Blog Studi Lapangan Fisika Bangunan
Iklim → Alam → Manusia → Budaya → Arsitektur → Perkotaan
Kumpulan studi lapangan mengenai iklim, alam, arsitektur, dan perkotaan dari perspektif fisika bangunan.
Temukan bagaimana kondisi lingkungan, budaya lokal, dan strategi desain memengaruhi kenyamanan, kesehatan, efisiensi energi, dan kinerja bangunan.
Mengamati Sejarah Arsitektur Gereja Sacre Coeur Paris
The Sacré-Cœur Basilica in Paris, France, was built as a symbol of national penance and reconciliation after the Franco-Prussian War (1870-1871) and the Paris Commune. Construction began in 1875, inspired by Romanesque and Byzantine architecture. The basilica was completed in 1914 and consecrated in 1919.
Mengamati Arsitektur Paris Arc De Triomphe Sejarah Budaya dan Tantangan Pelestarian
Paris Arc de Triomphe berfungsi pada dua level: sebagai simbol ingatan, identitas nasional dan sebagai objek fisik dalam sistem perkotaan (infrastruktur, tujuan wisata, titik fokus sirkulasi. Pendekatan konservasi modern harus menengahi keduanya—mempertahankan makna simbolik sambil merespons kebutuhan teknis perawatan bahan, manajemen kerumunan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim (mis. peningkatan malam tropis, hujan ekstrem yang dapat mempercepat degradasi batu). Integrasi antara studi sejarah seni, arsitektur konservasi, dan kebijakan ruang publik diperlukan untuk strategi jangka panjang.
Arc de Triomphe merupakan salah satu ikon urban Paris yang paling dikenal—sebuah gerbang kemenangan monumental yang berdiri di pusat Place Charles de Gaulle, titik pertemuan dua belas avenue termasuk Champs-Élysées. Monumen ini tidak hanya berfungsi sebagai tanda peringatan militer, tetapi juga sebagai panggung upacara sipil, titik ingatan kolektif, dan elemen sentral tata-ruang kota Paris.
Inisiatif mendirikan sebuah arc untuk merayakan kemenangan militer muncul pada puncak kekuasaan Napoleon setelah kemenangan Austerlitz. Peletakan batu pertama dimulai pada 15 Agustus 1806. Pembangunan berlangsung bertahap, terhenti dan dilanjutkan beberapa kali akibat perubahan rezim politik di Prancis, dan baru selesai serta diresmikan pada 29 Juli 1836 pada masa pemerintahan Louis-Philippe. Sejak masa itu Arc menjadi titik parade militer, momen kemenangan, dan ritual kenegaraan, termasuk parade 1919, 1944 dan lain-lain.
Arc de Triomphe dilihat tidak hanya dari perspektif sejarah militer, tetapi juga sebagai ruang publik yang terus hidup: wisatawan, warga Paris, veteran, serta pelaku protes dan beragam peristiwa publik sering menggunakan ruang ini. Simbolisme monumen sering dipinjam dalam representasi identitas nasional, ingatan perang, dan perdebatan politik misalnya peringatan Perang Dunia I & II. Perubahan penggunaan ruang seperti parade, ritual, hingga aksi protes menunjukkan bagaimana arti monumen ini terus mengisi ruang politik-sosial-budaya.
Architecture Arc De Triomph dirancang dalam pengaruh semangat Neo-klasik, ukuran yang besar dan monumental. Berbentuk busur tunggal yang mengambil inspirasi dari Arsitektur Romanesque tetapi diperlakukan dalam skala monumental modern. Arsitek awalnya adalah Jean-François Chalgrin; setelah kematiannya proyek dilanjutkan oleh beberapa arsitek lain hingga penyelesaian pada 1836. Proporsi, relief, dan frieze besar menunjukkan komunikasi visual yang menggabungkan narasi sejarah dan ikonografi patriotik.
Terdapat beberapa ornamen seni pahat pada keempat kaki busur, termasuk karya paling terkenal Le Départ des Volontaires de 1792, atau lebih dikenal dengan sebutan La Marseillaise. Merupakan karya François Rude (1833–1836) yang mengekspresikan figur dinamis dan patriotik—sebuah jembatan estetika antara Neo-klasisisme dan romantisisme dalam pahat publik Perancis abad ke-19. Karya-karya lain melengkapi narasi militer, kemenangan, serta pengorbanan. Analisis formal terhadap plastisitas figur, gerak, dan penempatan ikonografis menunjukkan bagaimana arsitektur dan seni terintegrasi untuk membentuk memori kolektif.
Monumen ini berada di pusat konfigurasi dodekagon 12 avenue, sehingga menjadi sumbu visual dan nodus transportasi besar. Hal ini menimbulkan tantangan konservasi—getaran, polusi udara, kebisingan lalu lintas, serta tekanan wisata—yang memerlukan strategi manajemen konservasi dan akses pengunjung. Situs resmi ini memberikan tantangan dan memerlukan kajian konservasi untuk menjaga keaslian arsitektur mulai dari pemeliharaan berkala pada permukaan batu, sistem drainase termasuk pencahayaan yang ramah lingkungan di malam hari.
Arc de Triomphe berfungsi pada dua level: sebagai simbol (ingatan, identitas nasional) dan sebagai objek fisik dalam sistem perkotaan (infrastruktur, tujuan wisata, titik fokus sirkulasi). Pendekatan konservasi modern harus menengahi keduanya—mempertahankan makna simbolik sambil merespons kebutuhan teknis perawatan bahan, manajemen kerumunan, dan adaptasi terhadap perubahan iklim (mis. peningkatan malam tropis, hujan ekstrem yang dapat mempercepat degradasi batu). Integrasi antara studi sejarah seni, arsitektur konservasi, dan kebijakan ruang publik diperlukan untuk strategi jangka panjang.
Mengamati Gereja Arsitektur Gotik Pertama Cathedral Basilica Saint Denis Paris
The Cathedral Basilica of Saint-Denis (1144) adalah Gereja yang Penting dan Legendaris di pinggiran utara kota Paris. Penting karena gereja ini juga merupakan tempat pemakaman Raja dan Ratu Perancis. Mulai dari raja Dagobert yang menjadikan Paris sebagai ibu kota negara Perancis, sampai dengan Louis XVI yang dihukum mati saat revolusi Perancis.
The Cathedral Basilica of Saint-Denis (1144) adalah Gereja yang Penting dan Legendaris di pinggiran utara kota Paris.
Penting karena gereja ini juga merupakan tempat pemakaman Raja dan Ratu Perancis. Mulai dari raja Dagobert yang menjadikan Paris sebagai ibu kota negara Perancis, sampai dengan Louis XVI yang dihukum mati saat revolusi Perancis.
Legendaris karena merupakan Gereja Pertama yang dianggap memiliki keseluruhan elemen Arsitektur Gotik yang menjamur di negara Eropa sampai dengan tahun abad ke 17. Gereja dengan arsitektur Gotik yang terkenal adalah Paris Notre-Dame, Cologne Cathedral dan Milan Duomo.
Text sebelah kiri tertulis dalam Bahasa Latin:
AEDEM UBI DENA CINIS REGUM PER SAECULA QUIERAT TEMPESTATE FURENS DIRUIT UNA DIES
SED DUM NAPOLEO REPARAT RES ORDINE CUNCTAS REDDIT TEMPLA DEO REGIBUS ET TUMULOS RURSUM PENDET OPUS NAM CONCIDIT IPSE RUINA AT QUI PERFICERET COEPTA PHILIPPUS ERAT
Kalau diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut:
Gereja ini tempat abu sepuluh raja telah beristirahat selama berabad-abad, dihancurkan oleh badai yang mengamuk dalam satu hari.
Namun ketika Napoleon memulihkan tatanan segala sesuatu, ia mengembalikan rumah-rumah ibadah kepada Tuhan dan makam-makam kepada para raja.
Namun pekerjaan itu tertunda kembali, sebab ia sendiri jatuh dalam kehancuran. Dan orang yang akhirnya menyelesaikan yang telah dimulai
adalah Philippe.
Text sebelah kanan tertulis:
AD DECUS ECCLESIE QUE FOVIT ET EXTULIT ILUM SUGGERI STUDUIT AD DECUS ECCLESIE DEO VOTUM PARTICI PANS MARTYR DIONYSI ORAT UT EXORES FORE PARTICIPEM PARADISI ANNUS MILLES SEPTEN TENS QUADRAGENS ANNUS ERA VERBI QUANDO SACRAT FUIT
Kalau diterjemahkan kurang lebih sebagai berikut:
Untuk kemuliaan Gereja, ia (Abbot Suger) yang memelihara dan meninggikannya, berusaha mendukung demi kemuliaan Gereja.
Kepada Allah ia mempersembahkan nazarnya, berpartisipasi dalam kehormatan Santo Denis sang pelindung. Berdoa agar ia diperkenankan menjadi peserta dalam surga.
Tahun seribu seratus empat puluh (1140), tahun sabda, ketika tempat ini disucikan.
Santo Denis dari Areopagus - Pelindung Gereja
Menurut Kisah Para Rasul 17:34, Dionysius (Denis) adalah seorang hakim Athena yang bertobat menjadi Kristen setelah mendengarkan Santo Paulus berkhotbah di Areopagus (Bukit Mars). Ayat tersebut berbunyi: “Tetapi beberapa orang menjadi pengikutnya dan percaya, di antaranya Dionysius, anggota Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, serta beberapa orang lain bersama mereka.” Maka secara historis, Dionysius dianggap sebagai salah satu orang pertama yang bertobat di Athena, dan tradisi kemudian menyebut bahwa ia menjadi uskup pertama di Athena.
Daylight Architecture
Desain Daylight Gereja Gothic Saint Denis terinspirasi oleh Buku The Celestial Hierarchy and Ecclesiastical Hierarchy - Santo Denis Areopagus. Buku ini berupaya menjelaskan bagaimana tatanan ilahi alam semesta tersusun — khususnya hierarki malaikat — serta bagaimana tatanan surgawi itu memantulkan dan menyalurkan cahaya serta hikmat Allah ke seluruh ciptaan.
Pada intinya Santo Denis mengemukakan bahwa: “Alam semesta adalah rantai besar pencahayaan. Cahaya Allah mengalir menurun melalui tingkatan ciptaan, dan berkat yang diterima oleh ciptaan naik kembali kepada Allah dalam kasih dan pujian.”
Gereja Gotik Pertama
Gagasan tentang cahaya ilahi (lux divina) mengilhami Abbot Suger dari Saint-Denis (abad ke-12) untuk merancang gereja Gotik pertama, dengan menggambarkan kaca patri-nya sebagai media pencerahan surgawi yang mencerminkan teologi Dionysius. Maka dari itu, Gereja Katedral Santo Denis bukan hanya sebuah makam kerajaan, tetapi juga sebuah monumen bagi teologi Santo Denis yang diwujudkan dalam batu dan cahaya.
Akustika Arsitektural
Berikut adalah rekaman akustika arsitektural Gereja Saint-Denis, yang mana pada tahun 1966 Status Gereja ini ditingkatkan menjadi Katedral. Katedral adalah gereja yang memiliki pemimpin seorang Uskup.
Sampai abad ke 20, pembangunan gereja masih sering dibangun dengan gaya Neo Gotik (Gotik dengan Elemen Arsitektur yang diperbarui). Gereja Katedral Jakarta adalah gereja dengan Arsitektur Neo Gotik.
Mengamati Gereja Apostolik Armenia Saint Gregory the Illuminator Singapore
The Armenian Apostolic Church of St. Gregory the Illuminator is the first Christian church built in Singapore in 1835. Designed by Irish architect, George D. Coleman, it is considered as one of his masterpieces.
Armenian Apostolic Church
Mengamati Arsitektur Gereja Immaculate Conception Bangkok
How do I experience architecture, light, and sound emotionally and cognitively in Immaculate Conception Church - The First Catholic Church in Bangkok?
Menyaksikan Louis Schwizgebel & Royal Bangkok Symphony OrchestRA
Thailand Cultural Centre Concert Hall
25 May 2025
Arsitektural Akustik
Berikut adalah Rekaman Audio Loius Schwizgebel dan Royal Bangkok Symphony Orchestra yang memperdengarkan karakteristik akustik ruang konser Thailand Cultural Centre
Benarkah Aula Simfonia Jakarta Memiliki Ruang Konser Terbaik di Asia?
Mempertanyakan metode penilaian Wikipedia dan Kompasiana?
Saya menulis artikel ini untuk mempertanyakan predikat Akustik Terbaik, yang menurut Wikipedia tertulis sebagai berikut:
“Aula Simfonia Jakarta yang didaulat sebagai Aula dengan Akustik terbaik se-Asia ini, umumnya menjadi tempat pementasan musik klasik dan orkes musik. ”
Sumber Wikipedia di atas dikutip dari tulisan Joseph Young di Kompasiana yang ditulis sebagai berikut .
“Indonesia Sudah Memiliki Concert Hall Terbaik di Asia”
Tulisan Wikipedia dan Kompasiana di atas dapat memberikan pemahaman yang dangkal, dimana pemberian predikat terbaik seharusnya disertai penjelasan kriteria dan metode penilaian yang jelas dan terukur.
Oleh karena itu saya tergelitik untuk membuat tulisan yang bertujuan untuk memberikan edukasi yang benar mengenai kriteria penilaian Kualitas sebuah Ruang Konser yang lebih objektif.
Kriteria Kualitas Ruang Konser
Motivasi orang untuk menyaksikan penampilan musik hidup di ruang konser adalah untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman melihat dan mendengar langsung penampilan musik, termasuk seni panggung, atraksi lampu dan multimedia dan terakhir dapat merasakan gelora emosi penonton lainnya. Untuk pertunjukan musik klasik secara umum ada dua kriteria yang dinilai yaitu: Kualitas Akustik dan Kualitas Visual.
Berikut adalah penilaian subjektif saya terhadap Kualitas Akustik dan Kualitas Visual Aula Simfonia Jakarta yang didasari pengalaman saya beberapa kali mendengar konser musik klasik di Ruang Konser Aula Simfonia Jakarta dibandingkan beberapa ruang konser di negara lain.
1. Kualitas Akustik
Salah satu daya tarik untuk mendengarkan konser hidup di sebuah Ruang Konser adalah mendapatkan sensasi emosional dari musik yang dimainkan (Roose, 2008). Pengalaman emosional yang kuat tersebut sering diberi istilah “chills”, “thrills” atau “goose bump”. Perubahaan dinamika suara merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pengalaman tersebut, seperti transisi suara crescendos di mulai dari suara lembut dan pelan-pelan menjadi kuat (Sloboda, 1991; Bannister, 2018).
Untuk mendapatkan sensasi emosional yang disebutkan di atas, (Tapioki Lokki,2020) menyimpulkan Parameter Kualitas Akustik yang menentukan adalah sensasi emosional adalah:
Reverberation Time atau waktu dengung adalah waktu yang diperlukan sebuah sumber suara meluruh. Waktu dengung yang panjang memberikan persepsi Akustik Ruang yang hidup dan sebaliknya waktu dengung yang pendek memberikan kesan Akustik Ruang yang Mati. Tabel berikut adalah waktu dengung yang ideal menurut (Kinsler,1999).
BASS RATIO WAKTU DENGUNG. Jika karakter pantulan suara dan waktu dengung dominan di frekuensi tinggi maka suara terdengar kering dan cempreng, akan tetapi jika yang terjadi sebaliknya suara musik akan terdengar gelap dan berat. Bass ratio yang disarankan untuk sebuah konser hall adalah Bass Ratio di atas 1.
Loudness adalah tingkat kekerasan suara yang terdengar di posisi tertentu. Loudness yang terdengar adalah penjumlahan tekanan suara langsung dan tekanan suara yang terdengar setelahnya. Apabila perbandingan suara musik yang terdengar langsung dibanding suara setelahnya lebih besar memberikan persepsi suara musik yang detail, dan sebaliknya apabila suara langsung lebih kecil maka suara terdengar lebih berbaur.
Envelopment adalah kesan audiens yang mendengar suara langsung dan beberapa suara pantulan yang datang dari beragam arah dengan waktu yang berbeda yang disebabkan karena pantulan dinding kiri-kanan, depan-belakang dan ceiling.
Kursi penonton dengan sandaran kayu, selain tidak nyaman juga menyebabkan waktu dengung konser hall yang tidak konsisten
Aula Simfonia Jakarta memiliki ukuran yang tidak terlalu besar untuk sebuah ruang konser, dan berbentuk kotak. Pada level bawah terdapat panggung dengan ukuran relatif kecil dan kursi penonton VIP berbahan kayu berundak landai dikelilingi dinding bernuansa kayu (L1). Pada level balkon (L2) terdiri dari kursi dengan konfigurasi vineyard (kebun anggur) yang berundak lebih curam dan dikeliling oleh dinding bernuansa kayu. Setelah itu ada dinding yang dihiasi oleh art work berupa muka komposer dan patung pemain alat musik (L3). Terakhir adalah drop ceiling berwarna putih.
Dari pengalaman saya beberapa kali mendengar pertunjukan musik di Ruang Konser Aula Simfonia Jakarta saya menilai Karakteristik Akustik Aula Simfonia Jakarta, cenderung Kering dan Cempreng dimana saya merasa karakter suara musik terdengar kurang memiliki bobot karena kurangnya envelopment frekuensi rendah, Kaku dan Getas karena saya merasakan attack suara alat musik yang keras tanpa suara decay yang berimbang.
Selain itu Karakteristik waktu dengung yang tidak konsisten yang disebabkan oleh pantulan kursi berbahan kayu. Jadi di saat ruangan kosong ruangan akan terasa lebih “hidup” karena kursi yang kosong memantulkan suara.. Akan tetapi di saat ruangan penuh terisi orang akan terasa “mati” karena suara musik terserap oleh pakaian dan tubuh audiens.
Berikut adalah sampel suara yang saya rekam menggunakan Iphone 14 di posisi duduk mezannine sebelah kiri pada acara George Harliono - Symphony for Life .
Terlepas dari Kualitas Akustik, kursi dengan sandaran kayu membuat tampilan Ruang Konser yang harusnya memberikan kesan “berkelas” menjadi terkesan “murah”. Selain itu kursi ini juga kurang nyaman diduduki untuk menikmati musik untuk durasi yang cukup panjang.
2. Kualitas Visual
Walau lebih banyak studi dan penelitian yang berusaha memahami Kualitas Akustik apa saja yang mempengaruhi kriteria bagus dan jelek, tapi menurut penelitian yang dilakukan oleh (Satoshi Kawase, 2013) terhadap pertunjukan musik maupun non musik, Kualitas Visual adalah faktor pertama yang dipertimbangkan saat audiens memilh posisi tempat duduk.
Faktor pemilihan lokasi tempat duduk menentukan Kualitas Visual yang terdiri dari 3 faktor: (1) Jarak Pandang ke Panggung (2) Sudut Pandang terhadap Panggung dan (3) Sightline (garis pandang yang tidak terhalang) ke Panggung dan Backdrop Panggung.
Sightline yang baik membuat penonton dapat melihat keseluruhan area panggung tanpa adanya halangan kepala orang atau elemen arsitektur. C-value adalah metode yang dapat dipakai untuk memastikan setiap tempat duduk dapat melihat area panggung 100%.
Sepertinya pada saat mendesain Ruang Konser dengan konfigurasi kebun anggur (vineyard), tidak dilakukan perhitungan sightline sehingga menyebabkan banyak kursi yang pandangan ke panggung terhalang oleh penonton di depannya atau terhalang dengan elemen arsitektural.
Kotak merah memperlihatkan area panggung yang terganggu oleh kepala penonton, tembok mezzannine dan railing tangga.
Gambar di atas memperlihatkan area panggung yang terhalang oleh tembok, rail tangga dan kepala penonton di depan sehingga area panggung yang bisa terlihat dengan jelas berkurang 40%. Tempat duduk yang berada di belakang panggung juga tidak dapat melihat panggung 100% karena penampil yang terlalu menempel ke dinding belakang panggung.
Kesimpulan
Walau Aula Simfonia Jakarta saat ini merupakan salah satu Ruang Konser yang dianggap baik untuk konser musik klasik di Indonesia oleh sebagian besar pecinta konser musik klasik. Akan tetapi menurut penilaian subjektif saya Aula Simfonia Jakarta belum pantas untuk diberikan predikat Ruang Konser Yang Baik, apalagi diberikan predikat “Terbaik di Asia”.
Tulisan yang tidak bertanggung jawab ini membuat saya jadi teringat cerita Seorang Katak yang merasa dirinya dapat menjadi sebesar seekor Kerbau.
Referensi
"Indonesia Sudah Memiliki Concert Hall Terbaik di Asia” https://www.kompasiana.com/josephisme/5500e28ea333115b7351226b/indonesia-sudah-memiliki-concert-hall-terbaik-di-asia
Aula Symphonia Jakarta https://id.wikipedia.org/wiki/Aula_Simfonia_Jakarta#:~:text=Aula%20Simfonia%20Jakarta%20adalah%20balai,%2C%20perpustakaan%2C%20dan%20sekolah%20teologi.
Roose, H. (2008). “Many-voiced or unisono? An inquiry into motives for attendance and aesthetic dispositions of the audience attending classical concerts,” Acta Sociol. 51(3), 237–253.
Sloboda, J. A. (1991). “Music structure and emotional response: Some empirical findings,” Psychol. Music 19(2), 110–120.
Lokki, T., McLeod, L. & Kuusinen, A. Perception of loudness and envelopment for different orchestral dynamics. J. Acoust. Soc. Am. 148, 2137–2145 (2020).
Kinsler, L.E.; Frey, A.R.; Coppens, A.B.; Sanders, J.V. Fundamentals of Acoustics (Physics), 4th ed.; Wiley: Hoboken, NJ, USA, 1999;ISBN 978-0-471-84789-2.
Satoshi Kawase, Factors influencing audience seat selection in a concert hall: A comparison between music majors and nonmusic majors, Journal of Environmental Psychology, Volume 36, 2013, Pages 305-315, ISSN 0272-4944.
Menyaksikan Konser George Harliono berjudul Symphony for Life
A Listening Note Symphony for Life: George Harliono, Iswargia Sudarno and Jakarta Sinfonietta at Aula Simfonia Jakarta 26 November 2022
Catatan kesan dan pengalaman saya saat menyaksikan Konser George Harliono yang diiringi oleh Jakarta Sinfonietta Orkestra yang dipimpin oleh Iswargia Sudarno pada tanggal 26 November 2022 di Aula Simfonia Jakarta
Minggu tanggal 26 November 2024 saya mendapatkan tiket dari kawan saya Amin Tamin untuk menyaksikan penampilan George Harliono bersama dengan Jakarta Sinfonietta dengan konduktor Iswargia R. Sudarno di Aula Simfonia Jakarta
Konser dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama Sinfonietta Orchestra dengan conductor Iswargia Sudarno, dan bagian ke dua Pianis George Harliono diiringi oleh Sinfonietta Orchestra dengan conductor Iswargia Sudarno juga.
Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI) memperkenalkan program Humanity in Harmony sebagai Penyelengara Acara Konser yang bertajuk Symphony for Life. Keuntungan dari penyelenggaraan acara ini akan digunakan untuk membangun Rumah Paliatif, sebuah akomodasi dan fasilitas bagi anak pejuang kanker.
Saya berdoa semoga dana yang terkumpul dapat meringankan anak-anak penderita kanker di Indonesia. Dan Yayasan Kanker Anak Indonesia dapat terus berkarya di masa mendatang.
Berikut adalah rekaman suara dari konser tersebut
Mendengarkan Akustik Blue Rose Suntory Recital Hall melalui Cello Masterclass Antonio Meneses
Sebagian orang datang ke Blue Rose Suntory Recital Hall untuk belajar dari seorang maestro cello. Saya datang dengan tujuan yang sedikit berbeda: mendengarkan bagaimana ruang itu sendiri bekerja.
Dalam Cello Masterclass Antonio Meneses, setiap gesekan bow, perubahan dinamika, hingga jeda di antara frasa musik menjadi kesempatan untuk mengamati karakter akustik sebuah recital hall yang dirancang untuk menghadirkan komunikasi musikal secara intim dan alami.
Dari perspektif seorang konsultan akustik dan fisika bangunan, pengalaman ini bukan sekadar tentang kualitas permainan musik, tetapi juga tentang bagaimana geometri ruang, material, serta distribusi pantulan suara memungkinkan setiap detail terdengar dengan kejernihan dan keseimbangan yang luar biasa.
Artikel ini merupakan catatan observasi mengenai hubungan antara desain akustik, arsitektur, dan pengalaman manusia dalam menikmati pertunjukan musik klasik.
13 November 2022
Arsitektural Akustik
Berikut adalah Rekaman Audio yang memperdengarkan karakteristik Akustik Recital Suntory Hall Tokyo
Desain Arsitektural Lighting and Daylighting Airport Haneda Tokyo
Tokyo Haneda Airport. Integrating Daylighting from Skylight and High Windows through Double Glazing Thermal Insulation and Low Energy LED Lighting to create an Exciting Atmosphere and Reducing Carbon Footprint.
Integrating Daylighting from Skylight and High Windows through Double Glazing Thermal Insulation and Low Energy LED Lighting to create an Exciting Atmosphere and Reducing Carbon Footprint.
Mengunjungi Menara Broadcast Tertinggi di Dunia Skytree Observation Deck Tokyo
How Sun & Cloud Create Lights and Shadows upon the Tokyo Cityscape - A View from Tokyo Skytree - Tokyo Skytree became the tallest structure in Japan in 2010 and reached its full height of 634 meters (2,080 ft) in March 2011. The highlight of the Tokyo Skytree is its two observation decks which offer spectacular views out over Tokyo.
World Tallest Broadcasting Tower
Mengamati Arsitektur dan Artefak Sejarah di Phnom Penh Museum Nasional Kamboja
Phnom Penh
Fotografi Arsitektur - Mei 2023
Melihat Sejarah Kelam Pembunuhan Masal di Museum Tuol Sleng Phnom Pehn
“The only real prison is fear, and the only real freedom is freedom from fear. ”
Mengamati Arsitektur Sederhana Katedral Santo Florin Vaduz
Fotografi Arsitektur - Oktober 2022Mengamati Kehidupan Arsitektur dan Lingkungan Alam Vaduz Liechtenstein
Fotografi Pemandangan Kota - Oktober 2022
Mengamati Arsitektur Gedung Bersejarah Katedral Bamberg
Fotografi Arsitektur - Oktober 2022Mengamati Bagaimana Rotherburg Menjaga Keaslian Kota Abad Pertengahan
Kota Romantis - Oktober 2022Suasana Romantis
Konzerthaus Berlin masuk ke dalam lima gedung konser terbaik di dunia
Konzerthaus Berlin yang awalnya bernama Schauspielhaus Berlin adalah sebuah Theater yang dirancang oleh Carl Gotthard Langhans diresmikan 1 Januari 1802. Setelah mengalami kerusakan akibat bom oleh tentara sekutu, pada tahun 1977 gedung ini direnovasi dan dibuka kembali menjadi rumah bagi Berliner Sinfonie-Orchester dan diberi nama Konzertahaus Berlin.
Berdasarkan survey pada tahun (1996, 2004) yang dilakukan oleh Beranek yang melibatkan musisi, konduktor dan pendengar yang berpengalaman Konzerthaus Berlin menempati ranking ke empat dari lima konzerthaus terbaik di dunia dengan urutan sebagai berikut: Vienna Grosser Musikvereinssaal, Boston Symphony Hall, Buenos Aires Teatro Colon, Berlin Konzerthaus , dan Amsterdam Concertgebouw.
Source: Wikipedia, Marshall Long Acoustics, Acoustics Today
#acoustics #music #concert #concerthall #theater#classicalmusic #historic #architecture #berlin #berlinmusic#travel #travelphotography
Mengamati Kehidupan Arsitektur dan Iklim Kota Berlin
Fotografi Arsitektur dan Pemandangan Kota - Oktober 2022