarta salah satu kota paling bising di Asia Tenggara. Paparan berkepanjangan terhadap tingkat kebisingan tinggi dapat menyebabkan stres, gangguan tidur, hingga masalah pendengaran. Sayangnya, penegakan aturan mengenai kebisingan masih terbatas.
Untuk memperbaiki lingkungan perkotaan Jakarta, dibutuhkan kesadaran dari pemerintah untuk mereview ulang regulasi yang ada, dan peningkatan kesadaran pelaku usaha untuk mengurangi dampak lingkungan. Mengatasi ketiga jenis polusi ini sangat penting untuk menciptakan kota yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Desain Cahaya Alami Gereja Arsitektur Modern
Pasca perang dunia ke dua, pandangan masyarakat akan arsitektur gereja bergeser yang semula arsitektur gereja dirancang untuk melambangkan Tuhan yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Tinggi, menjadi Tuhan yang Sederhana, Penuh Cinta dan dekat dengan umat. Dalam desain gereja, dapat kita lihat ada pergeseran yang ditandai denga pergeseran dari ciri Arsitektur yang simetri, megah dengan artwork yang realistik menjadi Arsitektur yang tidak simetris, sederhana, dan artwork sederhana dan abstrak.
Bagaimana arsitek mensiasati cahaya alami untuk menghadirkan suasana kebatinan sakral pada Arsitektur Gereja Modern.
Zaman modern membawa perubahan paradigma mendasar dalam cara pandang manusia memandang rumah ibadah. Pasca perang dunia ke dua, pandangan masyarakat akan arsitektur gereja bergeser yang semula dirancang untuk melambangkan Tuhan yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Tinggi, menjadi Tuhan yang Maha Cinta, Mengampuni dan Sederhana.
Dalam desain gereja, dapat kita lihat ada pergeseran yang ditandai dengan pergeseran dari ciri Arsitektur yang simetri, megah dengan artwork yang realistik menjadi Arsitektur yang tidak simetris, sederhana, dan artwork sederhana dan abstrak. Beberapa gaya arsitektur yang muncul di Era Modern adalah: Brutalisme, Neo-Gotik, dan Art Deco.
Brutalisme
Salah satu contoh penting adalah Notre-Dame du Haut karya Le Corbusier, atau Kapel Ronchamp, yang diselesaikan pada tahun 1955. Bangunan ini merangkul ketidakteraturan, emosi, serta pengalaman ruang, melalui penggunaan beton bertulang untuk menciptakan dinding-dinding tebal yang membuncah dan atap dramatis seolah melayang. Beton yang dibiarkan kasar dan bertekstur tidak dimaksudkan untuk mengagumkan, melainkan untuk sekadar hadir.
Berbeda dengan marmer Renaisans atau kaca patri Gotik, material Notre-Dame du Haut menyerap cahaya dan menampung bayangan. Di sini, cahaya siang tidak sekadar menerangi, melainkan mentransformasi. Bukaan-bukaan tak beraturan dipahat pada dinding, menciptakan sumur cahaya dalam yang memantulkan serta melembutkan sinar matahari sehingga tampak berpijar dari dalam.
Seiring pergerakan matahari, pancaran cahaya merembes dan menorehkan garis di interior, membentuk koreografi pewahyuan. Sinar jatuh secara tak terduga: menorehkan pola pada bangku, menelusuri altar, dan menciptakan lingkar cahaya hening yang menghidupkan ruang yang semula statis.Fenomena ini merefleksikan pergeseran teologis abad ke-20 menuju iman eksistensial, di mana yang ilahi ditemukan bukan dalam kemegahan, melainkan dalam pengharapan.
Baca artikel lengkap: Kapel Notre Dame Du Haut di desa Ronchamp
Contoh berikutnya adalah Église Saint-Pierre di Firminy, Prancis. Dimulai pada tahun 1965 dan baru selesai pada 2006, gereja ini merupakan karya terakhir Le Corbusier. Ia hadir sebagai semacam observatorium spiritual, bukan sebagai wadah penuh simbol, melainkan sebagai bejana yang disejajarkan dengan gerak matahari.
Orientasi bangunan ditata secara astronomis sehingga cahaya masuk melalui bukaan tertentu pada Jumat Agung dan Minggu Paskah, tepat jatuh di altar. Koreografi cahaya ini menjadikan gereja sebagai instrumen spiritual sekaligus mikrokosmos langit.
Di dalamnya, cahaya menyapu dan memotong permukaan, menjadikan beton berat sebagai kanvas yang senantiasa berubah oleh bayangan dan berkas cahaya. Keheningan ruang begitu mendalam—hanya geometri dan cahaya yang tersisa.
Baca artikel lengkap: Gereja Santo Pierre di Firminy
Jika Église Saint-Pierre menatap bintang, maka Church of the Light karya Tadao Ando justru menoleh ke dalam, menuju kesunyian, ketenangan, dan esensi spiritual. Diselesaikan pada tahun 1989 di Ibaraki, Jepang, kapel ini merupakan ekspresi paling murni dari arsitektur sakral modern. Church of the Light menegaskan dualitas sebagai hakikat iman: padat dan hampa, gelap dan terang, sunyi dan bergaung, tiada dan ada. Gereja ini sejatinya tidak selesai saat dibangun, melainkan hanya sempurna ketika cahaya memasukinya, ketika dunia bergerak.
Dinding timur gereja dibelah oleh satu bukaan berbentuk salib, membentang dari lantai hingga langit-langit. Saat fajar menyingsing, cahaya menembus celah salib itu, menembus kegelapan interior, dan menyapu dinding beton kasar. Apa yang awalnya sekadar seberkas cahaya tipis perlahan melebar, menghidupkan ruang, melenyapkan bobot material, serta mentransformasi interior sederhana menjadi bejana kebangkitan. Ketika cahaya menembus salib dan jatuh ke lantai maupun dinding, ia seolah menciptakan arsitektur itu sendiri. Tanpa cahaya, bangunan bisu. Dengan cahaya, ia berbicara dalam roh.
Tidak terdapat ikon, lukisan, kaca patri, atau ornamen apa pun. Pesan tidak diceritakan, melainkan dialami. Arsitektur Ando tidak menarasikan agama, melainkan mengundang perjumpaan. Kesunyian material, kesederhanaan bentuk, serta kesabaran yang dibutuhkan untuk mengalami cahaya—semuanya merupakan bagian dari teologi kerendahan hati dan perhatian. Sepanjang milenia, cahaya siang tidak sekadar mengungkap ruang, tetapi juga mengungkap makna. Dari oculus di Pantheon hingga celah berbentuk salib di dinding Ando, cahaya adalah satu-satunya konstanta sakral. Ia adalah simbol sekaligus substansi, struktur sekaligus jiwa.
Neo-Gotik
Art Deco
Pencahayaan Alami Gereja Arsitektur Renaisans
The Renaissance brought a deliberate shift back to classical principles like symmetry, proportion, geometry, and measurable beauty. These ideals were inherited from ancient Greek and Roman architecture, which saw order as a reflection of cosmic harmony and divine logic.
Saint Peter’s Basilica in Rome, begun in 1506 and completed over a century later, is the prime example of Renaissance architecture. In Saint Peter’s, light becomes part of this architectural order. The building is organized not to obscure light in mystery, to direct it with intent. Every element, from the geometry of the plan to the curvature of the dome, participates in a grand choreography of space and illumination. Daylight is no longer filtered through stained-glass narratives. It is white, direct, and clear, in pure form, illuminating structure and guiding the eye.
This is achieved through its massive central dome, designed by Michelangelo and inspired by the Pantheon. The oculus at the top allows daylight to pour down directly onto the crossing and altar below representing an axis mundi, a vertical link between heaven and earth, unfiltered and pure.
Pencahayaan Alami Gereja Arsitektur Gotik
Berbeda dengan Arsitektur Rumah Ibadah Romawi Awal, di mana cahaya siang hari hanya tampak sekilas, langka, dan penuh misteri, periode Gotik menghadirkan pergeseran paradigma yang mendalam. Cahaya tidak lagi menjadi sesuatu yang ditahan, melainkan sesuatu yang dirangkul, dirayakan, bahkan dikomposisikan.
Berbeda dengan arsitektur Romawi Awal, di mana cahaya siang hari hanya tampak sekilas, langka, dan penuh misteri, periode Gotik menghadirkan pergeseran paradigma yang mendalam. Cahaya tidak lagi menjadi sesuatu yang ditahan, melainkan sesuatu yang dirangkul, dirayakan, bahkan dikomposisikan. Transformasi ini dimulai di Prancis, dalam satu gereja: Basilika Saint-Denis, yang didesain ulang oleh Abbot Suger sekitar tahun 1144.
Abbot Suger, yang sangat dipengaruhi oleh tulisan mistis Pseudo-Dionysius the Areopagite The Celestial Hierarchy dan Ecclesiastical Hierarchy, meyakini bahwa alam semesta, yang lahir dari pancaran cahaya, adalah luapan terang yang mengalir ke bawah, dan cahaya yang terpancar dari Wujud Primordial menempatkan setiap ciptaan pada kedudukan tetapnya.
Namun cahaya itu juga menyatukan segala sesuatu, menghubungkannya dengan cinta, mengairi seluruh dunia, serta menciptakan keteraturan dan koherensi di dalamnya. Karena itu, ia berusaha menjadikan Saint-Denis sebagai wadah bagi aliran cahaya suci, bukan hanya secara estetis, melainkan juga secara teologis.
Revolusi Gotik bermula dari rekayasa struktural. Sistem-sistem baru — lengkung runcing, kubah bertulang rusuk, dan penopang terbang (flying buttress) — memungkinkan arsitek mengalihkan beban berat atap dan kubah dari dinding menuju penyangga luar. Bersamaan dengan kemajuan teknologi kaca patri, dinding gereja Gotik kini dapat menampung jendela besar yang memungkinkan cahaya siang membanjir masuk. Cahaya yang menembus kaca patri bukanlah putih atau netral; ia tersaring, berubah menjadi kisah dan simbol.
Permainan antara gelap dan terang bukan sekadar atmosfer. Katedral Gotik dirancang dengan orientasi timur-barat yang presisi, sehingga matahari terbit menembus ruang altar dengan cahaya pagi yang ilahi, melambangkan kebangkitan Kristus. Jendela mawar raksasa, khususnya di fasad barat, menangkap matahari sore yang menurun, memantulkan mozaik cahaya yang rumit ke seluruh nave.
Tidak ada tempat di mana teologi cahaya surgawi ini terwujud lebih dramatis dalam batu dan kaca selain di Notre-Dame de Paris, yang dibangun mulai tahun 1163, hanya satu generasi setelah Saint-Denis. Di sini, visi Gotik mencapai puncaknya. Sejak saat seseorang melangkah masuk, ia akan tertarik bukan hanya oleh ketinggian ruang, melainkan juga oleh cahaya. Notre-Dame adalah sebuah orkestra cahaya. Namun, meskipun megah, cahaya di Notre-Dame tidak pernah berlebihan. Ia diatur, disebarkan, dan dirancang untuk membangkitkan rasa kagum, bukan tontonan.
Jika Saint-Denis memperkenalkan gagasan bahwa cahaya dapat menjadi medium spiritual, maka Notre-Dame menyempurnakan ekspresinya. Sebuah gereja yang dirancang bukan hanya untuk ritual, tetapi juga untuk pewahyuan.
Pencahayaan Alami Gereja Arsitektur Romaneski
Between 800 and 1100 AD, the Romanesque style introduced heavy, fortress-like churches with small, deeply set windows. The thick stone walls admitted only narrow shafts of light, creating pockets of illumination that emphasized altars and relics.
One of the most exceptional Romanesque churches, and one often overlooked for its nuanced lighting strategy, is the Cathedral of Pisa or Duomo di Pisa, begun construction in 1064. In Pisa Cathedral, designed by architec Buscheto and later Rainaldo crafted an interior where daylight is subdued yet directional, designed not to flood but to highlight, where light reveals itself slowly, deliberately, almost cautiously. Here, light is not abundant but profound
\
Pencahayaan Alami Gereja Arsitektur Byzantine
With the legalization of Christianity in 313 AD, early Christian architecture emerged from the clandestine into the monumental, as seen in churches like Santa Sabina and Old St. Peter’s Basilica. These basilicas reinterpreted Roman civic architecture for liturgical use, and their approach to daylighting was modest yet intentional. Clerestory windows placed high above the nave filtered soft, ambient light down into the central gathering space, producing a sacred atmosphere. Light served a dual function, it illuminated the space for reading and sacrament, but more profoundly, it symbolized divine presence entering the earthly realm. The transition from dark to light was not just spatial but theological, reflecting Christian beliefs in salvation and divine revelation.
\
Pencahayaan Alam Arsitektur Pantheon Menginspirasi Arsitektur Gereja
Pantheon, sebuah kuil yang dipersembahkan bagi seluruh dewa merupakan arsitektur rumah ibadah yang dirancang dengan memperhitungkan hubungan alam semesta dalam hal ini cahaya matahari dengan bentuk dan geometri bangunan. Diselesaikan pada tahun 39 SM, bangunan ini menampilkan kubah raksasa yang dilubangi oleh sebuah oculus di bagian pusat, memungkinkan cahaya matahari masuk secara langsung ke dalam interior layaknya sorotan cahaya surgawi.
Pantheon, sebuah kuil yang dipersembahkan bagi seluruh dewa merupakan arsitektur rumah ibadah yang dirancang dengan memperhitungkan hubungan alam semesta dalam hal ini cahaya matahari dengan bentuk dan geometri bangunan. Diselesaikan pada tahun 39 SM, bangunan ini menampilkan kubah raksasa yang dilubangi oleh sebuah oculus di bagian pusat, memungkinkan cahaya matahari masuk secara langsung ke dalam interior layaknya sorotan cahaya surgawi.
Pantheon di Roma yang kita lihat saat ini dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Hadrian, sekitar tahun 118–125 M. Pantheon yang asli didirikan atas perintah Marcus Agrippa pada 27–25 SM, tetapi kemudian hancur akibat kebakaran. Hadrian membangunnya kembali secara menyeluruh, sambil mempertahankan inskripsi pada bagian depan bangunan: M·AGRIPPA·L·F·COS·TERTIVM·FECIT, yang berarti “Marcus Agrippa, putra Lucius, membangun ini pada masa konsulnya yang ketiga.”
Kubah Pantheon dianggap sebagai salah satu pencapaian paling revolusioner dalam arsitektur kuno karena skala, rekayasa teknik, dan makna simboliknya. Penjelasannya sebagai berikut:
Skala yang Belum Pernah Ada Sebelumnya
Kubah tersebut memiliki diameter sekitar 43,3 meter, sama persis dengan tingginya dari lantai hingga ke oculus.
Proporsi ini menghasilkan bentuk bola sempurna yang seakan dapat dimuat di dalam ruang interior, sebuah representasi simbolis mengenai harmoni alam semesta.
Selama lebih dari 1.300 tahun, kubah ini merupakan yang terbesar di dunia, dan hingga kini tetap menjadi kubah beton tak bertulang terbesar yang pernah ada.
Inovasi Teknik Arsitektur
Keunggulan beton: Para pembangun Romawi menggunakan beton dengan agregat berbeda—batu basalt yang berat di bagian dasar, serta batu apung yang lebih ringan di bagian atas—guna mengurangi beban struktur.
Plafon berpetak (coffered ceiling): Bagian dalam kubah dibagi ke dalam panel-panel cekung (coffer) yang berfungsi meringankan bobot tanpa mengurangi kekuatan.
Oculus: Bukaan melingkar di pusat kubah (berdiameter 8,2 meter) sekaligus mengurangi massa dan menjadi satu-satunya sumber cahaya alami di interior.
Makna Simbolis
Kubah Pantheon merepresentasikan langit atau alam semesta, dengan oculus sebagai “mata langit.”
Pergerakan cahaya matahari yang masuk melalui oculus menciptakan hubungan dinamis antara kosmos ilahi dan ruang duniawi di bawahnya.
Geometri bangunan (bentuk bola sempurna yang tertanam dalam silinder) mengartikulasikan gagasan Romawi tentang keteraturan alam semesta serta kehadiran ilahi dalam kehidupan sipil.
Seiring pergerakan matahari di langit, berkas cahaya tersebut menelusuri jalur pada plafon berpetak (coffered ceiling) dan lantai marmer yang dipoles, menciptakan seolah-olah sebuah jam matahari hidup yang menandai waktu serta pergantian musim. Fenomena ini memperkuat keyakinan bahwa langit senantiasa terjalin erat dengan praktik pemujaan terhadap yang ilahi. Dengan demikian, cahaya tidak hanya dipahami sebagai fenomena estetis, melainkan juga sebagai entitas metafisis yang menjembatani dimensi duniawi dengan dimensi surgawi melalui strategi desain pencahayaan alami yang terencana dengan baik.
Catatan kaki:
Opus caementicium adalah istilah Latin untuk beton Romawi kuno, terdiri atas campuran kapur, air, dan agregat batuan, yang memungkinkan penciptaan struktur monumental dengan fleksibilitas tinggi.
Coffer adalah elemen arsitektural berupa panel cekung geometris pada permukaan kubah atau plafon, berfungsi mengurangi beban material sekaligus menambah nilai estetis
Oculus adalah istilah Latin untuk bukaan pada puncak kubah Panteon yang berfungi memasukan cahaya matahari ke dalam bangunan.
Sejarah Desain Pencahayaan Alam pada Arsitektur Gereja
Sebelum rumah kuil memiliki tiang, sebelum gereja menjulang dengan menara, umat manusia menyembah dewa yang biasanya dilambangkan sebagai matahari, yang memberikan cahaya dan kehangatan sebagai sumber kehidupan. Dalam hampir setiap tradisi spiritual cahaya mata dan terutama dalam narasi Yudeo-Kristen, cahaya bukan hanya simbol Tuhan — cahaya adalah esensi-Nya sendiri.
Konsep Injil bahwa “Tuhan adalah terang” memberikan pengaruh yang mendalam terhadap perkembangan arsitektur Kristen. Dalam Kitab Kejadian, ciptaan pertama yang dihadirkan oleh Tuhan adalah terang, suatu entitas yang diciptakan sebelum keberadaan matahari maupun bintang-bintang. Dalam konteks ini, terang dipahami bukan sekadar sebagai fenomena pencahayaan alami, melainkan sebagai realitas metafisik, intelektual, dan spiritual. Asal-usul Ilahi tersebut menempatkan terang sebagai manifestasi paling murni dari kehadiran Tuhan.
Sebagai konsultan pencahayaan dan tergelitik dengan rasa ingin tahu, kami melakukan studi lebih mendalam terhadap desain pencahayaan alami pada arsitektur gereja mulai dari Abad Pertama sampai dengan Abad 20, bagaimana Arsitek setiap era menghadirkan cahaya yang memberikan perasaan akan kehadiran Tuhan di tengah umatNya.
Ilustrasi di awal memperlihatkan garis waktu Sejarah Arsitektur Gereja yang awalnya dipengaruhi oleh Arsitektur Roma Kuno, mulai dari Arsitektur Gereja Permulaan (300-800), dilanjutkan ke Arsitektur Romansque (800-1100), Arsitektur Gotik (1100-1600), Renaisans (1400-1830), Barok (1580-1750), Modern (1830 - sekarang).
Mari kita baca artikel selanjutnya yaitu Bagaimana Desain Pencahayaan Alami Arsitektur Romawi Kuno menginspirasi Arsitektur Gereja dari masa ke masa?
Studi Arsip Foto Sejarah Kolese Kanisius 1930-1940
Dokumentasi Arsip Foto Sejarah Kolese Kanisius oleh Sarekat Jesuit Nederland sekitar tahun 1930 - 1940
*) Semua gambar dan surat telah direstorasi dari arsip asli milik KADOC KU Leuven. Tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil.
Rangkaian Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia
Mencari Arsip Bangunan Jaman Belanda di Perpustakaan KADOC di KU Leuven Belgia
KADOC is the Interfaculty Documentation and Research Centre on Religion, Culture and Society at KU Leuven. Established in 1976, KADOC is not only one of the leading cultural heritage institutions in Belgium, but also an international centre for the study of the interaction between religion, culture and society in the 19th and 20th centuries.
Indonesia Heritage Building Document Research at KADOC Leuven Belgium
KADOC is the Interfaculty Documentation and Research Centre on Religion, Culture and Society at KU Leuven.
Established in 1976, KADOC is not only one of the leading cultural heritage institutions in Belgium, but also an international centre for the study of the interaction between religion, culture and society in the 19th and 20th centuries. It preserves and discloses an impressive collection of archives, data, and heritage that has emerged from the interplay between religion, culture and society in a Belgian, European and global context.
In 2019 KADOC heritage collections contained 34,5 current kilometers of archival units, 300.000 books, and 16.500 periodicals. These KADOC collections have an important European and even global dimension: they document interactions between Europe and the Americas, Asia and Africa that were intermediated by missionaries, political movements, churches, NGOs and migrants, and have shaped the world we live in.
KU Leuven will celebrate its 600th anniversary in 2025, making it one of Europe’s oldest universities. Our institution has the double honour of being the oldest university in the Low Countries and the oldest extant Catholic university in the world. The University that is now known as KU Leuven was founded with the papal bull Sapientie immarcessibilis. This was issued by Pope Martin V on 9 December 1425 after the city of Leuven had requested permission for the foundation of the University with the support of John IV, Duke of Brabant, and the city’s clergy.
Related Article
Interior dan Dekorasi Gereja Katedral Jakarta
Theodorus Henricus Antonius Adolph Molkenboer, lahir 23 February 1871 di Leeuwarden, meninggal 1 December 1920 di Lugano. Molkenboer adalah seniman Belanda serba bisa yang kontroversial.
Altar utama gereja katedral jakarta sekitar tahun 1901
Interior Gereja Katedral Jakarta sekitar tahun 1901
Interior Gereja Katedral Jakarta sekitar tahun 1901
Mimbar Keong Hadiah Ulang Tahun Imamat Uskup Luypen tahun 1905 - dibuat oleh Poole & Theeuwes
Jalan Salib Gereja Katedral Jakarta oleh Theo Molkenboer
Theodorus Henricus Antonius Adolph Molkenboer, lahir 23 February 1871 di Leeuwarden, meninggal 1 December 1920 di Lugano. Molkenboer adalah seniman Belanda yang kontroversial dan serba bisa.
Foto Theo Molkenboer
Kontroversial karena karena sering membuat tulisan pemahaman dan kritik seni yang kontroversial dan sibuk merespon orang yang tidak sependapat dengan tulisan tersebut.
Serba bisa karena ia mendalami berbagai bidang seni seperti etsa, litografi, pahat, lukisan kaca, keramik, dan desain furnitur. Dia melakukan hal ini mungkin karena menurut arsip surat menyurat pembangunan gereja katedral Jakarta dia terlibat aktif dalam merancang interior, dekoratif dan desain furniture.
Desain Mural Jalan Salib oleh Theo Molkenboer
Arsip milik Provinsial Sarekat Jesuit “DE KRUISWEG VOOR DE KATHEDRAAL VAN BATAVIA DOOR TH MOLKENBOER” yang artinya “Jalan Salib untuk Katedral Batavia oleh Th. Molkenboer.”
Gambar Mural Jalan Salib Theo Molkenboer, Pemberhentian Pertama dan Pemberhentian ke empat belas.
Foto di depan sketsa satu banding satu Jalan Salib Gereja Katedral Theo Molkenboer
Gambar sketsa Jalan Salib Gereja Katedral Jakarta skala satu banding satu oleh Molkenboer
Dokumentasi Altar Yosef buatan Ramakers & Zonen Hertogenbosch Belanda tahun 1922
*) Semua gambar dan surat telah direstorasi dari arsip asli milik KADOC KU Leuven. Tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil.
Rangkaian Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia
Arsip Gambar Arsitektur Gereja Katedral Jakarta Tahun 1890
Arsip gambar arsitektur Gereja Katedral Jakarta yang bergaya Neo Gotik oleh Antonius Dijkman SJ dan Marius J Hulswit pada masa pembangunan Gereja Katedraal Batavia sekitar tahun 1891-1901.
Gambar Arsitek Oleh Dijkmans, SJ
Antonius Dijkmans, SJ (Sarekat Jesuit) ditunjuk sebagai arsitek awal untuk pembangunan katedral baru di Jakarta (saat itu bernama kota Batavia) untuk menggantikan bangunan lama yang runtuh pada tahun 1890. Dijkmans disebut pernah mengikuti kursus arsitektur gereja di bawah bimbingan Eugène Viollet-le-Duc di Paris dan Eduard Cuypers di Belanda.
Cuypers adalah firma arsitek Belanda yang yang sebelumnya telah merancang dua gereja di Eropa. Pengaruh dari kedua tokoh ini menjelaskan mengapa Gereja Katedral Jakarta memiliki gaya Neo-Gotik yang kesan vertikal yang dominan dengan ciri khasnya adalah menara runcing yang tinggi, lengkungan runcing, dan warna gelap.
Gambar Tampak Arsitektur Katedral Jakarta menghadap Barat - ditanda tangani oleh Dijkmans SJ Arch.
Arsitektur Neo-Gotik merupakan adalah pembaruan arsitektur Gotik yang populer pada abad 12 sampai dengan 14. Gereja dengan arsitektur Neo-Gotik selain memberikan kesan Tuhan maha tinggi dari verticalism, interior gereja ini bermandikan cahaya yang masuk ke dalam gereja melalui jendela kaca patri yang tinggi. Suasana yang kehadiran Tuhan yang maha tinggi dan pertobatan manusia melalui persembahan, puisi yang tergambar dari arsitektur gereja yang penuh dengan cerita.
Gambar Tampak Arsitektur Katedral Jakarta 1890 menghadap selatan - ditanda tangani oleh Dijkmans, SJ
Gereja ini memiliki Tiga Menara yaitu dua menara di depan dengan tinggi ±60 m dan satu menara di belakang setinggi ±45 m terletak di atas altar utama. Ketiga menara tersebut memiliki nama dan makna simbolik tersendiri.
Ontwerp eener R.K. Kerk te Batavia — Plaat VIII. Doorsnede over B.G. 1:100” atau “Desain Gereja Roma Katolik Batavia — Plate VIII. Section B–G, skala 1:100.”
Rancangan Dijkmans dianggap ambisius dan kuat secara teknis; bahkan insinyur kolonial (genie, insinyur teknik/militer) menilai bangunan ini “terlalu kuat” bila dibandingkan dengan material dan sistem strukturnya.
Dalam gambar potongan arsitektur dan struktur diperlihatkan bagaimana beban atap dan dinding bagian atas disalurkan melalui lengkungan, kolom, dan penopang hingga ke pondasi. Elemen-elemen struktur bangunan ditampilkan dengan jelas. Dinding penahan beban digambarkan dengan arsiran hitam, menunjukkan bagian utama yang menopang keseluruhan bangunan.
Gambar arsitektur pilar interior
Lengkungan dan kubah berfungsi menyalurkan beban atap ke kolom dan dinding, sedangkan penopang luar (buttress) serta lengkung runcing mencerminkan gaya khas Neo-Gotik. Rangka dan kuda-kuda atap memperlihatkan struktur kayu yang menutup ruang utama (nave), sementara tangga dan perbedaan lantai menunjukkan hubungan antara fungsi dan tata ruang.
Gambar Arsitek oleh Hulswit
Setelah proyek pembangunan yang terhenti akibat kekurangan dana dan kepergian Dijkmans, Marius Jan Hulswit melanjutkan pembangunan sekitar tahun 1899 dengan melakukan beberapa penyederhaan desain agar lebih mudah di bangun.
Marius J. Hulswit (1862–1921) dikenal sebagai arsitek yang banyak menghasilkan karya monumental kolonial di Batavia, seperti Gedung De Javasche Bank (sekarang Museum Bank Indonesia), Hotel des Indes, Tjipta Niaga, BAT dan Kantor Pos Besar di Batavia.
Setelah mengambil alih proyek dari Dijkmans, Hulswit berfokus untuk menyelesaikan struktur utama dan detail arsitektural gereja, dengan tetap mempertahankan rancangan bergaya Neo-Gotik yang sudah ditetapkan oleh Pastor Dijkmans, SJ.
Ia memperkuat desain dengan memperhatikan kondisi tropis, seperti: penggunaan dinding bata tebal untuk menjaga suhu interior tetap sejuk, ventilasi silang dari jendela lancet tinggi, serta penggunaan bahan bangunan lokal yang disesuaikan dengan ketersediaan di Batavia.
Di bawah arahan Hulswit, pembangunan gereja ini selesai pada 21 April 1901, dan diberkati oleh Uskup Mgr. Edmundus Luypen, S.J. Karya ini kemudian menjadi salah satu pencapaian penting dalam sejarah arsitektur kolonial religius di Hindia Belanda.
Hingga kini, katedral ini berdiri sebagai bangunan warisan bersejarah dan tetap menjadi simbol penting sejarah religius serta arsitektural di Jakarta.
*) Semua gambar telah direstorasi dari arsip asli milik KADOC KU Leuven. Tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil.
Rangkaian Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia
Cikal Bakal dan Sejarah Gereja Katedral Jakarta
Sejarah berdirinya Gereja Katolik Pertama yang merupakan cikal bakal Gereja Katedral Maria diangkat ke Surga di Lapangan Banteng Jakarta
GEREJA LUDOVIKUS
GEREJA KATOLIK PERTAMA DI INDONESIA
Gereja Katolik Pertama di Batavia bermula secara tak terduga di Eropa setelah Napoleon mengangkat saudaranya Louis Bonaparte, sebagai Raja Belanda pada tahun 1806. Belanda, yang saat itu merupakan kerajaan Protestan tiba-tiba memiliki seorang penguasa Katolik Roma. Raja Louis berhasil meyakinkan Vatikan sehingga tanggal 8 Mei 1807 Paus Pius VII mengangkat Pastor Nelissen sebagai prefek apostolik Hindia Belanda.
Ilustrasi Sketsa Louis Bonaparte (bukan gambar arsip)
Pada tahun 4 April 1808 Pastor Yacobus Nelissen dan Lambertus Prinsen, tiba di Batavia. Pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa secara terbuka di rumah Dokter F.C.H. Assmuss kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Seteleh misa pertama diadakan selang beberapa bulan Pastor Nelissen mendapatkan pinjaman rumah bambu terletak di sudut barat daya Buffelsvald atau Lapangan Banteng (sekarang kementrian agama) sebagai rumah ibadah bagi umat katolik.
Ilustrasi Sketsa Rumah Bambu Tahun 1808 (bukan gambar arsip)
Pada 2 Februari 1810, Pastor J. Nelissen, Pr mendapatkan sumbangan sebuah kapel dari Gubernur-Jenderal Meester Herman Daendels yang terletak di pinggir jalan Kenanga, di daerah Senen. Kapel tersebut merupakan bangunan milik Gubernemen yang sudah dibangun sejak 1770 oleh Cornelis Casteleijn di bawah pengawasan Gurbernur Van Der Parra. Bangunan Gubernemen yang mempunyai luas sekitar 8×23 meter persegi ini juga sempat menjadi gereja bagi umat Protestan berbahasa Melayu dan Belanda di Batavia.
Setelah dilakukan renovasi di berbagai bagiannya, bangunan ini kemudian dijadikan gereja Katolik dan mampu menampung hingga 200 jemaat. Pastor Nelissen sendiri yang kemudian memberkati bangunan gereja yang diberi nama Gereja Santo Ludovikus. Nama tersebut mungkin merupakan penghormatan kepada sang raja di Belanda Louis sebagai orang yang berjasa membangun gereja katolik di Hindia Belanda, karena “Ludovikus” adalah bentuk Latin dari nama “Louis. Gereja Ludovikus secara efektif menjadi gereja Katolik pertama di Hindia Belanda.”
Pada tanggal 10 Mei 1812, Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur Pulau Jawa, beserta istrinya menjadi ibu/bapak permandian dari Olivia Marianne Stamford Raffles Villeneuve, putri dari Ludorici Francisci Josephi Villeneuve dan Jeanna Emilie Gerische Conjugum.
Berselang 16 tahun pada tanggal 27 Juli 1826 terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan banyak bangunan di kawasan Senen. Bangunan pastoral ikut menjadi korban, namun bangunan gereja tidak ikut terbakar meski mengalami kerusakan di beberapa bagiannya. Pasca kebakaran, bangunan gereja yang rusak tidak direnovasi, mengingat tanah tersebut bukanlah tanah milik gereja.
GEREJA KATEDRAL PERTAMA DI BATAVIA
Untuk menggantikan gereja Ludovikus yang sudah tidak layak, dibuatlah Gereja Katedral Keuskupan yang diberi nama Onze Lieve Vrouw ten Hemelopneming atau Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Gereja ini dibangun di atas sebidang tanah milik bangsawan Belanda bernama Baron de Kock di daerah Weltevredeen, yang dibeli dengan bantuan komisaris jenderal katolik kolonial keturunan Belgia bernama Leonardus du Bus de Gisignies.
Gereja Katedral dibangun menggantikan gedung putih di tanah milik bangsawan Belanda bernama Baron de Kock di daerah Weltevredeen.
Pada foto di atas terlihat monumen Waterlooplein yang dibangun pada tahun 1828 untuk memperingati kemenangan Duke Wellington melawan Napoleon pada pertempuran di Waterloo tahun 1815. Gereja Katedral dibangun menggantikan gedung putih di tanah milik bangsawan Belanda bernama Baron de Kock di daerah Weltevredeen. Gereja Katedral Keuskupan Batavia Pertama di Batavia ini dirancang oleh Arsitek Tromp memiliki ciri arsitektur Neo-Klasik yang khas dari bangunan pada masa itu. Gereja ini diresmikan pada tahun 1829 oleh Prefek Prinsen.
Foto tampak muka Gereja Katedral Batavia Bangunan Lama sebelum runtuh tahun 1890
Seiring dengan berjalannya waktu, gereja tersebut mengalami banyak kerusakan. Perbaikan yang dilakukan hanya bersifat tambal sulam saja. Kemudian pada tahun 1859, diadakan renovasi yang cukup besar. Menurut pengamatan seorang ahli bangunan, menara yang ada di tengah atap merupakan penyebab terjadinya kerusakan dan kebocoran. Menara tersebut terlalu berat bagi struktur atap gereja, sehingga menekan tembok dan menimbulkan kebocoran pada berbagai titik. Oleh karena itu diusulkan untuk membongkar menara kecil tersebut dan menggantinya dengan sebuah menara baru yang terletak di atas pintu masuk, di sebelah barat. Gereja mulai difungsikan kembali setelah renovasi pada tanggal 31 Mei 1880.
Gereja Katedral Batavia ini dulu dinamakan De Kathedrale Kerk van Onze Lieve Vrouw ten Hemelopneming dalam bahasa Indonesia Gereja Katedral Maria Diangkat ke Surga berlokasi di jalan Kazernestraat.
Arsip foto Interior Gereja Katedral Batavia yang bergaya Neo-Klasik sebelum runtuh pada tahun 1890
Setelah hampir sepuluh tahun penggunaan, pada 9 April 1890, ditemukan bagian-bagian gereja yang mulai rusak, setumpuk kapur dan pasir berserakan dekat sebuah pilar. Keadaan ini cukup mencemaskan para imam, terutama Pastor A. Kortenhorst, S.J. yang pagi itu sempat menginjak setumpuk kapur dan pasir tersebut. Pada hari yang sama sekitar pukul 09.00, Pastor Kortenhorst dan Pastor Edmundus Luypen, S.J. memeriksa situasi gereja. Salah satu pilar tampak mengkhawatirkan. Pada pukul 10.30, keadaan pilar tampak lebih buruk dan semakin memprihatinkan. Banyak kapur mulai terlepas lagi. Tidak lama kemudian, ketika para pastor memasuki sakristi pada pukul 10.45, bangunan gereja ambruk disertai suara gemuruh yang mengerikan.
Arsip Foto Bangunan Gereja Katedral Jakarta yang runtuh bergaya Neo-Klasik rancangan Tromp Tanggal 9 April 1890
Seluruh pekarangan ditutupi debu sehingga orang tidak dapat melihat lebih dari lima langkah. Hari itu merupakan tiga hari sesudah perayaan Paskah. Ketika debu sudah mulai turun, kehancuran gereja mulai tampak jelas dengan atap gereja yang menganga. Sebelum peristiwa ini, terdapat 68 bangku terbuat dari kayu jati dan hanya tersisa 10 buah, sisanya rusak berat. Selain itu, yang masih berdiri utuh adalah altar, panti imam, ruang sakristi, dan menara. Kondisi gereja saat itu sangat parah dan tidak memungkinkan untuk penyelenggaraan misa. Untuk sementara waktu misa diselenggarakan di dalam garasi kereta kuda yang disesuaikan fungsinya untuk gereja darurat.
PEMBANGUNAN GEREJA KATEDRAL PASKA KERUNTUHAN
Prefektur Apostolik kemudian memutuskan untuk membangun kembali di lokasi yang sama, dan menunjuk seorang imam arsitek Sarekat Jesuit bernama Antonius Dijkmans untuk merancang gereja baru. Dijkmans, pernah belajar kursus arsitektur gerejani bersama Eugène Viollet-le-Duc di Paris, Prancis serta Eduard Cuypers di Belanda. Pastor Dijksman sebelumnya telah merancang dua gereja di Eropa, dan membangun kapel Susteran yang terletak Jalan Pos 2, pada tahun 1891.
Gereja Katedral di rancang oleh Pastor Dijkmans dengan gaya Neo-Gotik, yang bertolak belakang dengan arsitektur Neo-Klasik yang digemari oleh bangsa Belanda dalam pembangunan gedung-gedung monumental kolonial saat itu. Sementara itu, gaya Neo-Gotik sangat populer untuk bangunan gereja katolik.
Pada pertengahan tahun 1891 mulai dilakukan peletakan batu pertama untuk memulai pembangunan gereja tersebut. Setelah sekitar setahun berjalan, pembangunan terpaksa dihentikan karena kurangnya biaya. Selain itu, pada tahun 1894, Pastor Dijkmans harus pulang ke Belanda karena sakit dan akhirnya meninggal dunia pada tahun 1922. Pekerjaan pembangunan macet dan misa tetap dilaksanakan di garasi pastoran.
Foto langka ini memperlihatkan upacara peletakan batu pertama Gereja Katedral Batavia oleh Carolus Wenneker, Provikaris 16 Januari 1899. Upacara ini menandai dimulainya pembangunan kembali gereja Katolik di Batavia setelah tertunda cukup lama.
Baca Artikel tentang Desain Arsitektur Gereja Katedral Jakarta Tahun 1890
Batu pertama diletakkan oleh Carolus Wenneker, Provikaris tanggal 16 Januari 1899
Di tengah foto tampak struktur kayu yang digunakan untuk menurunkan batu fondasi pertama. Sejumlah imam Katolik dan misdinar mengenakan jubah putih memimpin upacara pemberkatan, disaksikan oleh para pejabat Hindia Belanda dan umat Katolik setempat. Bangunan beratap rumbia di latar belakang kemungkinan berfungsi sebagai kapel sementara selama proses pembangunan.
Foto Pembangunan Gereja Katedral Jakarta Pada Sekitar Tahun 1895-1898
Marius Jan Hulswit melanjutkan pembangunan sekitar dengan melakukan beberapa penyederhaan desain agar lebih mudah di bangun.
Foto Pembangunan Gereja Katedral Jakarta Pada Sekitar Tahun 1895-1898
GEREJA KATEDRAL JAKARTA SETELAH TAHUN 1901
Gereja Katedral Batavia ini akhirnya diselesaikan dan diberkati secara resmi pada 21 April 1901.
Foto udara Gereja Katedral Jakarta Setelah Terbangun Tahun 1901
Gereja Katedral Jakarta yang kita lihat sekarang selesai dibangun pada tahun 1901 dengan desain Neo-Gotik yang megah.
*) Semua gambar telah direstorasi dari arsip asli milik KADOC KU Leuven. Tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil.
Rangkaian Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia
Arsip Surat Pembangunan Gereja Katedral Jakarta
Artikel ini berisikan kumpulan arsip surat menyurat sehubungan dengan Pembangunan Gereja Katedral Jakarta mulai dari tahun 1895 sampai dengan tahun 1915
Artikel ini berisikan kumpulan arsip surat menyurat sehubungan dengan Pembangunan Gereja Katedral Jakarta mulai dari tahun 1895 sampai dengan tahun 1915
Kronologi Utama
Circa 1895
Pada 25 Mei 1895 terdapat surat yang memberi “toelichtingen” (penjelasan) tentang rencana pembangunan gereja/katedral di Batavia.
Dalam surat disebutkan bahwa gereja lama kecil dan berkeinginan untuk membangun yang lebih besar dengan “het oog op het steeds toenemende getal kerkbezoekers” (“melihat jumlah pengunjung gereja yang makin meningkat”).
Rencana tersebut mencakup rancangan oleh A. Dijkmans (hendak dibangun di Batavia) dan penghematan dana, serta keterbatasan keuangan.
Surat menyebut bahwa jika pemerintah Hindia Belanda sudi memberikan bantuan, maka proyek bisa dilaksanakan.
Awal 1900-an (1901) – Pembangunan Gereja Baru
Bangunan baru katedral (neo-gothic) dirancang/ditandatangani dan diresmikan pada 21 April 1901. Wikipedia+2pdfcoffee.com+2
Beberapa surat proyek menunjukkan desain, pengiriman sketsa, kontrak, dan bahan pelaksanaan yang dikirim ke Batavia dari Belanda. Misalnya surat dari Den Haag tanggal 17 Sept 1904, 1 Juni 1904 yang membahas pengiriman desain dan bahan.
Surat lain pada 8 Juli 1904 berisi pujian terhadap desain yang dikirim dan pembicaraan mengenai konferensi besar (“groote conferentie”) dan aspek keuangan.
Saat Pengerjaan dan Finanisasi (~1905-1912)
Surat‐surat berikut membahas pengerjaan lanjutan: pelaksanaan lukisan dinding, dekorasi interior, kapel samping, pengiriman bahan, pengendalian biaya.
Misalnya surat tanggal 9 Mei 1912 — membahas progress “de eerste versiering” (“dekorasi pertama”) dan kondisi pekerjaan yang berlangsung di Batavia.
Surat tanggal 7 Des 1911 menunjukkan bagaimana pekerja lukis (“schilderij”) cukup sibuk dan proses dekorasi sudah hampir selesai.
Penutup/Pasca‐Pembangunan (~1912-1915)
Setelah konstruksi utama selesai, surat‐surat berikutnya mencatat penyelesaian detail, dekorasi kapel, pemasangan interior, dan perayaan yang direncanakan.
Pada periode ini juga muncul diskusi pengeluaran, kontrol kualitas, dan evaluasi hasil.
Memasuki sekitar 1915, aktivitas surat tampak lebih bersifat “pemeliharaan” dan pelengkap dibandingkan konstruksi besar.
Uskup Tituler Mauritius 15 Mei 1895
Penjelasan atas Permohonan kepada Dewan Gereja dan Amal Katolik Batavia
Berikut kami sampaikan penjelasan mengenai permohonan pembangunan gereja baru beserta anggarannya.
Kebutuhan untuk membangun gereja baru sangat mendesak, sebab bukan hanya gereja lama sudah rapuh dan terlalu kecil, tetapi juga karena kota Batavia terus berkembang, terutama di bagian timur kota, tempat gereja itu berdiri.
Rencana gereja ini dibuat oleh Romo Pater A. Dykmans, imam pembantu di Batavia, seorang yang telah banyak berjasa dalam bidang arsitektur gereja, bukan hanya di Eropa, tetapi juga di Hindia Belanda, dengan berbagai rancangan gereja yang mengagumkan karena kesederhanaannya, kebesaran gayanya, dan kesesuaiannya dengan iklim tropis kita.
Rencana gereja ini juga telah disetujui oleh beberapa ahli, antara lain oleh Romo Dr. Van Schaik, Kepala Insinyur Dinas Pekerjaan Umum, dan Arsitek Pemerintah. Dinding gereja akan dibuat dari batu bata bakar khusus, yang menjamin kekuatan dan ketahanannya.
Kedua orang ini, dengan keyakinan penuh dan tanpa ragu, telah menyetujui rencana tersebut, sambil menambahkan bahwa bangunan ini akan menjadi perhiasan bagi Gereja Katolik Roma di Batavia. Memang, keadaan gereja lama yang sudah hampir roboh dan pertumbuhan jumlah umat yang terus meningkat menuntut agar pembangunan gereja baru segera dilaksanakan.
Mengenai pembangunan, pekerjaan akan segera dimulai begitu dana yang diperlukan tersedia. Menurut perhitungan yang teliti, disusun oleh Romo Dykmans dan insinyur J. Scholte di Batavia, kami memerlukan jumlah sekitar ƒ125.000. Pemerintah telah berjanji memberikan sumbangan sebesar ƒ20.000 kepada jemaat Katolik Roma di Batavia, sedangkan jemaat sendiri telah mengumpulkan lebih dari ƒ10.000 melalui sumbangan para anggotanya.
Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sekitar ƒ95.000, untuk mana kami dengan sungguh-sungguh memohon bantuan dari saudara-saudara seiman di Negeri Belanda, dengan keyakinan bahwa mereka, yang di Eropa dengan rasa syukur mendukung gereja dan lembaga Katolik mereka dengan kemurahan hati, juga akan teringat akan saudara-saudara seiman mereka di Hindia yang hidup dalam keadaan jauh lebih berat.
Atas nama Dewan Gereja dan Amal Katolik Roma di Batavia,
† J. Staal
Uskup Tituler Mauritius
Vikaris Apostolik untuk Timur dan Batavia
Batavia, 25 Mei 1895
J. Vrancken 25 Mei 1895
Penjelasan atas permohonan kepada Dewan Gereja dan Amal Katolik di Batavia
Dengan ini diperkenankan untuk memberikan beberapa penjelasan mengenai permohonan yang diajukan dalam penganggaran mereka. Bahwa gereja yang akan dibangun berdasarkan pekerjaan arsitektur dari Tuan Dyckmans telah diterima, yang juga telah membuktikan melalui rancangannya untuk gereja dan pelaksanaan pekerjaan tersebut dalam keindahan dan kekuatan yang terbaik, bahwa ia sepenuhnya mampu membangun gereja Batavia dengan cara yang layak dan suci.
Rencana gereja dibuat oleh Yang Terhormat Tuan A. Dyckmans, imam pembantu di Batavia, seseorang yang di bidang arsitektur gereja bukan hanya di Hindia, tetapi juga di Belanda telah memperoleh nama baik melalui pembangunan gereja megah di Hertogenbosch dan gereja lainnya, karena selera dan mutu pengerjaannya yang baik.
Rencana gereja baru, yang dirancang dalam gaya Gotik, telah diperiksa dan disetujui oleh para Tuan Th. Molkenboer, arsitek di Utrecht, Tuan v.d. Schalk, pengawas bangunan, serta oleh komisi rohani pembangunan gereja. Rencana tersebut akan diubah sekali lagi agar kekokohan dan kesuciannya dapat ditingkatkan. Kedua tuan tersebut telah dengan kerelaan terbesar dan tanpa imbalan apa pun menyerahkan rencana mereka, sehingga Gereja Katolik Batavia sangat berhutang budi kepada mereka atas hal itu.
Oleh Komisi yang ditunjuk oleh dewan pengurus dana mereka untuk gereja baru, telah ditetapkan suatu lokasi bagi gereja di Waterlooplein (Lapangan Banteng), tempat berdirinya gedung gereja lama, dan telah pula dilakukan permulaan penentuan fondasinya, untuk mana jumlah sebesar 15.000 gulden telah dikumpulkan oleh komisi penghormatan.
Namun karena sebagian besar pekerjaan saat ini berkenaan dengan tanah yang lembab dan dingin, serta pembangunan fondasi gereja memerlukan biaya besar, jumlah itu tidak mencukupi, sehingga kaum Katolik di Batavia merasa perlu mengajukan permohonan kepada Pemerintah untuk mendapatkan subsidi sebesar 12.000 gulden.
Rencana gereja ini telah dirancang oleh Tuan A. Dyckmans, dan fondasinya telah diletakkan. Dinding gereja, sebagaimana diberitakan, akan dibangun dengan bata, sedangkan atapnya akan ditutup dengan batu lempeng. Gereja baru ini diperkirakan akan berukuran panjang 40 meter, lebar 20 meter, dan tinggi 20 meter, serta akan diperkaya dengan dua menara setinggi 60 meter sesuai dengan perbandingannya.
Oleh karena itu mereka dengan kebutuhan mendesak memohon bantuan Pemerintah, dan memang, sebagaimana diyakini dengan alasan yang wajar, tidak hanya karena pengalaman di negeri-negeri lain dan di Negeri Belanda menunjukkan bahwa Pemerintah telah turut serta dalam memberikan bantuan kepada banyak perkumpulan keagamaan lainnya, tetapi terutama karena umat Katolik di Batavia, meskipun masih berjumlah kecil, selalu menonjol karena kesungguhan dan semangat keagamaan mereka, dan pendirian sebuah gereja yang layak bagi pelayanan ibadah umum di Batavia sungguh merupakan kepentingan bagi peradaban dan keagamaan.
Dalam keadaan yang sekarang ini, bagi umat Katolik hanya tersedia sebuah rumah ibadah kecil dan tidak memadai, yang karena banyaknya orang yang datang pada hari Minggu untuk mengikuti kebaktian, telah menjadi sama sekali tidak cukup, sehingga sebagian harus mencari tempat di luar gereja, sementara yang lain terpaksa berdiri tegak selama seluruh kebaktian berlangsung.
Maka mereka berharap bahwa Pemerintah, yang dalam tahun-tahun terakhir ini telah banyak berbuat demi kepentingan peradaban di Hindia, juga dalam hal ini berkenan untuk turut menyumbang bagi kemajuan ibadah umum, dan bahwa Pemerintah, setelah mempertimbangkan alasan-alasan yang baik dalam perkara ini, akan berkenan memberikan kepada umat Katolik Batavia, dalam bentuk subsidi, suatu bantuan keuangan untuk membangun gereja baru mereka.
Para penandatangan menaruh harapan bahwa Pemerintah, sebagaimana telah memberikan bantuan keuangan kepada perkumpulan-perkumpulan Kristen lainnya di Hindia, juga tidak akan menolak permohonan ini dari umat Katolik Batavia. Dengan tunduk dalam rasa hormat yang sedalam-dalamnya, para penandatangan merasa terhormat untuk menyampaikan hal ini, dengan penghormatan yang sebesar-besarnya,
Atas nama Dewan Gereja dan Amal Katolik Roma di Batavia,
† J. Vrancken
Vikaris Apostolik Batavia
Batavia, 25 Mei 1895
Raaijmakers Tahun 1904
Batavia, 1904
Saudara-saudara seiman Katolik di Hindia Belanda,
Pada tanggal 7 Juni 1904 genap 25 tahun sejak Monsinyur E. S. Luypen, Uskup Tituler dari Orope dan Vikaris Apostolik Batavia, menerima tahbisan imam sucinya. Maka dari itu, umat Katolik yang kita kasihi memperingati hari penuh makna ini — yang bagi setiap umat Katolik menjadi kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan perasaan kasih dan kesetiaannya kepada otoritas rohani mereka, dengan cara melakukan suatu tindakan yang mencerminkan semangat Katolik yang sejati.
Sehubungan dengan hal tersebut, timbul gagasan untuk — atas nama seluruh umat Katolik di Hindia Belanda — mempersembahkan suatu kenang-kenangan abadi kepada Yang Mulia Jubilaris pada hari peringatan itu. Persembahan ini akan dilakukan dengan cara yang memberikan makna khusus, yakni: “Suatu ungkapan spontan dari perasaan umat beriman di bawah Vikariat Apostolik ini.”
Bentuk dari persembahan tersebut belum dapat ditentukan sekarang, karena sifat dan nilainya akan bergantung pada jumlah dana yang berhasil dikumpulkan. Kami mempertimbangkan bahwa hadiah tersebut mungkin akan berupa sesuatu yang dapat memperindah bagian dalam Katedral milik Yang Mulia, yang saat ini masih kekurangan hiasan. Namun, hal ini akan dibahas lebih lanjut di waktu yang lebih tepat.
Oleh karena itu, kami mengajukan permohonan kepada Anda semua, umat Katolik di seluruh Hindia Belanda, untuk membantu mewujudkan maksud ini dengan memberikan sumbangan sukarela sesuai kemampuan masing-masing. Setiap sumbangan, sekecil apa pun, akan diterima dengan penuh rasa syukur. Dana yang terkumpul dapat diserahkan kepada panitia lokal di daerah Anda, atau — apabila karena alasan tertentu tidak memungkinkan — dapat dikirim langsung ke alamat pribadi Sekretaris-Bendahara Komite Pusat, yaitu:
Tuan J. M. Raaijmakers
Comediebuurt D.29
Weltevreden (Jakarta Pusat)
Surat ke Pater Dykmans dari Panitia Pesta Perak Imamat Uskup Luypen 27 April 1904
Weltevreden (Jakarta), 27 April 1904
Kepada
Romo A. Dykmans
Imam Katolik
Canisius College
Nijmegen
Yang Sangat Terhormat,
Sebagaimana mungkin sudah diketahui oleh Anda — atau bila belum, akan tampak dari surat edaran yang disertakan secara terpisah sebagai cetakan — telah dibentuk di Batavia sebuah panitia khusus dengan maksud untuk memberikan penghormatan (huldeblijk) kepada Yang Mulia Monsinyur E. S. Luypen, bertepatan dengan ulang tahun perak imamatnya (25 tahun sebagai imam) yang akan dirayakan pada 8 Juni yang akan datang.
Panitia tersebut telah memutuskan bahwa tanda penghormatan (huldeblijk) itu akan berupa sebuah mimbar khotbah (preekstoel). Kami juga memenuhi keinginan yang telah disampaikan oleh Yang Mulia Monsinyur E. S. Luypen, dengan ini kami beralih kepada Anda — sebagai perancang agung Katedral Batavia — dengan permohonan hormat sebagai berikut:
1. Mohon kiranya Anda memberitahukan melalui telegram berapa kira-kira biaya pembuatan mimbar tersebut, dengan mempertimbangkan bahwa benda itu akan menjadi hiasan sejati bagi gereja dan tanda penghormatan yang layak bagi Monsinyur Luypen.
2. Mohon kiranya Anda dapat mengirimkan rancangan gambar (tekening) secepat mungkin,
beserta perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaiannya.
3. Mohon juga untuk memberitahukan apakah seluruh bagian mimbar tersebut perlu dikerjakan di Eropa, atau (lanjutan terpotong di bawah).
Poole & Theeuwes - 1 Juni 1904
Den Haag, 1 Juni 1904
Kepada Yang Sangat Terhormat Tuan A. Dyckmans,
Imam Katolik Roma dan Profesor – Canisius College,
Nijmegen.
Yang Sangat Terhormat,
Bersama ini kami kirimkan kepada Anda gambar-gambar rancangan mimbar khotbah. Kami berasumsi bahwa Anda akan dapat memilih salah satu di antaranya, terlebih karena sama sekali tidak menjadi keberatan untuk mengganti bagian-bagian dari satu mimbar yang mungkin kurang berkenan, dengan bagian dari yang lain yang lebih sesuai dengan keinginan Anda.
Bagian-bagian mana yang akan dibuat dari kayu atau dari batu dapat ditetapkan bersama dengan Anda, setelah keputusan diambil mengenai gambar mana yang akan dilaksanakan. Karena kami ingin melaksanakan semuanya sepenuhnya sesuai dengan keinginan Anda, kami menantikan catatan dan saran Anda. Kami akan berusaha agar biayanya tidak melebihi enam ribu gulden; meskipun mungkin saja akan kurang dari jumlah itu.
Dengan hormat yang setinggi-tingginya, kami tetap,
hormat kami,
Hamba Anda yang setia,
J. A. le Poole & Theeuwes
P.S. Untuk pengerjaan dibutuhkan waktu lima bulan.
Raaijmakers 8 Juli 1904
Weltevreden, 8 Juli 1904
Yang Terhormat Pastor,
Kedua surat Anda, beserta tiga gambar rancangan, telah saya terima hari ini dalam keadaan baik, dengan banyak terima kasih.Saya menganggap rancangan itu, dalam satu kata, indah sekali, dan saya percaya bahwa rancangan itu layak menjadi sebuah monumen, layak bagi Luypen dan juga bagi perancangnya. Saya akan menyampaikan hal ini dengan sebaik-baiknya.
Pada hari Minggu tanggal 10 bulan ini akan diadakan konferensi besar mengenai hal tersebut. Keputusan akan saya beritahukan kepada Anda secepat mungkin. Data-data yang diminta akan saya kirimkan kepada Anda segera. Terhadap cara pembayaran tidak ada keberatan.
Dengan salam yang sopan dan hormat,
Hamba Anda yang setia,
Raaijmakers
Poole & Theeuwes - 17 Sep 1904
Den Haag, 17 September 1904
Kepada Yang Sangat Terhormat dan Sangat Terpelajar
Tuan A. Dyckmans,
Imam Katolik Roma dan Profesor di Oudenbosch.
Yang Sangat Terhormat,
Dengan ini kami sertakan kembali dokumen-dokumen dari Batavia, sementara kami juga melampirkan rancangan kontrak untuk pengadaan mimbar khotbah (preekstoel). Gambar-gambar (rencana teknis) itu ingin kami tahan beberapa hari lagi, karena kami masih membutuhkannya; kami akan mengirimkan kepada Anda sebuah gambar yang jelas mengenai penempatan mimbar terhadap kolom dinding.
Pelaksanaan bagian bawah mimbar akan kami tunda sampai kami menerima jawaban pasti dari Anda, apakah bagian itu akan dibuat dari kayu atau juga dapat dikerjakan dalam marmer.
Dengan hormat yang setinggi-tingginya, kami tetap, Hamba Anda yang setia,
J. A. le Poole & Theeuwes
Surat Pengumpulan Dana 18 Juni 1909
Weltevreden, 18 Juni 1909
Kepada yang berkepentingan,
Pada 27 September yang akan datang, pastor kami yang terhormat, Romo Carolus Wilhelmus Joannes Wenneker, lahir di Schiedam pada 10 September 1837, dan ditahbiskan sebagai imam pada 1 September 1872, berharap dapat merayakan Jubileum Emas (50 tahun) dari masuknya beliau ke dalam Tarekat Santo Ignatius (Yesuit).
Semua orang yang mengenal imam yang sangat berbakat ini — yang meskipun sudah lanjut usia masih tetap bekerja tanpa lelah di berbagai bidang, dan yang terutama dikenal karena devosi istimewanya kepada Santa Perawan Maria, sebagaimana terlihat dalam banyak khotbah dan nyanyiannya yang menginspirasi dan membangun iman, tentu akan dengan senang hati bekerja sama agar perayaan mendatang bagi Romo Wenneker menjadi saat yang tak terlupakan, baik untuk beliau maupun bagi Gereja Batavia.
Bagaimana cara terbaik untuk mencapainya? Bukan dengan memberikan hadiah berupa logam atau benda-benda materi lainnya, tetapi dengan berpartisipasi dalam pendanaan pembangunan Jalan Salib (Kruisweg) yang sesuai dengan Katedral Katolik Batavia, yang dengan demikian akan menambah keindahan dan perlengkapan artistik bagi bangunan monumental itu.
Cukup dengan melihat betapa sederhana dan miskinnya Jalan Salib yang ada sekarang, orang pasti akan terdorong untuk memberi dengan kemurahan hati yang lebih besar! Rencana kami adalah, bila memungkinkan, memesan Jalan Salib yang pantas bagi Katedral kita langsung dari Eropa, tentu saja dengan bimbingan perancang Katedral tersebut, Romo A. Dyckmans.
Perhatian kami tertuju pada metode baru yang dalam beberapa tahun terakhir digunakan di Belanda (antara lain di Rijswijk dan Zoeterwoude), di mana rangkaian Jalan Salib telah dibuat dengan cara yang — menurut para ahli — sangat memuaskan, karena lukisan-lukisan atau relief Jalan Salib yang dihasilkan dengan cara itu dianggap luar biasa baik.
Relief-relief Jalan Salib ini akan dibuat dari sejenis ubin khusus dengan warna-warna yang dibakar langsung ke dalam bahan keramiknya. Ubin-ubin ini tidak akan berubah warna, tidak memerlukan perawatan, dan tahan terhadap kelembapan, oksidasi, rayap putih, serta berbagai kerusakan lainnya, sehingga sangat cocok untuk iklim di Hindia Belanda (Indonesia).
Dalam pembuatan Jalan Salib ini, perlu diperhatikan pula pencahayaan di sepanjang dinding samping Katedral, karena di sanalah Jalan Salib akan dipasang. Oleh sebab itu, hal ini harus dilakukan dalam konsultasi dengan seniman dan pengrajin ubin yang berpengalaman.
Tentu saja, hadiah ini (proyek Jalan Salib) akan memerlukan biaya yang cukup besar, namun sesuai pepatah, “apa pun yang engkau lakukan, lakukanlah dengan sebaik-baiknya,” kami yakin umat paroki, sahabat, dan para penghormat Pastor Wenneker akan dengan senang hati berpartisipasi
untuk membantu mewujudkan tujuan ini — misalnya, setiap orang dapat menyumbang untuk satu ubin saja, dan dengan begitu proyek ini akan tercapai bersama-sama.
Harga totalnya memang belum dapat dipastikan saat ini, namun ide dasarnya adalah memulai dari beberapa stasi (5 atau 6 terlebih dahulu) sebagai permulaan, dan sekaligus sebagai peringatan untuk pesta jubileum Pastor Wenneker yang akan datang.
Pada stasi pertama, di bagian bawah hiasan tepiannya, akan ditempatkan sebuah plakat kecil berisi tulisan peringatan sederhana, dengan gaya dan warna yang serasi dengan seluruh desain Jalan Salib tersebut.
Setiap sumbangan sangatlah berharga — baik seperempat gulden dari mereka yang sederhana, maupun sumbangan yang lebih besar dari mereka yang mampu.
Panitia:
(Tidak disebutkan nama ketua)
Lapadu, wakil ketua
Dr. Schöppel, sekretaris
Pastoor Kortenhorst, bendahara
Masion Raffl 26 August 1909
Paris, 26 Agustus 1909
Kepada
Romo A. Dyckmans, S.J.
Molenstraat, Nijmegen, Belanda
Yang Sangat Terhormat Romo,
Kami baru saja menerima surat dari Tuan Platou di Batavia, yang memberi tahu kami mengenai rencana Anda untuk mendirikan Jalan Salib (Chemin de Croix) di gereja Batavia, dan beliau meminta kami untuk menghubungi Anda mengenai hal tersebut.
Oleh karena itu, dengan hormat kami memohon agar Anda berkenan memberikan semua informasi yang diperlukan mengenai proyek Jalan Salib ini - terutama tentang ukurannya, gayanya, bahan yang diinginkan, serta perkiraan dana yang Anda maksudkan untuk pengadaan ini.
Segera setelah kami menerima keterangan tersebut, kami akan dengan senang hati mengirimkan kepada Anda penawaran harga (devis), beserta foto-foto dan sketsa rancangan dari apa yang dapat kami tawarkan.
Sambil menantikan jawaban dari Anda, kami menyampaikan, Yang Sangat Terhormat Romo, penghormatan kami yang setinggi-tingginya.
Maison Raffl
Surat tertanggal 20 Nov 1910
Den Haag, 20 November 1910
Kepada
Yang Sangat Terhormat Romo N.C.
Dengan tulus saya mengucapkan terima kasih atas kiriman Anda. Sebelum saya membaca surat Anda dan juga surat dari Romo Theo, pikiran saya sebenarnya telah tertuju pada bentuk dari panel ke-13 (yaitu dengan penutup setengah lingkaran); dan tentu saja saya merasa sangat senang ketika membaca tulisan Anda, karena ternyata pemikiran saya sejalan dengan pemikiran Anda. Sungguh, ini bisa menjadi sesuatu yang sangat indah...
Saya akan mengirimkan sketsa sesuai keinginan Anda, langsung kepada Molkenboer. Besok saya berharap dapat bertemu dengan Pater Van Anderen di Kementerian Koloni (Ministerie van Koloniën); saya sedang menyusun memorandum tertulis tentang hal yang akan dibahas, yakni pernyataan kemerdekaan administratif dari Prefektur Apostolik kita.
Theo Molkenboer 17 Desember 1910
17 Desember 1910 - Surat Theo Molkenboer kepada Pater Dijkmans SJ berisikan usulan desain untuk Gereja Katedral Jakarta
17 Desember 1910
Yang Sangat Terhormat Pastor Dykmans S.J.
Kaum Jesuit yang Terhormat,
Katwyjk – Binnen
Yang Sangat Terhormat,
Sesuai dengan kesepakatan kita, saya kirimkan kepada Anda sebuah sketsa untuk ruang tambahan bagian barat laut Katedral Batavia.
Saya pikir sebaiknya terlebih dahulu mengirimkan sketsa ini yang memperlihatkan pembagian bidang-bidang untuk tata letak, agar kita dapat mendiskusikannya terlebih dahulu, dan setelah itu baru membuat sketsa bagian-bagian dekoratif. Karena saya memiliki dua ukuran berbeda untuk bagian-bagian dekoratif itu, maka demi kesesuaian ukuran dan proporsi, pengiriman pertama ini sangat diperlukan.
Seperti Anda ketahui, di atas sakristi saya telah merancang sebuah bagian bangunan tambahan, yang dapat dihubungkan dengan gereja kecil, sehingga membentuk semacam panel kayu (lambris). Saya berpikir bahwa warna cokelat lembut akan cocok di sana. Namun, karena bagian itu akan berada dekat dengan elemen yang memiliki banyak warna terang dan putih, tampaknya perpaduan warna tersebut akan cukup menarik, dan akan tampak baik tanpa membuat ruang gereja terlalu ramai. Warna-warna yang saya pilih sedikit lebih terang, dan karena variasi bahan cat, kanvas, serta pengaruh waktu, akan tampak lebih hidup.
Besok saya akan memikirkan mengenai lambrekijn (hiasan kain di bagian atas dinding) dan panel dekoratifnya. Saya juga menyesuaikannya dengan kesepakatan kita sebelumnya. Saya pasti akan segera mengirimkan lebih banyak kepada Anda. Jika bagian dekoratif itu dipasang berderet, tingginya sekitar 1,20 meter, dan secara keseluruhan akan tampak lebih ringan karena bagian bawah dinding berwarna lebih gelap dan bagian atasnya lebih terang, memberikan kesan tenang pada ruangan itu — saya rasa ini baik.
Menurut ingatan saya, ruangan itu akan memiliki ukuran sekitar 6 × 12 meter, berbentuk agak persegi panjang dan cukup terang. Kapel di dalamnya akan tetap sesuai dengan rencana, dengan tinggi langit-langit sekitar 7,40 meter, dan bagian di atas altar akan lebih tinggi sekitar 1,30 meter. Saya membayangkan ruang itu akan sejajar dengan sakristi, sehingga seluruh rancangan akan tampak sebagai satu kesatuan yang selaras. Tentu ukuran pasti dapat berbeda 2–3 meter, tergantung kondisi lokasi yang sebenarnya, namun arahnya sudah benar.
Mengenai pencahayaan dan lukisan dinding ruang itu, saya berpikir untuk menambahkan pita marmer dengan lambrekijn di bagian atas, dan menghias dinding bagian atas dengan lukisan figur dan simbol-simbol keagamaan, dalam kombinasi warna cokelat lembut dan biru, warna yang hangat dan berwibawa. Nanti saya dengan senang hati akan mengirimkan sketsa tambahan untuk bagian-bagian ini.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 2 Januari 1911
2 Januari 1911
Yang Terhormat Pater Dykmans S.J.
Dengan hormat,
Izinkan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kartu ucapan Tahun Baru Anda, dan sekali lagi saya mengucapkan selamat tahun baru.
Pada tanggal 23 Desember yang lalu saya telah menulis kepada Yang Mulia Mgr. Luypen dengan sepucuk surat kecil, dan ingin menyampaikan bahwa kemungkinan masih perlu dibuat suatu kontrak resmi. Hal ini telah dibicarakan dan dipertimbangkan dengan memperhatikan kenyataan bahwa saya kini harus pergi ke pabrik-pabrik tersebut untuk menandatangani kontrak dan memulai pekerjaan, meskipun saya belum sepenuhnya siap untuk bekerja. Namun saya mungkin akan tetap menjadi bagian darinya, dan kami akan melanjutkan seperti yang telah direncanakan.
Apabila saya tiba di pabrik-pabrik itu dan merasa bahwa pembicaraan tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka saya akan beralih ke satu atau dua gereja lainnya — tetapi saya rasa belum akan melakukannya, juga belum akan bepergian. Saya akan menunggu sampai saya menerima kabar pasti dari Yang Mulia Uskup; barulah semuanya akan menjadi jelas bagi saya.
Dari surat Anda dan surat Yang Mulia Uskup, tampaknya memang demikian, dan saya telah menyampaikan hal ini sebelumnya dalam surat terakhir saya. Namun saya ingin mendapatkan kepastian penuh mengenai hal tersebut.
Anda tentu memahami bahwa ini sepenuhnya merupakan urusan pribadi, demikian juga dengan kontrak yang Anda sendiri juga pandang dan kehendaki. Oleh karena itu saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Anda apa pendapat Anda — apakah saya harus menunggu hal itu, atau sebaiknya sekarang saja kita putuskan secara pasti untuk menyelesaikan urusan ini.
Saya ingin segera melangkah maju, tetapi selama saya belum memiliki kepastian yang jelas dan pasti dengan pihak pabrik, dan tidak ada hal lain yang dapat ditanyakan di sana tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak lain, maka saya rasa saya tidak perlu berbuat lebih banyak sebelum menerima konfirmasi tersebut.
Theo Molkenboer
Pater Dyjkmans 6 Januari 1911
6 Januari 1911 - Surat Pater Dykmans SJ kepada Uskup sebelum menanda-tangani kontrak dengan Theo Molkenboer
Katwijk, 6 Januari 1911
Monsinyur,
Selamat Tahun Baru, di bawah berkat Tuhan yang Maha Pengasih! Baru-baru ini saya berada di Middelkoop untuk membuat kontrak dengan Tn. Molkenboer, yang akan saya kirimkan segera setelah saya menerima nama resmi dari pihak yang berwenang. Saya belum menandatanganinya, karena saya menunggu persetujuan dan korespondensi dari Anda. Saya sangat ingin mendapat arahan dari Anda untuk penyelesaian rencana dan perjanjian yang telah disiapkan.
P. Heynigers dan P. Frans, yang lebih mengetahui persoalan ini, mungkin dapat memberi tahu saya kapan pihak berwenang dapat menandatangani kontrak tersebut. Setelah saya menerima instruksi dari Anda, saya akan segera mengirimkan konsep kontrak kepada Tn. Molkenboer untuk ditandatangani.
Semoga Allah memberikan Anda waktu dan kesehatan yang cukup untuk melanjutkan pekerjaan yang telah Anda mulai, demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat-Nya.
Dengan hormat, dalam Kristus,
A. Dyjkmans
Den Haag 17 Jan 1911
Den Haag, 17 Januari 1911
Romo yang terkasih dalam Kristus,
P.C.
Terima kasih atas surat Anda tanggal 9 bulan ini. Saya baru kembali ke rumah kemarin, karena terus-menerus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sehingga tidak sempat menulis lebih awal. Sebuah surat kepada Tuan Th. Molkenboer sudah saya siapkan. R.P. Heym akan mengurus gambar rancangan tersebut segera setelah ia menerima perintah dari Batavia. Selain itu, saya kira tidak akan ada keberatan lebih lanjut.
Saya ingin tahu apakah rancangan tersebut akan diwarnai dalam ukuran sebenarnya; setelah disetujui, maka kita harus menyerahkan penyelesaian akhirnya kepada Molkenboer. Saya juga telah menulis hal yang sama kepada Ples., dan saya memahami bahwa ia yakin bahwa Molkenboer tidak akan mengecewakankepercayaan kita.
Theo Molkenboer 14 Februari 1911
Kepada
Pater Dykmans S.J.
Dengan hormat,
Saya sangat menyesal karena saat ini sulit bagi saya untuk memberikan jawaban yang lengkap, sebab saya memang belum dapat datang.
Saya sedang sangat sibuk dengan pekerjaan utama saya, dan meskipun hal itu memakan lebih banyak waktu dan tenaga daripada yang saya perkirakan semula, saya telah menyelesaikannya sepenuhnya. Saya juga telah berada di Jerman untuk menyelesaikan beberapa urusan di sana, dan kini semuanya telah beres.
Namun di Belanda masih ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan sebelum saya dapat memperlihatkan hasil lebih lanjut. Kontraknya pun masih belum selesai, tetapi saya akan mengirimkan kepada Anda semua sketsa dan dokumen yang diperlukan besok atau lusa.
Saya sangat ingin datang pada pertengahan minggu depan — apakah hari Rabu malam sesuai bagi Anda?
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 27 Februari 1911
27 Februari 1911
Yang Sangat Terhormat Pater Dykmans,
Dengan hormat,
Sebagai jawaban atas surat Anda hari ini, saya berharap dapat menemui Anda pada minggu depan — hal ini akan jauh lebih mudah bagi saya, dan saya menulis kepada Anda dengan sungguh-sungguh mengenai hal tersebut. Hal ini penting karena menyangkut model (maquette) dari rancangan dengan ukuran 2,40 × 2,40 meter, yang tidak dapat diubah tanpa pertimbangan yang matang dan pengukuran ulang yang teliti.
Saya telah meninjau semuanya kembali secara cermat dan akan menunjukkan kepada Anda nanti bahwa memang tidak mungkin dilakukan dengan cara lain. Meskipun demikian, ada kemungkinan untuk sedikit memperlebar proporsi, tetapi tidak dapat menggunakan tembaga seperti sebelumnya — Anda dapat melihat bahwa banyak bagian dari rancangan masih dalam bentuk sketsa dasar, dan terutama perlu menjaga pola lingkaran konsentris dari dekorasi tembaga tersebut.
Saya juga telah membuat sketsa kecil dalam ukuran sebenarnya (ware grootte), dan dari situ Anda dapat melihat dengan jelas bahwa ukuran keseluruhannya tidak berubah, hanya sedikit disempurnakan agar lebih sesuai dengan tujuan. Saya akan mengatur kunjungan saya minggu depan untuk membahas hal ini lebih lanjut.
Sementara itu, saya sedang mencari sebuah studio (atelier) yang baru, yang juga akan lebih mudah diakses bagi Anda bila diperlukan. Kebetulan saya sudah menemukan satu yang cocok, dan saya akan memberi tahu lebih lanjut minggu depan, semoga semuanya berjalan dengan baik. Dengan demikian, kemungkinan besar semuanya akan lebih mudah dilihat dan dipahami bila Anda datang ke tempat saya. Itulah sebabnya saya dengan hormat ingin mengundang Anda datang untuk melihat rancangan (tekening) ini sendiri.
Namun, bila Anda tidak dapat datang, saya juga bersedia membawa rancangan ini ke Katwijk. Saya dapat menaruhnya di sebuah ruangan di sana agar Anda dapat memeriksanya dengan tenang, tanpa membuang waktu yang banyak. Apabila ini memang rancangan akhir yang dimaksud, maka saya masih perlu menambahkan beberapa penyesuaian, bayangan, dan pewarnaan, sebelum akhirnya dapat saya selesaikan dan serahkan secara resmi.
Apabila Anda berpendapat bahwa hal ini perlu dilakukan segera, mohon kiranya Anda berkenan menulis kepada saya kapan saya dapat datang menemui Anda untuk membawakan rancangan tersebut. Nanti Anda juga dapat melihat bagian-bagian yang sudah selesai dengan warna pada kesempatan lain, bila sudah siap.
Bolehkah saya meminta jawaban singkat dari Anda, kapan saya dapat datang, atau kapan kira-kira Anda akan siap untuk menerima kunjungan saya?
Studio saya saat ini berada di gedung “De Roos”, Rokin 5 (tepat di belakang Dam, pusat Amsterdam). Dari stasiun ke sana hanya sekitar tiga menit perjalanan dengan trem. Saya tinggal di lantai lima, tetapi ada lift, jadi Anda dapat dengan mudah datang, dan dalam waktu kurang dari satu jam sudah dapat kembali ke rumah, sementara kita dapat berbincang dengan leluasa di sana.
Namun, alamat surat-menyurat saya tetap di Nassaukade 356. Saya dengan senang hati menantikan jawaban dari Anda.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 17 Maret 1911
17 Maret 1911
Kepada Pater Dykmans
Dengan hormat,
Sebagai tanggapan atas kartu pos Anda yang saya terima hari ini, saya ingin memberi tahu bahwa rencana saya akan saya tunjukkan langsung kepada Anda. Saya merasa Anda akan dapat memahami pertimbangannya dengan baik — dan saya berharap bahwa dengan pembagian serta penataan baru, hal itu akan sesuai dengan pandangan Anda.
Karya Dr. Sijper (atau mungkin: desain altar/figurasi religius yang disebut demikian) kini telah berkembang dengan baik, dan hasilnya memberikan kesan yang sangat indah, terutama karena saya menanganinya dengan gaya yang sederhana namun cukup dekoratif, sehingga figur-figur (patung atau ornamen) tampil lebih kuat, dan seluruh komposisi menjadi lebih terpusat pada ekspresinya.
Izinkan saya memberitahu bahwa hari Selasa mendatang saya tidak akan berada di tempat, namun saya akan sangat berterima kasih bila Anda dapat mengirimkan kabar kecil mengenai rencana kedatangan Anda, karena pada umumnya saya sering bekerja secara spontan dan sering keluar studio.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 19 Maret 1911
19 Maret 1911
Kepada Pater Dykmans SJ
Dengan hormat,
Akan sangat menyenangkan bagi saya bila dapat bertemu dengan Anda pada hari Rabu mendatang di tempat saya. Saya akan berada di rumah sepanjang hari, dari pukul 9 hingga 12 pagi dan dari pukul 2 hingga 5 sore, jadi silakan datang pada waktu yang paling sesuai bagi Anda.
Namun bila Anda ingin menulis terlebih dahulu, tentu saya akan sangat senang menerima kabar itu. Tolong kirimkan surat ke alamat di atas, sehingga saya dapat menerima kartu Anda pada Selasa malam atau Rabu pagi dengan pos pertama.
Dengan harapan dapat segera bertemu Anda dalam keadaan baik
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 19 Maret 1911
22 Maret 1911
Kepada Pater Dykmans S.J.
Dengan hormat,
Sungguh menyenangkan bagi saya membaca surat Anda. Saya akan dengan senang hati memperhatikan semua catatan Anda. Saya berharap dapat menyiapkan contoh lukisan (proefje) dengan warna yang lebih lembut, dan akan memberitahu Anda segera setelah saya menyelesaikan lukisan seharga 200 gulden per panel. Saya gembira mengetahui bahwa Anda menyetujui rencana saya mengenai lukisan altar, dan menganggapnya wajar bahwa pengerjaan sebenarnya akan dilakukan nanti, setelah tahap persiapan ini selesai.
Apabila Anda berkenan, mungkin Anda dapat mempertimbangkan apakah lukisan-lukisan ini juga cocok untuk kapel baru yang akan dibangun di Den Haag, yang kelak akan menggantikan rumah Katwijk. Kapel kecil itu dapat dirancang dengan memperhitungkan lukisan-lukisan ini, sehingga keseluruhannya dapat disesuaikan sejak awal. Apakah Anda berkenan mempertimbangkan hal itu terlebih dahulu?
Saya juga akan sangat senang apabila Anda memperhatikan bahwa harga 200 gulden per lukisan ini, menurut saya, cukup wajar. Namun perlu saya catat bahwa, jika nanti lukisan-lukisan itu dikirim (ke Batavia atau tempat lain), biaya pengiriman dan pengepakan bisa saja membuatnya menjadi lebih mahal bila dibandingkan dengan pengiriman yang dilakukan sekitar Mei–Juni mendatang.
Saya kira kita bisa menentukannya sekitar 200 gulden per panel, tanpa tambahan apa pun, dan saya akan memastikan bahwa hasilnya benar-benar selesai dengan baik, bukan setengah jadi, agar lebih efisien dan tidak menambah ongkos lain.
Saya sendiri akan menyiapkan pengemasan dan penggulungan, sehingga siap dikirim. Saya akan mengirimkan surat kepada pihak kapal yang membawa kiriman ke Hindia (Batavia), dan biaya pengiriman itu akan dibebankan kepada Anda, atau jika perlu dapat diatur bersama pihak pengurus.
Namun, saya pikir mungkin akan lebih baik jika saya terlebih dahulu mengirimkan foto-foto lukisan tersebut, agar Anda dapat meninjaunya terlebih dahulu dalam beberapa hari ke depan. Dengan begitu, Anda dapat memberikan persetujuan atau saran sebelum semuanya saya kirimkan.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 23 Maret 1911
23 Maret 1911
Kepada Pater Dykmans S.J.
Dengan hormat,
Saya juga telah mendengar tentang kabar itu, dan sama sekali tidak memahami lebih jauh apa yang terjadi daripada Anda sendiri.
Memang benar bahwa saya — sebagaimana juga saya tulis dalam beberapa surat — telah mempertimbangkan kemungkinan untuk kembali lagi ke Amerika, namun dalam hal ini saya mohon Anda tetap percaya bahwa urusan dan rencana untuk Batavia kini berjalan demi kebaikan semua pihak.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 8 April 1911
8 April 1911
Kepada Pater Dykman S.J.
Dengan hormat,
Keempat lukisan jalan salib kini mengalami kemajuan yang sangat baik, sehingga saya berharap dalam waktu sekitar tiga minggu lagi saya dapat menulis kepada Anda untuk mengundang Anda melihatnya secara langsung. Saya yakin Anda akan menyukainya. Sementara itu, saya juga sedang membuat gambar rancangan (tekening) untuk lukisan dinding dan dekorasi sekelilingnya, bukan dalam skala besar, melainkan agar seluruh tata ruang altar dapat dilengkapi secara menyeluruh dan seimbang.
Selain itu, saya ingin meminta pendapat Anda mengenai detail arsitektur, khususnya rangka dan profil pintu-pintu yang terletak di kedua sisi altar, di bawah balok-balok. Bolehkah saya menanyakan, apakah menurut ingatan Anda profil lis pintu tersebut berbentuk setengah melengkung (koof) atau garis lurus (recht)? (Di bagian bawah surat terdapat dua sketsa kecil sebagai perbandingan bentuk profil tersebut.)
Untuk pengerjaan lukisan dinding (beschildering), saya perlu memastikan detail itu terlebih dahulu agar dapat membuat perencanaan yang tepat. Dapatkah Anda memberi saya penjelasan mengenai hal ini, atau apakah sebaiknya saya menghubungi Pater Zondag di Hindia untuk menanyakan langsung kondisi di tempat?
Theo Molkenboer
(catatan di pinggir kiri halaman:)
“Bolehkah saya meminta Anda memberikan sedikit tanggapan atau pertimbangan tentang hal ini?”
Theo Molkenboer 11 April 1911
11 April 1911
Kepada YTH Pater Dykmans SJ
Dengan hormat,
Sebagai jawaban atas surat Anda, saya dapat memastikan bahwa apabila Anda datang hari Senin yang akan datang, meja (altar) dan seluruh bagiannya sudah sepenuhnya selesai dan siap, setidaknya menurut penilaian saya — dan semoga demikian pula menurut pendapat Anda. Saya tidak ragu bahwa Anda akan merasa sangat puas. Bagi saya sendiri, saya yakin bahwa hasil akhirnya telah mencapai bentuk yang paling tepat dan seimbang.
Anda akan melihat bahwa semuanya telah banyak mengalami kemajuan, dan juga mengalami beberapa perubahan detail. Namun, sebaiknya Anda datang pada siang atau sore hari, kira-kira antara pukul 4 sampai 5 sore, karena pada waktu itu pencahayaan terbaik, dan memungkinkan Anda untuk mendapatkan kesan yang sebenarnya dari lukisan-lukisan altar (tableaux) tersebut.
Di pagi hari — terutama bila matahari bersinar langsung — pencahayaan terlalu keras dan tidak cocok untuk menilai hasil lukisan. Saya dengan senang hati akan menanti Anda pada hari Senin sore, atau, jika itu tidak memungkinkan, pada hari lain yang sesuai bagi Anda. Saya akan menyiapkan semuanya dan memberi kabar ke De Roos (studio saya) bila Anda berkenan datang.Namun sebenarnya, saya hampir selalu berada di sini.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 14 Mei 1911
14 Mei 1911
Yang Sangat Terhormat Pater Dykmans,
Sebagai jawaban atas surat Anda, saya dapat memastikan bahwa apabila Anda datang hari Senin yang akan datang, meja (altar) dan seluruh bagiannya sudah sepenuhnya selesai dan siap, setidaknya menurut penilaian saya — dan semoga demikian pula menurut pendapat Anda. Saya tidak ragu bahwa Anda akan merasa sangat puas. Bagi saya sendiri, saya yakin bahwa hasil akhirnya telah mencapai bentuk yang paling tepat dan seimbang.
Anda akan melihat bahwa semuanya telah banyak mengalami kemajuan, dan juga mengalami beberapa perubahan detail. Namun, sebaiknya Anda datang pada siang atau sore hari, kira-kira antara pukul 4 sampai 5 sore, karena pada waktu itu pencahayaan terbaik, dan memungkinkan Anda untuk mendapatkan kesan yang sebenarnya dari lukisan-lukisan altar (tableaux) tersebut.
Di pagi hari — terutama bila matahari bersinar langsung — pencahayaan terlalu keras dan tidak cocok untuk menilai hasil lukisan. Saya dengan senang hati akan menanti Anda pada hari Senin sore, atau, jika itu tidak memungkinkan, pada hari lain yang sesuai bagi Anda. Saya akan menyiapkan semuanya dan memberi kabar ke De Roos (studio saya) bila Anda berkenan datang.
Theo Molkenboer
Theo Molkenboer 4 Okt 1911
4 Oktober 1911
Kepada Pater L. Heymeyer S.J.
In Colostraat 44, Den Haag
Dengan hormat,
Kemungkinan besar Pater Dyjkmans S.J. telah memberitahukan kepada Anda bahwa empat belas panel untuk Katedral Batavia kini telah saya siapkan sepenuhnya. Pater Dyjkmans telah melihat semuanya, menyetujuinya, dan saya telah menerima persetujuan tertulis darinya. Keempat belas panel tersebut telah sebagian besar dibungkus dan dikemas dalam peti kayu, siap untuk dikirim; pabrik juga telah menyiapkan peti pelindung yang kuat untuk perjalanan laut, dan semuanya telah diberi nomor. Atas saran saya, Pater Dyjkmans beberapa minggu yang lalu meninjau kondisi panel-panel itu di pabrik dan menyatakan sangat puas dengan hasilnya.
Sekarang setelah saya sendiri melihat dengan mata kepala saya bahwa pengerjaan di pabrik berjalan dengan sangat baik, maka panel-panel itu akan segera dikemas dalam peti dan dikirim dengan kapal menuju Batavia melalui jalur laut utara. Panel-panel itu tidak akan dikirim melalui Amsterdam dan tidak akan dibuka lagi hingga tiba di tujuan.
Saya telah memberikan instruksi agar pengemasan dilakukan sangat hati-hati, supaya tidak ada kerusakan atau retak sedikit pun. Panel-panel dikirim dalam enam peti: tiga peti besar dan tiga peti kecil, semuanya disiapkan agar seluruh karya dapat tiba dengan aman dan utuh.
Theo Molkenboer
L. Heymeijer S.J. 5 Okt 1911
Den Haag, 5 Oktober 1911
Romo yang terkasih dalam Kristus, P.C.
Untuk Jalan Salib tersebut tidak ada fungsi atau kewajiban lain yang diterima, selain mengenai rincian (detail) itu saja. Setelah Anda menyetujuinya, saya kirimkan surat terlampir untuk Anda baca, dengan permohonan agar Anda berkenan memberikan nasihat Anda kepada saya.
Saya mempercayakan diri kepada Hati Kudus. Romo yang terkasih, hamba Anda dalam Kristus,
L. Heymeijer S.J.
Luypen 3 Nov 1911
Weltevreden, 3 November 1911
Romo yang terkasih dalam Kristus,
P.C.
Kami menerima surat Anda dari akhir bulan September; di sini semuanya baik-baik saja. Kini kami mendapat kabar melalui surat dari Tuan Th. Molkenboer bahwa Tuan Vroom pada tanggal 1 November telah mulai melukis gambar-gambar Jalan Salib. Kami telah menunggu lama untuk ini, dan sementara menunggu, tahun pun hampir berlalu — Anda, Molkenboer, dan Schrijver, serta yang lainnya. Pekerjaan pengecatan katedral akan selesai sekitar bulan April mendatang, dan dari waktu itu akan dilanjutkan dengan pemasangan patung-patung dan pahatan di bagian atas.
Theo menulis bahwa ia sudah menyatakan kesiapannya untuk menyelesaikan semuanya, dan ia telah menyetujui seluruh rancangan. Ia menulis bahwa lukisan pertama akan selesai pada awal minggu depan, dan dalam beberapa minggu kemudian, pengiriman pertama ke Hindia akan dilakukan. Diperkirakan pada awal Februari 1912, dan mungkin seluruhnya selesai pada akhir tahun 1912.
Kami memahami bahwa ini pekerjaan yang cukup sulit, namun ia baru saja memulai. Ia juga menulis bahwa pekerjaan berikutnya akan dikerjakan oleh pabrik, setelah semuanya disetujui olehnya. Satu bagian pertama sudah selesai. Ia menulis, dan Vroom memberi tahu saya bahwa dalam beberapa hari ke depan lukisan kedua akan dikirim ke pabrik olehnya.
Bagaimana kabar tahun Anda? Semoga bulan Februari baik adanya! Kami berharap waktu pengerjaan masih dapat diperpanjang cukup lama, karena tahun ini penuh dengan berbagai urusan. Mohon sampaikan kepadanya bahwa kami tahu biayanya cukup besar, dan kami berharap lukisan-lukisan itu akan tetap terpelihara baik dan utuh.
Saya ingin sebenarnya menerima kabar langsung dari Anda juga. Dengan sepenuh hati saya berharap minggu depan atau akhir tahun nanti kita dapat bersama merayakan Natal atau Tahun Baru.
Hari-hari yang penuh sukacita dan penuh rasa syukur. Dengan salam yang tulus dan penuh kasih, serta banyak terima kasih atas semua doa yang baik.
Semoga Tuhan menghibur Anda bersama kami. Dalam Hati Kudus, N. Vyn in Chro. E.H. Luypen, u.s.
Theo Molkenboer 6 Dec 1911
6 Desember 1911
Kepada Pater Dykmans S.J.
Dengan hormat,
Saya mendengar dari Halber dan dari pabrik di Jerman bahwa empat panel pertama (tableaux) akan tiba di Amsterdam dalam beberapa hari ini dan kemungkinan besar akan segera diserahkan.
Hal ini terjadi beberapa minggu lebih awal dari perkiraan saya, sehingga seluruh pekerjaan altar dan komponennya kemungkinan akan dapat diselesaikan pada musim panas tahun depan, yaitu sekitar dua tahun, sesuai dengan rencana awal yang telah kita bicarakan sebelumnya.
Segalanya berjalan sangat baik di sini. Saya memiliki banyak pekerjaan dan bekerja keras, jadi saya terus melukis dengan giat.
Theo Molkenboer
7 Desember 1911
Yang terhormat dalam Kristus, Pater P.C.,
Sangat sibuk di bagian lukisan! Namun saya kirimkan beberapa baris ini. Akan terlambat kiranya jika ditujukan hingga sekitar September 1912, semoga saya masih hidup. Terima kasih atas perhatian dan upaya yang telah Anda berikan kepada kami, pada hari Minggu dalam Misa Kudus, baik sebagai bantuan maupun dukungan bagi pekerjaan baik ini.
Hal ini memberi kami kegembiraan yang tulus, karena sejak 8 Oktober kami telah berada di jalur yang baik, dan semuanya tampak telah diselesaikan dengan sangat baik oleh Yang Mulia. Kesulitan-kesulitan mengenai tembok kini telah teratasi, dan kami bersama-sama dapat mulai menempatkan (lukisan) di sana.
Itu sangat memuaskan! Di sini kami memerlukan waktu dan dana, namun semangat tetap besar; kini semuanya berjalan lancar di bengkel. Jika semuanya selesai, mungkin pada hari Minggu dalam Misa Kudus, semuanya akan diberkati.
Segalanya baik, dan semoga hasil akhirnya menyenangkan Anda. Kami menemukan bahwa pekerjaan lukisan itu sungguh indah, dan kami menerima banyak berkat pada penyelesaian kapel. Dan kami akan menghitung dan menyebut banyak hal dari Anda semua di sini.
Sungguh disayangkan bahwa Tuan H.C. Roest tidak tetap dalam kesehatan yang baik. Ia, kami pikir, bekerja terlalu keras. Berita itu telah saya dengar di Batavia, bahwa ia telah berangkat dari Belanda dalam keadaan sakit. Apakah ia sempat berpamitan dengan Anda?
Dengan banyak salam hangat, kepada Anda dan semua, dengan salam Natal,
J.M. de Cordt
N.J. van der Chijs
F.L. Lempke
P. C. de Jong - 9 Mei 1912
Weltevreden, 9 Mei 1912
Yang terhormat dalam Kristus, Pater P.C.,
Saya sungguh menyesal tidak menulis lebih cepat, maka kini izinkan saya menyampaikan beberapa baris tentang bengkel seni. Pengiriman pertama tiba di pastoran pada hari Senin Paskah; saya kira Anda sedang sibuk – Pater van Asseldonk telah memberi tahu Anda. Pater itu sendiri telah menandai keempat belas panel; ukuran panel adalah 2,40 × 1,20 meter, kemudian menjadi setengahnya. Saya tentu telah berjanji untuk segera mengirim relief-relief yang diminta. Sebagian sudah selesai di sini, setengahnya sudah diberi warna polikrom pada tanggal 9 atau 10 April, di bawah nomor 30, dan telah dikirim ke Batavia.
Keadaannya baik dan kapel tinggi Santo Antonius sudah mencapai ketinggian. Dasar altar sudah selesai, atau mungkin sudah dikerjakan ulang oleh pembuatnya. Para pekerja di Den Bosch juga telah mengirim dua peti. Pater telah mengatakan bahwa panel pertama berjalan dengan sangat baik. Tiga relief pertama saya selesaikan untuk pater dalam waktu sangat singkat — masing-masing tiga hari, dan semuanya segera berhasil baik — dan pada bulan September seluruhnya akan selesai, dengan indah. Ketiga relief pertama bagus, dan pater berbicara dengan sangat baik tentangnya.
Untuk lukisan dinding di dua dinding lainnya, dengan dibuat lebih sederhana dan tidak seluruhnya polikrom, akan terdiri dari delapan panel ukuran kira-kira4,50 × 4,00 meter; di bagian puncak (atap runcing) dihiasi dengan beberapa ornamen tambahan. Dengan demikian itu menjadi tiga dekorasi yang sangat indah.
Dari yang terakhir (yang ke-14) hanya tersisa gambar rancangan, dan pater lebih suka jika saya meninjaunya sendiri. Dari keempat belas panel (8 × 3), sepuluh berhasil sempurna; tiga relief sebagian terlalu lunak, dan sebagian rusak. Sekarang semuanya telah diperbaiki, dan saya memperkirakan sekitar pertengahan Juni semuanya akan selesai. Delapan relief bagian bawah (dinding bawah) telah dikirim; empat bagian atas masih dikerjakan. Lukisan dinding (untuk kapel) kini sudah seluruhnya selesai, dan hasilnya sungguh luar biasa indah.
Pewarnaan polikrom untuk relief bagian atas (St. Fransiskus dan St. Klara) sedang dikerjakan, dan saya berharap selesai sebelum pertengahan Juni. Tiga relief polikrom yang telah saya kerjakan di sini sudah saya kirimkan kepada Bapa Anda pada bulan Februari; sisanya akan menyusul segera setelah selesai sepenuhnya. Saya berharap pater puas dengan pekerjaan ini sebagaimana perkembangannya, dan bahwa gereja akan berbangga karenanya.
Dengan banyak salam hangat kepada Anda, pater yang terhormat, dan semua dalam Kristus, Hamba Anda dalam Kristus,
P. C. de Jong
Ramakers 10 Maret 1915
10 Maret 1915
Kepada Yang Sangat Terhormat Pater Dykmans,
Pintu atau pelat logam untuk tabernakel altar gereja di Batavia sedang dikerjakan di Tilburg oleh Tuan Heynr. Hamers. Bagian tersebut sedang dipoles dengan baik dan akan disepuh emas dengan rapi.
Awalnya kami telah memutuskan agar ukiran (gravering) tersebut dilapisi dengan enamel, namun Tuan Hamers menulis kepada kami bahwa bahan enamel dapat larut atau merusak lapisan emas apabila dibiarkan terlalu lama, dan karena itu ia menganggap lebih baik untuk tidak memberi enamel pada ukiran, melainkan membiarkan ukiran tersebut tanpa warna, hanya berupa goresan emas saja.
Sebelum kami memberikan jawaban kepadanya, kami ingin terlebih dahulu mengetahui pendapat Anda mengenai hal ini, dan akan sangat menyenangkan bagi kami apabila dapat menerima kabar dari Anda sesegera mungkin.
Dengan segala hormat,
Kami yang selalu siap melayani,
J.W. Ramakers dan putra
(Pematung dan pembuat perlengkapan gereja)
*) Semua gambar dan surat telah direstorasi dari arsip asli milik KADOC KU Leuven. Tidak boleh digunakan untuk keperluan komersil.
Rangkaian Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia
Studi Arsip Bangunan Bersejarah KADOC KU Leuven Belgia
Bangunan bersejarah bukan sekadar objek fisik dari masa lalu, tetapi juga rekam jejak budaya, teknologi, dan nilai-nilai sosial yang membentuk identitas suatu tempat. Setiap elemen arsitektur—mulai dari bentuk, material, hingga tata ruang—menyimpan makna yang lahir dari konteks zamannya.
Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia
Bangunan bersejarah bukan sekadar objek fisik dari masa lalu, tetapi juga rekam jejak budaya, teknologi, dan nilai-nilai sosial yang membentuk identitas suatu tempat. Setiap elemen arsitektur—mulai dari bentuk, material, hingga tata ruang—menyimpan makna yang lahir dari konteks zamannya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah bangunan menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum melakukan pekerjaan konservasi, renovasi, atau modernisasi.
Tanpa pemahaman sejarah yang memadai, intervensi arsitektural berisiko menghilangkan keaslian dan makna historis bangunan. Studi dokumentasi, analisis periode pembangunan, serta penelusuran transformasi fungsional membantu arsitek dan insinyur menentukan batas antara pelestarian dan pembaruan.
Konservasi yang bertanggung jawab tidak hanya menjaga bentuk fisik, tetapi juga melestarikan nilai-nilai simbolik dan pengalaman ruang yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami sejarahnya secara utuh, upaya renovasi atau modernisasi dapat dilakukan secara sensitif—menghadirkan harmoni antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa kini.
Tentang KADOC
KADOC adalah Pusat Dokumentasi dan Penelitian Antarfakultas tentang Agama, Budaya, dan Masyarakat di KU Leuven. Didirikan pada tahun 1976, KADOC tidak hanya menjadi salah satu lembaga warisan budaya terkemuka di Belgia, tetapi juga merupakan pusat internasional untuk studi mengenai interaksi antara agama, budaya, dan masyarakat pada abad ke-19 dan ke-20.
KADOC menyimpan dan mengelola koleksi arsip, data, serta warisan budaya yang sangat luas, yang muncul dari dinamika hubungan antara agama, budaya, dan masyarakat dalam konteks Belgia, Eropa, dan global. Pada tahun 2019, koleksi warisan KADOC mencakup 34,5 kilometer linier unit arsip, 300.000 buku, dan 16.500 terbitan berkala.
KADOC menyimpan dan mengelola koleksi arsip, data, serta warisan budaya yang sangat luas, yang muncul dari dinamika hubungan antara agama, budaya, dan masyarakat dalam konteks Belgia, Eropa, dan global. Pada tahun 2019, koleksi warisan KADOC mencakup 34,5 kilometer linier unit arsip, 300.000 buku, dan 16.500 terbitan berkala.
Tentang KU Leuven
Universitas yang kini dikenal sebagai KU Leuven didirikan berdasarkan bulla kepausan Sapientie immarcessibilis, yang dikeluarkan oleh Paus Martinus V pada 9 Desember 1425, setelah kota Leuven mengajukan permohonan untuk mendirikan universitas tersebut dengan dukungan dari John IV, Adipati Brabant, serta klerus kota Leuven.
KU Leuven akan merayakan ulang tahunnya yang ke-600 pada tahun 2025, menjadikannya salah satu universitas tertua di Eropa. Institusi ini memiliki dua kehormatan sekaligus: sebagai universitas tertua di wilayah Low Countries (Belgia dan sekitarnya) dan universitas Katolik tertua yang masih berdiri di dunia.
Rangkaian Studi Arsip Bangunan Bersejarah Indonesia di KADOC KU Leuven Belgia