Blog Studi Lapangan Fisika Bangunan
Iklim → Alam → Manusia → Budaya → Arsitektur → Perkotaan
Kumpulan studi lapangan mengenai iklim, alam, arsitektur, dan perkotaan dari perspektif fisika bangunan.
Temukan bagaimana kondisi lingkungan, budaya lokal, dan strategi desain memengaruhi kenyamanan, kesehatan, efisiensi energi, dan kinerja bangunan.
Menyaksikan Konser Ian Anderson Jethro Tull di Laeiszhalle Hamburg
Bagaimana suara musik progressive rock apabila dimainkan di ruang konser hall klasik?
Hamburg Musikhalle dibuka untuk umum pada tanggal 4 Juni 1908. Pada saat itu gedung konser ini merupakan konser hall terbaru dan terbesar yang dimiliki oleh negara Jerman. Gedung konser bergaya Baroque Revival ini dirancang oleh arsitek Martin Haller. Kemudian gedung konser ini namanya diubah menjadi Laeiszhalle sesuai nama pendirinya yaitu Ferdinand Laeisz yang merupakan pemilik perusahaan perkapalan terbesar di Hamburg.
Walaupun saat ini Hamburg telah memiliki gedung konser yang lebih besar dan lebih modern yaitu Elbphilharmonie, banyak dari pecinta musik klasik yang saya ajak bicara sewaktu menonton pertunjukan musik di Elbphilharmonie dan di Laeiszhalle, mengatakan bahwa mereka lebih menyukai karakter akustik di Laeiszhalle karena lebih hangat (warm) dibandingkan dengan Elbphilharmonie yang kering, detail dan unforgivable.
Sayangnya pada tanggal 13 Oktober 2022 tidak ada pertunjukan musik klasik, melainkan pertunjukan musik progresive rock Legendaris Ian Anderson - Jethro Tull. Saya memesan the best seat dan kebetulan mendapatkan tempat duduk persis dibelakang sound engineer Jethro Tull yang bertugas. Sempat ngobrol-ngobrol tentang kesulitan dia mengatur suara musik Rock di gedung konser yang karakter akustiknya tidak cocok untuk pertunjukan musik dengan amplikasi elektronik.
Bagaimana suara musik progressive rock terdengar di dalam ruang konser musik klasik yang memiliki reverberation time cukup tinggi?
Berikut adalah rekaman video lagu terakhir yang diperbolehkan oleh penyelenggara untuk direkam. Saya merekam persis di belakang sound engineer dan assistent yang yang menjaga level suara tidak melebihi 90 dBA, dan paling kiri stage lighting operator yang membuat pertunjukan penuh dengan warna.
Suara setiap alat musik terdengar cukup balance, hanya suara drum akustik yang terdengar agak berantakan karena pantulan akustik yang tidak dapat dikendalikan oleh sound engineer.
Locomotive Breath adalah istilah yang menggambarkan suara cus cus locomotive penggerak batubara. Lagu ini dikarang oleh Ian Anderson akan kekuatirannya terhadap ledakan populasi manusia yang tidak terkendali.
Mengamati Arsitektur dan Akustik Gedung Konser Hamburg Laeiszhalle
October 2022
Di jantung kota Hamburg, Laeiszhalle berdiri seperti potongan waktu yang terjaga. Ketika dibuka pada tahun 1908, gedung konser ini menjadi yang terbesar dan paling modern di Jerman. Ia dibangun sebagai hadiah budaya dari keluarga pengusaha kapal terkenal, Carl Heinrich Laeisz, yang mewariskan dana untuk pembangunan “gedung musik bagi kota”.
Setiap bata dan lengkungannya membawa semangat Hamburg pada masa itu—sebuah kota pelabuhan yang kaya, ambisius, dan ingin menegaskan dirinya sebagai pusat seni Eropa. Arsiteknya, Martin Haller dan Erwin Meerwein, merancang gedung ini dengan gaya Baroque Revival: besar, simetris, penuh ornamen, dan berwibawa. Namun di balik kemegahan dekoratifnya, tersembunyi logika ruang dan teknologi akustik yang jauh mendahului zamannya.
Pada saat pengunjung melangkah masuk ke Großer Saal, udara seakan berubah. Ruangan besar berbentuk “shoebox” ini dirancang dengan prinsip klasik ruang konser Eropa—proporsi panjang, tinggi, dan lebar yang presisi untuk menciptakan reverberation time alami yang hangat dan musikal. Balok langit-langit tinggi, panel kayu, dan relung-relung dekoratif bukan sekadar ornamentasi; semuanya berfungsi sebagai difusor akustik pasif, memecah gelombang suara agar tersebar merata.
Di sepanjang dinding, permukaan kayu dan plester berukir menciptakan kombinasi pantulan awal dan difusi halus. Elemen-elemen itu menghasilkan kejelasan suara vokal, namun tetap memelihara kaya warna untuk musik orkestra. Tidak mengherankan jika Laeiszhalle menjadi favorit para konduktor legendaris dari Wilhelm Furtwängler hingga Otto Klemperer.
Struktur bangunannya sendiri adalah perpaduan batu bata dan rangka baja awal abad ke-20, dirancang untuk menahan beban bangunan dan beban audiens tanpa kehilangan kenyamanan termal. Sistem jendela tinggi dan foyer luas dirancang untuk ventilasi alami, sebuah inovasi pada era pra-AC.
Mengamati Kehidupan di Kota Pedesaan Bad Berleburg
Fotografi Pemandangan Kota Musim Gugur - Oktober 2022
Mengamati Kehidupan Arsitektur dan Lingkungan Kota Köln Jerman
Fotografi Pemandangan Kota dan Kehidupan Jalanan - Oktober 2022
Mengamati Kehidupan Arsitektur dan Lingkungan di Frankfurt Jerman
Fotografi Pemandangan Kota dan Kehidupan Jalanan - Oktober 2022
Mengamati Sejarah Arsitektur Cologne Cathedral
Cologne Cathedral is a High Gothic five-aisled basilica (144.5 m long), with a projecting transept (86.25 m wide) and a tower façade (157.22 m high). The nave is 43.58 m high and the side-aisles 19.80 m. Begun in 1248, the building of this Gothic masterpiece took place in several stages and was not completed until 1880. Over seven centuries, its successive builders were inspired by the same faith and by a spirit of absolute fidelity to the original plans.
Cologne Cathedral is a High Gothic five-aisled basilica (144.5 m long), with a projecting transept (86.25 m wide) and a tower façade (157.22 m high). The nave is 43.58 m high and the side-aisles 19.80 m. Begun in 1248, the building of this Gothic masterpiece took place in several stages and was not completed until 1880. Over seven centuries, its successive builders were inspired by the same faith and by a spirit of absolute fidelity to the original plans.
Mengamati Karya Seni di Dalam Gereja Katedral Jakarta
Architectural Acoustics Photostory - Juli 2022
Mimbar Keong
Sebelum ditemukan Teknologi Audio seperti Amplifikasi Suara Elektronik melalui Loudspeaker, Mimbar Keong digunakan oleh pastor untuk menyampaikan homili di Gereja dengan arstitektur Gothic. Gereja Katedral dengan arsitektur bergaya Neo Gothic selesai dibangun pada tahun 1901 juga memiliki Mimbar Keong.
Tantangan pada gereja Neo Gothic yang elemen arsitekturnya utamanya adalah batu dan kaca di mana material tersebut sangat memantulkan suara, membuat suara ucapan Pastor menjadi tidak jelas karena tertumpuk oleh suara echo yang repetitif dan dengung yang panjang.
Mimbar keong dirancang untuk mengatasi hal tersebut, plafon miring cekung di atas mimbar keong ini berfungsi untuk mengeraskan dan mengarahkan suara pastor secara alami ke area umat, serta mengurangi efek pantulan energi suara yang naik ke plafon.
Mengamati Bangunan Tua Vihara Toa Se Bio Dharmajaya Jakarta
Juli 2022
Vihara bersejarah Toa Se Bio dibangun sekitar tahun 1755. Kata Toa berarti besar, Se berarti sejarah, dan Bio berarti Klenteng. Jadi Toa Se Bio berarti klenteng yang dibangun untuk mengingat sejarah besar.
Elemen arsitektur vihara ini di dominasi oleh beton dan kayu dengan warna dominan merah. Terdapat banyak ornamen naga yang melilit di beberapa bagian bangunan. Cahaya lilin yang melambangkan harapan dan lampion yang melambangkan penerangan jalan kehidupan selalu menyala sepanjang waktu.
Mengapa Bandara Membutuhkan Konsultan Airport Lighting Design dan Daylighting?
Airport Lighting Design bukan hanya tentang memasang lampu, tetapi tentang merancang pengalaman visual yang aman, nyaman, dan efisien bagi jutaan penumpang.
Melalui studi berbagai bandara internasional seperti Paris Charles de Gaulle, Amsterdam Schiphol, Tokyo Haneda, dan Luxembourg Findel, artikel ini menjelaskan bagaimana Daylighting Simulation, Lighting Modeling, dan Building Physics membantu menciptakan terminal bandara yang lebih hemat energi, bebas silau, nyaman secara visual, serta memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik.
Temukan mengapa menggunakan jasa konsultan Special Lighting Indonesia sejak tahap perencanaan merupakan investasi strategis bagi keberhasilan proyek bandara modern.
Pelajaran dari Bandara Udara Internasional yang saya kunjungi, bagaimana Lighting Modeling dan Daylighting Simulation Menciptakan Terminal Bandara yang Nyaman, Hemat Energi, dan Berorientasi pada Pengalaman Penumpang.
Bandara Udara merupakan salah satu jenis bangunan publik yang paling kompleks di dunia. Setiap hari, ribuan penumpang mengandalkan pencahayaan untuk membaca informasi penerbangan, menemukan arah di terminal yang belum dikenal, menjalani proses pemeriksaan keamanan, melakukan check-in, mengambil bagasi, berbelanja, menikmati makanan, hingga berjalan dengan nyaman menuju gerbang keberangkatan.
Namun, airport lighting design memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan penerangan.
Desain pencahayaan yang dirancang dengan baik mampu menciptakan rasa aman, mengurangi kelelahan visual, menurunkan tingkat stres, meningkatkan pengenalan ruang dan arah (wayfinding), memudahkan untuk membaca informasi jadwal keberangkatan atau kedatangan, dan sekaligus menonjolkan identitas arsitektur sebuah terminal.
Pencahayaan yang tepat mampu mengubah bandara udara dari sekadar fasilitas transportasi menjadi ruang publik yang nyaman, ramah, dan berkesan. Mewujudkan seluruh tujuan tersebut tidak cukup hanya dengan memilih armatur atau lampu yang menarik. Dibutuhkan Airport Lighting Design yang berbasis ilmu pengetahuan serta didukung oleh Lighting Modeling dan Daylighting Simulation yang akurat.
Apa Itu Lighting dan Daylighting Desain, Modeling dan Simulasi?
Lighting Modeling adalah proses ilmiah untuk memprediksi bagaimana pencahayaan alami (daylight) maupun pencahayaan buatan akan bekerja di dalam sebuah bangunan sebelum proses konstruksi dimulai.
Melalui perangkat lunak simulasi yang canggih, seorang Konsultan Pencahayaan dapat mengevaluasi berbagai parameter penting, antara lain:
Tingkat pencahayaan (Illuminance/Lux)
Ketersediaan cahaya alami sepanjang tahun
Risiko silau (glare)
Keseragaman distribusi pencahayaan
Kenyamanan visual (visual comfort)
Konsumsi energi pencahayaan
Integrasi antara cahaya alami dan pencahayaan buatan
Kepatuhan terhadap standar pencahayaan internasional
Dengan pendekatan ini, keputusan desain tidak lagi didasarkan pada perkiraan atau persepsi visual semata, melainkan pada data ilmiah yang mampu mengoptimalkan pengalaman pengguna sekaligus meningkatkan performa bangunan.
Mengapa Lighting dan Daylighting Design Modeling Simulation Sangat Penting untuk Bandara Udara?
Berbeda dengan gedung perkantoran atau hunian, bandara udara beroperasi hampir tanpa henti selama 24 jam dengan kondisi lingkungan yang selalu berubah.
Penumpang datang pada pagi yang cerah, siang yang mendung, hujan lebat, sore hari, malam, hingga dini hari. Oleh karena itu, Airport Lighting Design harus mampu memberikan kualitas pencahayaan yang konsisten pada setiap kondisi cuaca maupun waktu.
Lebih dari sekadar memenuhi standar tingkat pencahayaan (lux), desain pencahayaan modern harus mempertimbangkan bagaimana berbagai parameter seperti intensitas cahaya, distribusi luminansi, keseragaman pencahayaan (uniformity), silau (glare), temperatur warna (correlated color temperature), indeks reproduksi warna (Color Rendering Index/CRI), arah datang cahaya, kontras visual, hingga dinamika cahaya alami sepanjang hari memengaruhi manusia secara menyeluruh.
Berbagai penelitian di bidang Fisika Bangunan, Psikologi Lingkungan, Neuroscience, dan Human-Centered Lighting menunjukkan bahwa kualitas pencahayaan berpengaruh terhadap kemampuan kognitif seperti konsentrasi, orientasi ruang (wayfinding), pengambilan keputusan, dan kecepatan memproses informasi. Di saat yang sama, pencahayaan juga memengaruhi kondisi emosional dengan menciptakan rasa aman, nyaman, tenang, atau sebaliknya menimbulkan stres dan kecemasan.
Secara fisiologis, paparan cahaya berperan dalam mengatur ritme sirkadian, produksi hormon melatonin dan kortisol, tingkat kewaspadaan, kelelahan mata, hingga kualitas tidur bagi penumpang maupun staf bandara yang bekerja secara bergantian selama 24 jam. Oleh karena itu, Lighting Modeling dan Daylighting Simulation tidak hanya bertujuan menghasilkan bangunan yang terang dan hemat energi, tetapi juga menciptakan lingkungan bandara yang mendukung kesehatan fisik, kesejahteraan mental, performa kognitif, dan pengalaman pengguna secara keseluruhan.
Tanpa Lighting Modeling dan Daylighting Simulation, sebuah terminal bandara udara berpotensi mengalami berbagai permasalahan sebagai berikut.
Silau Berlebihan Akibat Skylight atau Curtain Wall
Bayangkan Anda baru saja turun dari pesawat setelah penerbangan selama belasan jam. Mata masih lelah, tetapi ketika memasuki area kedatangan, sinar matahari yang masuk melalui skylight atau fasad kaca langsung mengenai mata Anda. Selama beberapa detik, layar informasi penerbangan dan papan petunjuk menjadi sulit terlihat karena silau yang berlebihan.
Situasi seperti ini bukan sekadar membuat tidak nyaman. Di berbagai forum perjalanan seperti Reddit, Tripadvisor, hingga ulasan Google Maps, banyak penumpang mengeluhkan area terminal yang "terlalu terang", "menyilaukan", atau "sulit melihat layar informasi ketika matahari sedang terik". Penyebabnya bukan karena penggunaan kaca atau skylight, melainkan karena Airport Lighting Design yang tidak didukung oleh Daylighting Simulation sejak tahap perancangan.
Melalui simulasi pencahayaan, konsultan dapat memprediksi arah datangnya matahari sepanjang tahun, menghitung potensi glare, serta menentukan ukuran, orientasi, dan sistem shading yang paling optimal sebelum bangunan dibangun.
Area Sirkulasi yang Terlalu Gelap
Di sisi lain, tidak sedikit terminal bandara udara yang justru memiliki koridor atau area perpindahan antargerbang yang terasa suram. Meskipun secara teknis tingkat pencahayaan mungkin masih memenuhi standar minimum, persepsi pengguna sering kali berbeda.
Area yang terlalu gelap dapat menimbulkan rasa tidak aman, terutama bagi penumpang yang bepergian pada malam hari, lansia, atau keluarga dengan anak kecil. Dalam dunia psikologi lingkungan, ruang publik yang kurang terang cenderung diasosiasikan dengan kondisi yang kurang aman, kurang bersih, dan kurang nyaman.
Banyak ulasan penumpang di internet menggambarkan pengalaman seperti, "The terminal felt gloomy," atau "Some corridors looked abandoned." Padahal masalah tersebut sering kali dapat dihindari melalui Lighting Modeling yang memperhitungkan persepsi visual manusia, bukan sekadar angka lux di atas kertas.
Distribusi Cahaya yang Tidak Merata
Sering kali sebuah terminal terlihat terang secara keseluruhan, tetapi ketika berjalan beberapa meter, penumpang berpindah dari area yang sangat terang ke area yang jauh lebih gelap.
Perubahan kontras yang ekstrem memaksa mata terus beradaptasi. Dalam jangka pendek mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi pada terminal yang sangat besar kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan visual (visual fatigue).
Fenomena ini sering ditemukan pada bangunan yang hanya mengandalkan skylight tanpa mempertimbangkan distribusi cahaya alami secara menyeluruh. Itulah sebabnya Daylighting Simulation tidak hanya menghitung seberapa banyak cahaya masuk ke dalam bangunan, tetapi juga bagaimana cahaya tersebut tersebar secara merata di seluruh ruang.
Bandara udara kelas dunia seperti Amsterdam Schiphol maupun Tokyo Haneda menunjukkan bahwa kualitas pencahayaan tidak diukur dari seberapa terang ruang tersebut, melainkan dari seberapa konsisten distribusi cahayanya.
Kenyamanan Visual yang Buruk
Pencahayaan yang buruk tidak selalu berarti terlalu gelap atau terlalu terang.
Terkadang masalahnya berasal dari kombinasi berbagai faktor seperti pantulan cahaya pada lantai mengilap, layar digital yang terkena cahaya matahari langsung, atau kontras berlebihan antara area terang dan area gelap.
Akibatnya, mata penumpang harus terus menyesuaikan fokus selama berjalan di terminal. Setelah perjalanan panjang, kondisi ini dapat meningkatkan rasa lelah, sakit kepala, bahkan memperburuk pengalaman perjalanan secara keseluruhan.
Berbagai penelitian mengenai Human-Centered Lighting menunjukkan bahwa kualitas pencahayaan memiliki pengaruh langsung terhadap kenyamanan visual, tingkat stres, hingga persepsi seseorang terhadap kualitas sebuah bangunan.
Konsumsi Energi yang Lebih Tinggi
Kesalahan desain pencahayaan bukan hanya berdampak pada kenyamanan pengguna, tetapi juga pada biaya operasional yang harus ditanggung pengelola bandara udara selama puluhan tahun.
Tanpa Daylighting Simulation, banyak bangunan akhirnya memasang lampu dengan jumlah berlebihan karena khawatir area tertentu menjadi gelap. Ironisnya, pada siang hari cahaya matahari sudah sangat melimpah, tetapi seluruh lampu tetap menyala karena sistem pencahayaan tidak dirancang untuk berintegrasi dengan cahaya alami.
Di sisi lain, skylight yang terlalu besar tanpa analisis radiasi matahari juga dapat meningkatkan beban pendinginan (cooling load) sehingga konsumsi energi HVAC ikut meningkat.
Melalui Lighting Modeling dan simulasi energi bangunan, konsultan dapat menemukan keseimbangan terbaik antara cahaya alami, pencahayaan buatan, dan efisiensi energi.
Kesulitan Membaca Signage dan Informasi Penerbangan
Bandara udara merupakan lingkungan yang sangat bergantung pada informasi visual.
Penumpang harus mampu menemukan nomor gerbang, membaca jadwal keberangkatan, melihat papan petunjuk, serta mengenali arah menuju imigrasi, bagasi, maupun area transportasi.
Bayangkan apabila layar informasi terkena pantulan cahaya matahari sehingga tulisan menjadi sulit dibaca. Atau papan petunjuk berada pada area yang terlalu gelap sehingga tidak terlihat dari kejauhan.
Keluhan seperti "Couldn't read the departure board because of glare" atau "The signage was difficult to see" cukup sering ditemukan pada ulasan penumpang di berbagai bandara udara di dunia.
Masalah tersebut sebenarnya dapat diprediksi melalui simulasi luminansi, analisis glare, dan evaluasi kontras visual sebelum proyek dibangun.
Masalah-masalah tersebut sering kali sangat mahal bahkan hampir mustahil diperbaiki setelah bangunan selesai dibangun.
Belajar dari Airport Lighting Design di Bandara Udara Internasional
Paris Charles de Gaulle Airport
Koridor kedatangan di Paris Charles de Gaulle Airport menunjukkan bagaimana bukaan atap dirancang secara cermat untuk menghadirkan cahaya alami yang melimpah tanpa menimbulkan silau yang mengganggu.
Hasilnya adalah pengalaman kedatangan yang terasa terang, luas, dan nyaman secara visual sepanjang hari.
Baca studi lengkap: Daylighting Arsitektur Pencahayaan Alami di Aiport Charles de Gaulle Airport Paris, Perancis.
Amsterdam Schipol Airport
Amsterdam Schiphol Airport menggunakan skylight yang memanjang di sepanjang area sirkulasi utama sehingga cahaya alami dapat menerangi terminal hampir sepanjang hari.
Melalui Daylighting Simulation, pencahayaan alami dan pencahayaan buatan diintegrasikan secara optimal sehingga tetap memberikan kenyamanan visual dari pagi hingga malam, baik saat cuaca cerah maupun mendung, sekaligus mengurangi konsumsi energi.
Baca studi lengkap: Architectural Lighting and Daylighting di Aiport Amsterdam Schiphol
Tokyo Haneda Airport
Tokyo Haneda Airport memanfaatkan sistem bukaan atap kontinu yang memasukkan cahaya alami jauh ke dalam terminal.
Salah satu inovasi teknik yang paling menarik adalah penggunaan skylight berukuran besar yang dipadukan dengan sistem diffuser cahaya.
Jendela clerestory yang memanjang di bagian atas fasad menghadirkan cahaya alami yang lembut dan merata, sementara lampu sorot berwarna hangat pada struktur atap melengkapi pencahayaan alami tersebut. Perpaduan ini menciptakan transisi yang halus antara cahaya alami dan pencahayaan buatan tanpa menghasilkan kontras yang tajam.
Baca studi lengkap: Architectural Lighting and Daylighting at Tokyo Haneda Airport.
Luxembourg Findel Airport
Di Luxembourg Findel Airport, skylight dipasang dengan sudut kemiringan yang dihitung secara presisi untuk mengoptimalkan masuknya cahaya matahari sekaligus membatasi panas matahari yang berlebihan.
Strategi Daylighting Design ini tidak hanya menghasilkan distribusi cahaya yang merata, tetapi juga membantu mengurangi beban sistem HVAC pada musim panas maupun musim dingin sehingga meningkatkan efisiensi energi bangunan secara keseluruhan.
Baca studi lengkap: Architectural Lighting and Daylighting at Luxembourg Findel Airport.
Mengapa Menggunakan Jasa Lighting Consultant Sangat Penting?
Sering kali pencahayaan dianggap hanya sebagai elemen akhir dari desain arsitektur.
Padahal, pencahayaan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan bagaimana manusia merasakan sebuah bangunan.
Seorang Lighting Engineering Consultant tidak hanya memilih jenis lampu, tetapi mengintegrasikan konsep arsitektur, persepsi visual manusia, fisika bangunan (Building Physics), efisiensi energi, dan teknologi simulasi untuk menciptakan ruang yang fungsional, nyaman, efisien, sekaligus memiliki kualitas arsitektur yang tinggi.
Pada bangunan bandara udara, pendekatan ini memberikan berbagai manfaat seperti:
meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan penumpang;
memperbaiki sistem wayfinding dan orientasi ruang;
mengurangi silau dan kelelahan mata;
meningkatkan rasa aman;
menurunkan biaya operasional energi;
memperkuat kualitas arsitektur terminal; serta
meningkatkan nilai investasi bangunan dalam jangka panjang.
Biaya menggunakan jasa Lighting Consultant pada tahap perencanaan relatif kecil dibandingkan manfaat operasional yang diperoleh selama umur bangunan.
Singapore Changi Airport
Salah satu contoh terbaik bagaimana Lighting Design dan Daylighting Design memberikan nilai tambah terhadap pengalaman pengguna dapat dilihat pada Changi Airport di Singapura. Selama bertahun-tahun, Changi Airport secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu bandara terbaik di dunia karena tidak hanya unggul dalam efisiensi operasional, tetapi juga berhasil menciptakan pengalaman ruang yang nyaman, intuitif, dan menyenangkan bagi jutaan penumpang setiap tahunnya.
Salah satu strategi desain yang paling menonjol adalah pemanfaatan cahaya alami melalui skylight berukuran besar, fasad kaca, atrium, dan ruang hijau yang dipadukan secara harmonis dengan sistem pencahayaan buatan. Hasilnya adalah terminal yang terasa terang, lapang, mudah dinavigasi, sekaligus tetap nyaman pada berbagai kondisi cuaca dan waktu operasional selama 24 jam.
Keberhasilan tersebut bukan semata-mata karena penggunaan skylight atau material kaca dalam jumlah besar, melainkan karena setiap elemen pencahayaan dirancang berdasarkan pendekatan ilmiah melalui analisis Fisika Bangunan, Lighting Modeling, dan Daylighting Simulation. Berbagai parameter seperti distribusi cahaya alami, potensi silau (glare), keseragaman pencahayaan (uniformity), kenyamanan visual, orientasi penumpang (wayfinding), hingga efisiensi energi dianalisis sejak tahap perancangan.
Pendekatan inilah yang memungkinkan Changi Airport menghadirkan lingkungan yang mendukung kenyamanan kognitif dan emosional penumpang, mengurangi kelelahan selama perjalanan, serta memperkuat identitas arsitektur bandara sebagai sebuah destinasi, bukan sekadar tempat transit.
Kesuksesan Changi menunjukkan bahwa investasi pada Lighting Design dan Daylighting Design bukan hanya meningkatkan kualitas bangunan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kepuasan penumpang, citra bandara, dan daya saing internasional.
Baca studi lengkap: https://herwingunawan.work/observe/memahami-desain-daylight-dinamis-butterfly-roof-changi-airport
Berinvestasi pada Kinerja Bangunan, Bukan Memperbaiki Kesalahan
Tahap perencanaan merupakan kesempatan terbaik untuk meningkatkan performa sebuah bangunan.
Masih banyak pemilik proyek yang menganggap Lighting Modeling dan Daylighting Simulation hanya akan menambah biaya dan memperlambat proses desain.
Faktanya, simulasi pencahayaan justru membantu menghindari perubahan desain yang mahal ketika proyek sudah memasuki tahap konstruksi atau bahkan setelah bangunan mulai beroperasi.
Melalui simulasi, arsitek dan insinyur dapat mengoptimalkan ukuran skylight, bukaan fasad, tata letak lampu, sistem kontrol pencahayaan, serta performa energi sejak awal proyek. Pendekatan ini menghasilkan keputusan desain yang lebih tepat, efisien, dan hemat biaya.
Bangunan publik berkualitas tidak hanya ditentukan oleh bentuk arsitekturnya yang ikonik, tetapi juga oleh seberapa baik bangunan tersebut melayani kebutuhan penggunanya setiap hari.
Human-Centered Building Performance oleh ALTA Integra
Di ALTA Integra, kami percaya bahwa bangunan terbaik lahir dari integrasi antara arsitektur, rekayasa teknik, dan Fisika Bangunan.
Sebagai konsultan multidisiplin Human-Centered Building Performance, dan Special Lighting Indonesia kami menggabungkan keahlian dalam Airport Lighting Design, Architectural Lighting Design, Daylighting Simulation, rekayasa akustik, desain pasif bangunan, sistem audiovisual, teknologi bangunan, serta sertifikasi bangunan hijau seperti LEED dan WELL untuk menciptakan bangunan yang lebih sehat, nyaman, efisien, dan berkelanjutan.
Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa kualitas lingkungan fisik—termasuk cahaya, suara, temperatur, aliran udara, dan kualitas lingkungan dalam ruang—berpengaruh langsung terhadap kesehatan, produktivitas, kemampuan kognitif, kesejahteraan emosional, serta pengalaman manusia di dalam bangunan.
Misi kami adalah membantu klien merancang bangunan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga dioptimalkan secara ilmiah melalui Airport Lighting Design, Daylighting Simulation, dan pendekatan Human-Centered Building Performance, sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi manusia, lingkungan, dan masa depan pembangunan yang berkelanjutan.
Cerita Tentang Monumen Pembebasan Irian Jaya Lapangan Banteng Jakarta
Fotografi Monumen Pembebasan Irian Barat dari Subuh hingga Pagi
- Oktober 2020 -
“The moment you change your perception is the moment you rewrite the chemistry of your body.”
Mengamati Polusi Cahaya di Pusat Bisnis Jakarta
Day to Sunset Random Street Photography di sekitar Kawasan Jakarta Sudirman
- Juni 2020 -
Mengamati Bangunan Kolonial di Daerah Kota Tua Jakarta
Berjalan di jalanan kota tua, aku menguping suara-suara masa lalu.
Trotoar yang usang, berlumut, dan berbatu bergema dengan kejayaan, kekalahan, dan kesedihan. - Juli 2020
Mendengar Konser Russian Neo-Classicism di Balai Resital Kertanegara
Ruangan Balai Resital Kartanegara agak dry utk penampilan orkes mini, akan tetapi cukup baik utk performa musik dgn tempo cepat. Sang konduktor sepertinya cukup memahami situasi ini.
Karena RT ruangan agak pendek lagu dgn tempo lambat terasa kurang blending karena sehingga perpindahan phrase antar dua alat musik terasa kurang smooth. Karena RT time pendek dan jarak menonton relatif dekat dibanding concert hall yg sungguhan, kita merasakan lebih engage dan intimate dgn musik. Level suara musik direct relatif dan early reflection lebih kuat dibandingkan level ambient reverb ruangan dan background noise.
RT yg pendek terbantu dgn presentasi low frequency dr cello dan bass yg cukup kuat sehingga musik berasa berbobot dan tidak cempreng, seperti yg saya dengar di aula simfonia jakarta yg presentasi low frequency kurang kuat.
Mengamati Santa Maria Delle Grazie Milan
Fotografi Arsitektur - Juli 2019
“Perjamuan Terakhir”
Selama Perang Dunia II pada malam tanggal 15 Agustus 1943,
sebuah bombardemen udara Sekutu menghantam gereja dan biara.
Sebagian besar ruang makan hancur, tetapi beberapa dinding selamat,
termasuk dinding yang menyimpan lukisan Perjamuan Terakhir,
yang telah dilapisi karung pasir untuk melindunginya.
Beberapa pekerjaan pelestarian dilakukan untuk menjaganya agar tetap utuh di masa mendatang.
Diyakini bahwa pekerjaan pelestarian saat ini dan di masa mendatang
akan menjaga lukisan tersebut tetap aman selama berabad-abad yang akan datang.
Mengamati Kehidupan Kota Milan
Juli 2019
Yang saya sukai dari kota-kota
adalah segalanya serba besar
keindahan dan keburukannya
- Joseph Brodsky -
Menyaksikan Opera La Traviata di Teater Terbuka Terme di Caracalla Roma
La Traviata - Roma Opera Aperta - 23 July 2019
Pada 23 Juli 2019 saya mendapat kesempatan untuk menonton Opera di udara terbuka di reruntuhan Terme Caracalla Roma yang merupakan produksi dari Teatro dell’Opera di Roma yang didukung oleh
Director: Lorenzo Mariani Conductor: Manlio Benzi Chorus Master: Roberto Gabbiani
Violetta: Valery Francesca Dotto Flora: Bervoix Irida Dragoti Annina: Rafaela Albuquerque
Alfredo: Germont Alessandro Scotto di Luzio Giorgio: Germont Marcello Rosiello
Gastone: Murat Can Güvem Baron Douphol: Roberto Accurso Marquis d’Obigny: Domenico Colaianni
Doctor Grenvil: Graziano Dallavalle Orchestra & Chorus: Teatro dell’Opera di Roma
Set designer: Alessandro Camera; Costume designer: Silvia Aymonino; Choreographic movements: Luciano Cannito; Lighting designer: Roberto Venturi; Video: Fabio Iaquone, Luca Attilii
Terme di Caracalla - sejarah berdirinya tempat permandian umum
Kagum, Indah dan Misteri adalah persepsi yang timbul saat kita berada di lokasi reruntuhan bangunan Romawi Kuno. Term di Caracalla atau Caracalla Bath adalah bangunan arsitektural permandian umum terbesar di jaman Romawi Kuno. Pada jamannya bangunan ini bernama Antonian diberikan sesuai dengan nama pendirinya yaitu Marcus Aurelius Antonino Bassiano alias Caracalla. Pemandian ini dibuka pada tahun 216 pada masa pemerintahannya, yang mungkin untuk mewujudkan ide ayahnya Settimo Severo untuk membangun tempat permandian yang dapat menampung ribuan orang sekaligus.
Terme di Caracalla, sejarah berdirinya panggung theatrical udara terbuka.
Pada 27 Juli 1937 Gubernur Roma Piero Colonna menyampaikan gagasannya eksperimentalnya yaitu membuat panggung teater terbuka di area reruntuhan pemandian Caracalla yang memiliki nilai historis. Pada 1 Agustus 1937, Maestro Oliviero de Fabritiis naik ke podium, menampilkan opera Gaetano Donizetti - Lucia of Lammermoor yang membuka tradisi opera musim panas di panggung terbuka reruntuhan Pemandian Caracalla.
La Traviata - opera oleh Giuseppe Verdi
La Traviata atau The Fallen Woman adalah opera tiga babak karya Giuseppe Verdi dan libretto dalam bahasa Itali oleh Francesco Maria Piave. Opera ini dikarang berdasarkan cerita La Dame aux Camelias yang di adaptasi dari novel Alexandre Dumas Jr. Opera asli berjudul Violetta yang didasari oleh nama tokoh utamanya. Opera ini pertama kali dipertunjukan di La Fenice Opera House di kota Venice.
Mengamati Basilika San Clemente Roma
Juli 2019
San Clemente adalah basilika pertama di Roma. Basilika ini dibangun dari rumah biasa pada abad kedua hingga abad kelima. Kemudian dibangun kembali pada tahun 1099-1120 setelah banyak hal terjadi pada bangunan tersebut. Basilika ini dinamai menurut nama San Clemente, penerus ketiga Santo Petrus Rasul. Kisah San Clemente (92-101 M) sangat sedikit. Menurut daftar uskup Roma tertua, ia adalah penerus ketiga Santo Petrus di Roma. Ia adalah penulis Surat kepada Jemaat Korintus yang ditulis sekitar tahun 96 M atas nama Gereja Roma untuk menangani gangguan di Gereja di Korintus.